MODIFIKASI SENI JEMBLUNG

Oleh:Darni
Kata Kunci: sosio budaya, reog, Islami

Abstrak
Modifikasi yang dilakukan berkaitan dengan instrumen pengiring, penyanyi, tata panggung, kostum, iringan gerak, dan cerita. Ada penambahan-penambahan berkaitan dengan 6 hal tersebut. Penambahan disesuaikan dengan kondisi sosio budaya masyarakat Ponorogo yang Islami dan memiliki seni yang sangat popular yaitu seni reog. 
Instrumen pengiring gamelan Jawa perlu dilengkapi ditambah dengan instrumen campur sari yang sangat digandrungi masyarakat saat ini. Musik hadrah sebagai cirri khas Islam juga perlu ditambahkan. Namun, pantangan untuk tidak menggunakan gong suwukan juga harus dihargai. Waranggana yang sudah ada perlu ditambah penyanyi campur sari yang menguasai lagu-lagu Islami. Panjak perlu mengenakan kostum yang serasi. Panggung perlu diatur dan ditambah dengan pencahayaan sesuai dengan suasana pentas. Penambahan gerak pada dasarnya tidak melanggar prinsip yang dipegang dalang, yaitu tidak menambahkan gerak dalam cerita. Gerak tari reog bersifat selingan seperti halnya lagu-lagu campur sari, disajikan terlepas dari cerita. Tari reog diletakkan pada bagian tengah, berfungsi sebagai penarik perhatian penonton yang sudah lesu. 

Abstrac
The modification that is made is relating to music instrument, singer, stage setting, costumes, acting, and the plot story. There are some additions relating to those six (6) things. The addition is depending on the Islamic sociological culture of society in Ponorogo and the special and well-known dance art, Reog.
Music instrument of Java Gamelan needs to be completed and should be supported with Campur Sari instrument that is liked by society nowadays. The special Islamic music, Hadrah, is also important to be additional instrument. But, the prohibition of using Suwukan Gong must be obeyed and appreciated. The available Waranggono needs to be added with some singers of Campur Sari who master Islamic songs. Panjak should wear appropriate costumes. The stage should be set-up and be added with supporting light depends on the condition of the show. The additional acting is actually not disobeying the principle that the puppeteer held as long as there is no additional acting in the story plot. Dance movement of Reog is only an additional thing as well as Campur Sari songs, being performed out of the story plot. Reog dance is performed in the middle of the show, and it is functioned to attract the watchers’ attention that begins feeling tired in watching the show. 

A. Pendahuluan
Di tengah maraknya kemajuan teknologi informasi dan hiburan saat ini kesenian tradisional semakin tersisih. Seni Jemblung sebagai salah satu dari bentuk kesenian tradisional yang tidak luput dari kondisi tersebut, perlu penanganan serius dan segera, karena sebagai aset budaya bangsa seni Jemblung memiliki peran yang berarti bagi bangsa maupun bagi masyarakat pendukungnya. Sebagai salah satu kekayaan budaya daerah, seni Jemblung merupakan seni tradisional yang potensial di daerah aliran sungai Brantas Jawa Timur yang bila dikemas dengan cantik bisa merupakan aset pariwisata yang handal. Seni Jemblung juga memiliki peran yang sangat besar dalam rangka kontrol sosial dan dakwah bagi masyarakat pendukungnya di era kecanggihan teknologi dan pengikisan nilai-nilai moral, di samping fungsinya sebagai hiburan.
Seperti nasib sebagian besar kesenian tradisional yang lain, seni jemblung juga mengalami nasib yang memprihatinkan. Kalau dahulu masih ada tukang kentrung maupun jemblung yang ngamen, maka sekarang tidak lagi. Panggilan tanggapan pun sudah jarang. Hal ini berkaitan erat dengan proses kemelekhurufan bangsa kita dan kemajuan media elektronik. Seiring dengan berkurangnya jumlah penduduk yang buta huruf, dan bertambahnya jumlah penduduk yang melek huruf, maka tradisi lisan pun semakin ditinggalkan oleh pendukungnya. Di samping itu, media elektronik, seperti radio dan televisi, yang memberikan hiburan dan informasi secara mudah dan murah, sudah dapat dinikmati oleh penduduk yang terpencil, jauh dari kota. 
Seni Jemblung menampilkan cerita-cerita Islam yang dilantunkan dan dibumbui dengan berbagai kritik yang membangun kehidupan beragama dan bermasyarakat bagi pendukungnya. Mengingat fungsi seni Jemblung yang sangat komunikatif dan memperkokoh landasan moral bangsa tersebut, kiranya seni Jemblung harus tetap hidup. Salah satu cara untuk menghidupkannya kembali adalah melalui modifikasi. Seni Jemblung harus dimodifikasi, ditemukan bentuk baru, dengan tidak menghilangkan sarana hiburan yang segar dan sehat, di samping fungsi utamanya yakni sarana dakwah agama Islam.
Pada penelitian ini akan dicoba modifikasi terhadap seni Jemblung yang hidup di wilayah Ponorogo. Ponorogo merupakan daerah santri. Di sana berdiri beberapa pondok pesantren, seperti pondok pesantren Gontor dan Ngabar, dua ponpes besar di Jawa Timur. Di sisi lain, di Ponorogo juga memiliki kekhasan budaya berupa reog Ponorogo dan unsur-unsur budaya terkait seperti gemblak dan jathilan. Dalam penelitian ini akan ditemukan prototipe bentuk modifikasi yang tidak meninggalkan latar budaya dan agama yang berkembang di Ponorogo. Justru latar budaya dan agama tersebut akan memperkuat eksistensi seni Jemblung dan memberikan warna yang khas. Hasil prototipe modifikasi yang berhasil disusun selanjutnya akan dikomunikasikan kepada kelompok-kelompok seni Jemblung yang hidup di Ponorogo. 

B. Kajian Pustaka 
1. Identitas dan Keberadaan Seni Jemblung
Di Jawa Timur seni Jemblung hidup di sepanjang aliran sungai Brantas, yaitu Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Kediri, dan Nganjuk. Daerah-daerah ini oleh Koentharaningrat disebut daerah Mancanegari Barat (1984:30), yaitu daerah-daerah di sekitar Madiun.
Seni Jemblung mempunyai kemiripan dengan seni Kentrung, keduanya memakai rebana sebagai alat utama. Seni Jemblung menggunakan instrumen berupa terbang yang berukuran besar, sehingga kalau dipukul berbunyi blung..., blung... Sedangkan seni kentrung menggunakan instrumen yang berukuran kecil, sehingga kalau dipukul menghasilkan bunyi trung... trung... (lihat Hutomo, 1987:13; Darni, 1989:15). Namun keduanya memiliki banyak perbedaan. Keduanya hidup di daerah-daerah yang berjauhan. Seni Jemblung hidup di sepanjang aliran sungai Brantas. Sedangkan Kentrung hidup di pesisir utara. Jemblung memiliki alat pengiring yang lebih bervariasi dibanding dengan seni kentrung. Menurut hasil penelitian Hutomo (1987), seni kentrung menggunakan alat bantu pengiring cerita berupa terbang. Sedangkan seni Jemblung menurut beberapa penelitian, menggunakan alat bantu pengiring cerita lebih kompleks, seperti beberapa bagian gamelan Jawa, waranggana dan wiraswara (Darni, 1989). Bahkan ada yang menggunakan alat bantu berupa beberapa boneka wayang dari kayu maupun kulit (Wahyuni, 1997). Di daerah sepanjang aliran sungai Brantas, nama Jemblung merupakan nama yang lazim dipakai. 
Bentuk pertunjukkan seni Jemblung Jawa Timur berbeda dengan wayang Jemblung yang ada di Jawa Tengah. Di Jawa Timur seni Jemblung merupakan seni bercerita yang dibawakan oleh seorang tukang cerita. Dalam bercerita, tukang cerita atau dhalang seni Jemblung menabuh terbang dibantu dibantu oleh beberapa orang panjak (penabuh gamelan) yang menabuh alat-alat musik Jawa seperti kenong, kethuk, dan kendhang. Kadang-kadang tukang cerita juga memainkan beberapa boneka wayang (dari kulit atau kayu). Sedangkan di Jawa Tengah lazim disebut wayang Jemblung yang memiliki bentuk pertunjukkan yang jauh berbeda dengan seni Jemblung di Jawa Timur. Menurut Hutomo (1998:111-13), selain sumber cerita yang berbeda, yaitu berasal dari cerita babad, perbedaan juga terletak pada instrumen pengiring dan model pertunjukkan.
Seni Jemblung dapat dimasukkan ke dalam bidang kajian folklor, yaitu folklor sebagian lisan. Seni Jemblung memiliki ciri-ciri seperti yang dimiliki oleh folklor. Ciri- ciri tersebut menurut Danandjaja adalah: penyebaran dan pewarisannya dilakukan secara lisan; bersifat tradisional; folklor ada dalam bentuk varian-varian yang berbeda; folklor bersifat anonim; biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola; mempunyai kegunaan dalam kehidupan bersama suatu kolektif; bersifat pralogis; menjadi milik bersama dari kolektif tertentu; bersifat polos dan lugu (1984:3-4). Lebih khusus, Hutomo (1991:65) mengelompokkan seni Jemblung ke dalam genre sastra lisan, yaitu sastra lisan setengah lisan. Dikatakan sastra lisan setengah lisan, karena dalam bertutur tukang cerita diiringi oleh beberapa alat musik Jawa dan ada pula yang diikuti gerak boneka wayang. 
Seni Jemblung dalam penelitian ini tidak hanya dikaji unsur sastra lisannya saja. Seni Jemblung dipandang sebagai bentuk kesenian tradisional yang utuh. Sebagai kesenian tradisional yang utuh seni Jemblung memiliki cerita (jenis cerita, asal cerita, bahasa cerita), gerak dan boneka yang mengiringi cerita, alat musik dan penabuh yang mengiringi cerita, lagu-lagu Jawa dan penyanyi yang mengiringi cerita, dan masyarakat pendukung.
Seni pertunjukkan Jawa di pedesaan telah mengalami kemunduran sejak beberapa dasa warsa yang lalu. Menurut pengamatan Soedarsono hal seperti itu tidak hanya terjadi di Indonesia saja, Negara-negara Barat pun mengalami hal yang sama. Penyebabnya adalah berlangsungnya modernisasi (1986:83). Demikian pula yang terjadi pada seni Jemblung. Kalau dahulu masih ada Jemblung yang ngamen, maka sekarang tidak lagi. Panggilan tanggapan pun sudah jarang. Hal tersebut berkaitan erat dengan proses kemelekhurufan bangsa kita dan kemajuan media elektronik. Seiring dengan berkurangnya jumlah penduduk yang buta huruf, dan bertambahnya jumlah penduduk yang melek huruf, maka tradisi lisan pun semakin ditinggalkan oleh pendukungnya. Di samping itu, media elektronik, seperti radio dan televisi, yang memberikan hiburan dan informasi secara mudah dan murah, sudah dapat dinikmati oleh penduduk yang terpencil, jauh dari kota. Seiring dengan kemajuan zaman dan meningkatnya taraf kehidupan masyarakat, keperluan ritual pun menuntut pementasan kesenian yang berbobot. Keadaan seni Jemblung ini akan diuraikan lebih jelas pada bagian 5.5.
2. Pendukung Aktif dan Pendukung Pasif Seni Jemblung
Suatu kebudayaan mempunyai kelompok pendukung. Menurut konsep Von Sydow (1948), di dalam kebudayaan suatu bangsa ada yang dinamakan active bearers of tradistion dan pasive bearers tradition, artinya pemikul kebudayaan yang aktif dan pemikul kebudayaan yang pasif. Pemikul kebudayaan yang aktif adalah orang-orang yang aktif menerima dan mengembangkan warisan budaya, sedangkan penikul kebudayaan yang pasif adalah orang-orang yang pasif menerima warisan budaya (Hutomo, 1987:11; 1998:32).
Dhalang Jemblung atau tukang Kentrung sebagai pendukung kebudayaan yang aktif sangat besar perannya dalam upaya pelestarian seni Jemblung atau seni kentrung. Di tangan mereka seni tersebut akan tetap hidup. Di samping berperan sebagai pelestari, mereka juga berperan sebagai pengembang dan pembaharu atau kritikus, seperti yang dikemukakan oleh Hardjana, bahwa sastra lisan memiliki tradisi kritik yang berbeda dengan sastra tulis (1994 :11). Dalam seni Jemblung, tukang cerita berperan ganda, sebagai pencerita dan sebagai kritikus, karena berkat kreativitasnya seni Jemblung dapat berkembang mengikuti perkembangan jaman. Oleh karena itu, dalam modifikasi ini peran tukang cerita sangat besar, di samping merupakan tulang punggung perkumpulan, tukang cerita meliliki wibawa dan pengaruh yang besar kepada para pembantunya. 
Masyarakat pendukung, kolektif pemilik seni Jemblung, sebagai pendukung pasif, juga memiliki peran dalam mempertahankan kelangsungan seni tersebut. Hidup matinya seni Jemblung tidak hanya bergantung kepada pendukung aktif, melainkan juga kepada pendukung pasif. Apabila seni Jemblung ditinggalkan pendukungnya, maka kesenian itu pun lambat laun akan punah, karena tidak ada penonton dan penanggap. Di pihak lain penutur ingin menyampaikan dakwah dan pesan moral maupun budi pekerti. 
Seperti telah dikemukakan pada bagian terdahulu, bahwa dalam penelitian ini, baik penutur sebagai pendukung aktif dan masyarakat atau kolektif pemilik seni Jemblung, keduanya mendapat perhatian. Hal tersebut dimaksudkan agar modifikasi yang dihasilkan sesuai dengan keinginan kolektif masyarakat pemiliknya.
3. Fungsi Seni Jemblung bagi Pendukungnya
Pada bagian terdahulu telah disinggung bahwa folklor memiliki kegunaan atau fungsi bagi pendukungnya. Menurut Danandjaya (1984:4) folklor, termasuk seni Jemblung, memiliki fungsi sebagai alat pendidikan, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam. 
Lebih rinci menurut Hutomo (1991:69-74), sastra lisan, termasuk seni Jemblung di dalamnya, memiliki tujuh fungsi, yaitu: (1) sebagai sistem proyeksi; (2) sebagai pengesahan kebudayaan; (3) sebagai alat pemaksa berlakunya norma-norma sosial dan sebagai alat pengendali sosial; (4) sebagai alat pendidikan anak; (5) untuk memberikan suatu jalan yang dibenarkan oleh masyarakat agar dia lebih superior dari pada yang lain; (6) untuk memberikan jalan yang dibenarkan masyarakat agar dapat mencela orang lain; dan (7) sebagai sarana protes sosial.
Daerah Ponorogo merupakan daerah agamis. Di daerah tersebut berdiri banyak pesantren, tempat menimba ilmu agama Islam. Salah satu pondok yang tersohor adalah pondok Gontor. Berkaitan dengan kondisi daerah seperti itu seni Jemblung memiliki peran yang besar dalam menjalankan fungsi-fungsi tersebut di atas maupun sebagai sarana hiburan maupun sarana ritual masyarakatnya. 
4. Modifikasi sebagai Upaya Membangkitkan Seni Jemblung dari Kemunduran
Modifikasi berasal dari kata modification yang berarti pengubahan (Salim, 1991; Siregar, 1990; Webster, 1993). Modifikasi yang akan dilakukan ini memang merupakan suatu usaha untuk melakukan perubahan. Cara tersebut tidak bertentangan dengan ciri-ciri yang dimiliki folklor, yaitu exis dalam versi-versi. 
Berkaitan dengan ciri tersebut, perubahan yang akan dilakukan terhadap pementasan seni Jemblung di Ponorogo ini tidak akan menyimpang dari bentuk intinya. Misalnya, tidak akan dilakukan perubahan terhadap bahasa yang digunakan. Bahasa tetap menggunakan bahasa Jawa. Bahasa Jawa justru dipertahankan, karena merupakan ciri yang memberikan kekhasan seni Jemblung. Perubahan akan dilakukan pada aspek keindahan bahasanya. Berkaitan dengan cerita, yang perlu ditambah adalah perbendaharaan cerita yang dimiliki dan kelengkapan serta kejelasan cerita. Gerak yang mengiringi cerita juga harus diperhatikan. Meskipun cerita merupakan unsur pokok, namun gerak juga merupakan unsur yang memberikan daya tarik pertunjukkan. Perlu dipikirkan adanya penyempurnaan gerak dan penambahan gerak. Berikutnya adalah alat musik pengiring. Perlu dipikirkan adanya penambahan alat musik pengiring yang dipakai yang diperkirakan akan merupakan daya tarik yang maksimal. Di samping penambahan alat musik juga harus dipikirkan mengenai penyempurnaan dan pemaksimalan pemakaiannya. Perlu dipikirkan pula adanya penambahan mengenai lagu-lagu atau syair-syair yang mengiringi pertunjukkan. Lagu-lagu Jawa yang bagus juga merupakan salah satu daya tarik yang berarti. Tidak kalah pentingnya mengenai pencahayaan. Perlu dipikirkan mengenai pencahayaan yang dapat memberikan daya tarik pementasan cerita. Yang terakhir adalah pemikiran tentang prosesi ritual, karena seorang tukang cerita dalam memenuhi permintaan yang berkaitan dengan upacara ritual juga merupakan pelaku upacara ritual yang diminta penanggap. Oleh karena itu pelaksanaan upacara ritual yang betul harus terpenuhi. 

C. Pembahasan 
1. Faktor Penyebab Kemunduran Seni Jemblung di Ponorogo
Seperti yang telah diuraikan pada bagian terdahulu bahwa seni jemblung sebagai salah satu bentuk seni tradisional disebarkan dari mulut ke mulut. Dengan sifat itu seni tradisional termasuk seni jemblung keberadaannya sangat diperlukan bagi masyarakat yang masih belum melek huruf. Berkaitan dengan itu, seni jemblung begitu pula seni jemblung semakin surut pamornya seiring dengan kemelekhurufan masyarakat Jawa. 
Faktor kedua penyebab kemunduran seni jemblung berkaiatan dengan kemajuan yang pesat dunia elektronika. Pesatnya kemajuan ekeltronika memicu berkembang pesatnya media informasi. Sebagai kesenian milik masyarakat seni jemblung memiliki fungsi sebagai media hiburan dan penyebar informasi terutama sebagai sarana dakwah agama yaitu dakwah agama Islam. Di jaman berkembang pesatnya media informasi seperti TV, VCD, dan lain-lain, menyebabkan fungsi seni jemblun sebagai media hiburan menjadi berkurang. Media-media elektronik tersebut telah memberikan hiburan murah, menarik, dan mudah diperoleh. Demikian pula dakwah agama secara mudah pula dapat diperoleh melalui media elektronik sewaktu-waktu. 
Faktor ketiga berkaitan dengan bergesernya pola piker masyarakat mengenai tradisi ruwat bagi masyarakat Jawa. Ruwat yang semula dilakukan secara sakral dan individual dengan pagelaran seni, sekarang sudah banyak dilaksanakan ruwatan masal. Di sisi lain, sebagian masyarakat Jawa di Ponorogo seperti di desa Tonatan, menurut Jayadi (wawancara tanggal 10 Juni 2006) berkembang perkumpulan Yasinan laki-laki maupun perempuan. Masyarakat memiliki kecenderungan menolak balak dengan do’a Yasin tahlil yang dibacakan secara bersama-sama. Bahkan mereka secara rutin mengadakan pertemuan untuk menyelenggarakan kegiatan pembacaan surat Yasin dan tahlil. 
Faktor keempat yang memicu kemunduran seni jemblung adalah kelesuan ekonomi Indonesia sejak era reformasi. Hal tersebut juga dikemukakan oleh tokoh masyarakat desa Setono bernama Sarmani. Seni jemblung sebenarnya tidak mengalami kemunduran, hanya faktor kelesuan ekonomilah yang membuat seni jemblung juga lesu seperti sekarang ini (wawancara 10 Juni 2006). Beliau yakin bahwa seni jemblung tidak akan punah dari desa Setono sebagai cikal bakal seni jemblung di Ponorogo. Masyarakat Setono masih sangat menghormati keberadaan seni jemblung di desanya. Beliau juga mengakui bahwa kesenian jemblung perlu mendapatkan perhatian dari pihak penguasa di daerah yang bersangkutan, seperti kepala desa Setono misalnya. Pergantian status desa Setono menjadi kelurahan juga yang menyebabkan kepala desa tidak lagi asli masyarakat Setono menyebabkan kurangnya perhatian kepala desa kepada perkembangan seni jemblung. Kepala Desa yang bukan asli masyarakat Setono ini tidak lagi mengadakan pertunjukkan, khususnya seni Jemblung di hari peringatan Kemerdekaan RI misalnya. 

2. Modifikasi Seni Jemblung Katong Setono
Pada dasarnya modifikasi terhadap seni jemblung didukung oleh berbagai pihak. Berbagai pihak yang dimintai pendapat untuk mendukung ide modifikasi antara lain adalah dalang Mohammad Yusup sendiri, tokoh seni Reog tersohor di Ponorogo bernama Kusni Gunapati, dan tokoh masyarakat. 
Ketiga unsur masyarakat yang merupakan pendukung aktif dan pendukung pasif seni jemblung mendukung adanya modifikasi terhadap seni jemblung di Ponorogo, khususnya seni jemblung Katong Setono. Dalang Mohammad Yusup sebagai pendukung aktif seni jemblung Katong Setono menerima dengan senang hati terhadap ide modifikasi terhadap perkumpulan seni jemblung yang dipimpinnya. Beliau sebagai dalang juga telah berusaha mengikuti perkembangan seni di lingkungannya. Beliau pernah mengadakan pertunjukkan bersama dengan seni hadrah atau rebana. Dalang Muhammad Yusup juga mendukung apabila pementasan seni jemblung disemarakkan atau digabung dengan bentuk seni lain yang sedang digemari di wilayah Ponorogo, seperti seni reog misalnya. Menurut Mohammad Yusup, seni reog dan seni jemblung menurut legenda babad Ponorogo merupakan dua buah kesenian yang tidak saling berlawanan, justru berasal dari satu cerita legenda. Seni reog dan jemblung berasal dari cerita tentang terkalahkannya seekor harimau kumbang oleh R. Katong. Harimau tersebut setelah berhasil dikalahkan kepalanya dipotong kemudian dipanggul di atas kepala atau disunggi putar kampong hingga terasa riyeg-riyeg. Karena itu kesenian tersebut dinamakan reog. Setelah kepalanya dipotong, harimau kumbang tersebut diambil kulitnya, dijemur, dibentangkan di pohon kemudian dipukul suaranya ngumbang blung….. blung…. blung…… Oleh karena itu kesenian yang dihasilkan disebut seni jemblung. Jadi seni jemblung dan seni reog berasal dari cerita yang sama dan tidak ada salahnya apabila seni reog menyumbang untuk kelestarian seni jemblung. 
Tokoh reog kharismatis di Ponorogo yang berdomisili di Kauman, bernama Kusni Gunapati, juga sangat mendukung ide modifikasi terhadap seni jemblung. Beliau mengakui bahwa seni reog dan seni jemblung meskipun keduanya memiliki perbedaan dalam hal isi dan misi yang diemban, namun keduanya dapat disatukan. Seni jemblung mempunyai misi dakwah agama Islam dan berfungsi sebagai sarana ruwatan. Sedangkan seni reog marupakan seni hiburan yang cenderung bernuansa kejawen (wawancara tanggal 10 Juni 2006). 
Meskipun kedua seni tersebut memiliki ciri yang berbeda satu sama lain, menurut tokoh reog Kusni Gunapati, keduanya dapat disatukan. Islam dan reog merupakan cirri khas religi dan budaya masyarakat Ponorogo. Islam sangat berkembang dengan subur di Ponorogo dengan didukung adanya pondok pesantren yang bertaraf internasional seperti pondok Gontor. Sedangkan kesenian Reog juga merupakan kesenian yang dikenal oleh dunia internasional. Perkumpulan Kesenian Reog yang dipimpin Ki Kusni Gunapati sering mengikuti festifal seni di Jakarta, bahkan ke luar negeri. Sebaliknya, reog telah dibawa ke luar Ponorogo oleh pendukungnya dan pada peringatan Grebeg Sura mereka datang ke Ponorogo untuk mengikuti Festifal Reog. 
Menurut Kusni Gunapati (wawancara tanggal 10 Juni 2006), modifikasi seni jemblung dengan penambahan reog di dalamnya harus dilakukan dengan cermat. Modifikasi jangan sampai menghilangkan ciri khas seni jemblung sebagai seni yang bernafas Islam. Tidak hanya unsur tari reog yang riang gembira saja yang bisa dimasukkan dalam pentas jemblung. Nilai-nilai luhur kejawaan yang diemban oleh reog bisa disiarkan kepada masyarakat untuk lebih dikenal di amalkan. Antara nilai-nilai Islam dan nilai-nilai luhur yang dijunjung orang Jawa tidak berlawanan. Reog sebagai bentuk budaya khas Ponorogo tampaknya tepat untuk membangkitkan kembali seni jemblung di Ponorogo. 
Di samping seni reog, ada bentuk kesenian lain yang sedang digandrungi masyarakat saat ini yang harus diperhatikan dalam modifikasi seni jemblung. Bentuk kesenian yang dimaksud adalah kesenian campur sari. Seni seni Hadrah bukan merupakan jenis kesenian yang digandrungi saat ini, namun kesenian tersebut merupakan kesenian khas Islam. Oleh karena itu seni hadrah perlu diperhitungkan dalam modifikasi seni jemblung. Modifikasi terhadap seni jemblung yang berhasil disusun ini meliputi beberapa unsur pembangun dari dalam atau unsur instrinsik, yang meliputi instrumen pengiring, penyanyi, tata panggung, kostum, dan cerita yang dimiliki. Lima unsur tersebut akan diuraikan satu persatu seperti di bawah ini. 
1. Instrumen Pengiring 
Instrument pengiring yang dimiliki seni jemblung Katong Setono pimpinan dalang Mohammad Yusup seperti yang diuraikan pada bagian 4.1 tergolong masih sederhana. Untuk mencapai kualitas pementasan yang lebih baik instrument harus ditambah. Kalau semula instrument hanya merupakan sebagian peralatan gamelan Jawa, maka instrumen harus menggunakan seluruh instrumen gamelan Jawa. Namun, pantangan yang dipegang oleh masyarakat Setono untuk tidak memukul gong gedhe atau suwukan harus dihargai. Musik gamelan Jawa yang ditampilkan minus gong suwukan. Seni jemblung tetap dapat tampil dengan baik tanpa gong suwukan. Justru hal itu merupakan cirri khas dari seni jemblung Katong Setono. 
Instrumen pengiring juga dilengkapi dengan instrumen campur sari. Tidak banyak yang harus ditambahkan, seperti ketipung, organ, seruling, kecer, dan guitar. Untuk menyemarakkan pertunjukkan juga bisa ditambah drum. 
Untuk menampilkan tari-tarian reog instrumen pengiring perlu ditambah terompet. Instrumen lain sudah ada pada instrumen gamelan, seperti seruling, kethuk, kenong dan kendhang. 
Instrumen hadrah sangat berbeda dengan instrumen yang telah dibicarakan. Ciri khas instrumen hadrah terletak pada rebana atau terbang kecil dan satu terbang besar atau tamburin. Di samping terbang yang berjumlah agak banyak digunakan pula instrumen kecer. Kecer juga dibutuhkan lebih dari satu, untuk mendukung terciptanya irama musik yang lebih ceria. 
2. Penyanyi 
Jemblung Mohammad Yusup memang telah mempunyai paling sedikit dua orang vokalis atau penyanyi, yaitu satu orang penyanyi perempuan atau sindhen dan satu orang penyanyi laki-laki atau wiraswara. Sindhen merupakan orang di luar perkumpulan, bukan anggota tetap seni jemblung Katong Setono. Sindhen yang dibawa berganti-ganti, tergantung sindhen mana yang sedang tidak mendapat tanggapan. Sedangkan wiraswara marupakan anggota tetap seni jemblung Katong Setono. Fungsi wiraswara ini hanya membantu sindhen saja. Tetapi apabila tidak menggunakan sindhen, maka wiraswara menjadi penyanyi satu-satunya dalam pementasan tersebut. 
Penyanyi yang biasa disebut sindhen pada umumnya hanya membawakan lagu-lagu tradisional dan hanya duduk di tempatnya saja. Penyanyi perlu ditambah dengan penyanyi campur sari yang lebih menunjukkan gerak aktif. Penyanyi dapat bernyanyi dengan berdiri dan menari. Gerak tari akan lebih menyemarakkan pentas seni jemblung. Namun tarian yang mengikuti gerak penyanyi tersebut juga jangan sampai berlebihan dan melanggar norma kesopanan yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat Ponorogo. Tentu saja penyanyi campur sari yang tampil bersama seni jemblung berbeda dengan penyanyi campur sari yang memang menyanyi dalam acara kesenian campur sari. Penyanyi tidak bisa tampil secara bebas. Ada atas-batas norma agama Islam yang membatasi ekspresi penyanyi.
Penyanyi campur sari juga tidak dapat dipilih dengan sembarangan. Penyanyi campur sari yang dibutuhkan tidak hanya menguasai syair-syair lagu yang sedang popular saat ini, tetapi juga menguasai lagu-lagu khasidah dan shalawat yang merupakan ciri khas kesenian bernafas Islam. Lirik-lirik shalawat nabi saat ini juga sedang diminati masyarakat. 
Penyanyi merupakan unsur penting dalam menyemarakkan pertunjukkan jemblung. Penyanyi juga dapat dianggap sebagai aktor di atas panggug di samping sang dalang. Penyanyi justru menampilkan gerak yang menjadi pusat perhatian penonton. Menarik dan sopan atau tidaknya gerak dan lagu yang dibawakan penyanyi ikut menentukan keberhasilan pentas.
3. Tata Panggung
Tata panggung juga sangat menentukan keberhasilan sebuah pementasan. Selain aktor, panggung juga merupakan pusat perhatian penonton. Panggung yang tidak diatur akan memberikan kesan semrawut terhadap pementasan yang sedang berlangsung. 
Mohammad Yusup sebagai pimpinan rombongan seni jemblung Katong Setono memang sudah menata pementasannya sedemikian rupa. Dalam setiap pementasan dalang Yusup selalu duduk di tengah sambil bercerita dan membunyikan gedhog atau cempala. Sedangkan para panjak dan sindhen berkeliling setengah lingkaran di sebelah kanan, kiri, dan belakang dalang. 
Pencahayaan juga merupakan hal penting dalam tata panggung. Seni jemblung Katong Setono belum memikirkan adanya pencahayaan. Hal tersebut berkaitan dengan pendanaan yang sangat minim. Padahal, cerita akan lebih dapat dimaknai dan dinikmati dengan penuh perhatian apabila didukung dengan tata lampu atau pencahayaan yang cocok dengan suasana yang ditampilkan. Oleh karena itu perlu dipikirkan penambahan pencahayaan yang dapat menambah marak dan berhasilnya pementasan seni jemblung Katong Setono. Dengan bertambahnya instrumen, penyanyi, dan pencahayaan tata panggung harus diatur lebih bagus.

4. Kostum
Kostum yang dimaksud adalah pakaian yang dikenakan oleh para penabuh gamelan atau instrumen pengiring yang disebut panjak. Para panjak seni jemblung Katong Setono masih belum mengenakan pakaian seragam. Dikenakannya kostum akan menambah wibawa dan keindahan penampilan. Namun, waranggana dan wiraswara bisa mengenakan pakaian yang lebih bervariasi. Hal tersebut berkaiatan dengan system perekrutannya yang bersifat tidak tetap. 
Kostum juga harus dipilih sesuai dengan nuansa pertunjukkan dan usia para panjak. Nuansa keislaman mengarahkan pada pemilihan kostum yang lebih khusus. Kostum juga disesuaikan pula dengan kondisi sosio budaya Ponorogo. Tampaknya, baju model koko kurang sesuai dengan sosio budaya Ponorogo, meskipun model tersebut baju khas Islam. Baju atas berlengan panjang dan tertutup, dengan kerah sanghai dan peci hitam masih serasi dengan sosio budaya dan religi masyarakat Ponorogo. 
Sedangkan dalang telah memiliki penampilan yang bagus. Mohammad Yusup selalu mengenakan jas, bawahan kain panjang bermitif parang, menyengkelit sebuah keris, dan berpeci hitam. Dalang tuna netra ini tidak lupa mengenakan kaca mata hitam. Peci memberi nuansa Islami. Keris dan kain panjang mencerminkan busana Jawa yang khas. Mohammad Yusup juga selalu membawa tongkat kecil yang memiliki khasiat dan juga berfungsi sebagai penunjuk jalan.
Sebaiknya juga perlu disiapan kostum bagi anak yang diruwat. Anak yang diruwat yang disebut sebagai si sukerta, sebaiknya mengenakan kostum yang telah ditentukan oleh dalang. Dalam upacara ritual ngruwat kala dengan pentas wasyang kulit, pada umumnya para sukerta mengenakan busana Jawa. Bagi perempuan rambut tidak dikonde, justru dibiarkan tergerai. Namun, karena upacara ritual ini merupakan sinkritasi antara budaya Jawa dengan kesenian Islam, maka si sukerta bisa didandani layaknya kostum yang dikenakan para panjak dan bila si sukerta sudah berperadaban modern bisa diperkenankan memakai kostum sesuai dengan pilihan penanggap. Hal tersebut juga sesuai dengan pola piker dalang Mohammad Yusup yang bersifat luwes. Dalang Yusup tidak mengharuskan pemakaian kostum kepada para sukerta. Namun pemakaian kostum memang akan lebih menambah wibawa dan kesakralan sebuah upacara ruwatan yang sedang dilaksanakan. Menurut dalang Mohammad Yusup bagian terpenting dari upacara ruwatan terletak pada doa yang dilantunkan. 
5. Iringan Gerak 
Mohammad Yusup memegang hukum Islam yang dipahaminya, bahwa sebuah pertunjukkan Islam tidak boleh menampilkan peraga berupa orang maupun alat bantu seperti boneka yang menyerupai bentuk orang. Oleh karena itu seni jemblung Mohammad Yusup tidak menggunakan pembantu peraga meskipun hanya sebuah boneka wayang.
Berkaitan dengan itu, iringan gerak yang dimasukkan dalam modifikasi ini adalah bukan iringan gerak yang menyatu dengan cerita yang dibawakan oleh dalang. Iringan gerak ini terpisah dengan cerita. Iringan gerak yang ditambahkan hanya merupakan selingan, seperti halnya kedudukan lagu-lagu campursari yang diselipkan pada sela-sela cerita. 
Gerak yang dimaksuk adalah gerak tari reog seperti yang dimainkan oleh kesenian reog pimpinan Ki Kusni Gunapati. Tari reog yang dibawakan kelompok seni reog pimpinan Ki Kusni Gunapati sangat kompak dan riang gembira dengan iringan musik khas reog. Para penari menggunakan kostum layaknya pemain reog. Gerak tari reog yang disuguhkan tidak memakan waktu yang lama, sekitar 30 menit. Gerak tari tersebut berfungsi untuk menghilangkan kejenuhan penonton. Gengan gerak tari yang berirama riuh ceria, akan mengembalikan kelesuan penontonb. Oleh karena itu gerak tari reog sebaiknya diletakkan pada bagian tengah pertunjukkan. Hal tersebut mengingatkan kita pada kemunculan puna kawan dalam pertunjukkan wayang kulit yang penuh dengan humor.
6. Cerita 
Dalang Mohammad Yusup tergolong dalang jemblung yang banyak memiliki perbendaharaan cerita di banding dengan dalang jemblung lainnya (Suyono, 2002). Namun sebenarnya masih banyak cerita-cerita Menak yang bisa dipelajari. Cerita-cerita tersebut sudah diterbitkan oleh Balai Bahasa dalam bentuk buku setiap judul cerita, seperti Menak Jaminambar,Menak Lare dan lain-lain.
Bahasa yang digunakan dalang Yusup sudah merupakan bahasa Jawa yang bagus. Bahasa Jawa tersebut terasa komunikatif dengan diselingi beberapa kalimat bahasa Indonesia, misalnya berupa kalimat yang berisi kritik. Bahasa Jawa seperti itu harus tetap dipertahankan, untuk menjaga keaslian seni jemblung sebagai kesenian Jawa meskipun bernafas Islam.

D. Penutup
Menurut pengakuan dalang Yusup, memang saat ini tanggapan yang dilayani menurun. Hal tersebut terjadi sejak beberapa tahun yang lalu. Memang banyak faktor yang menyebabkan kemunduran seni jemblung. Faktor-faktor tersebut berkaitan dengan kemajuan teknologi informasi dan hiburan, kondisi ekonomi, dan bergesernya pola pikir masyarakat tentang tradisi ruwatan. Masyarakat jarang yang menyelenggarakan tradisi ruwatan yang diyakini sebagai sarana ritual penolak mara bahaya. Tumbuh kelompok-kelompok keagamaan yang menyelenggarakan yasin tahlil secara rutin untuk mengusir kekuatan jahat.
Jemblung pimpinan Mohammad Yusup yang tuna netra ini masih sederhana dalam pementasan. Perlu dilakukan modifikasi agar seni jemblung tetap eksis sebagai sarana hiburan, dakwah agama Islam, dan sarana ritual ruwat. Ide modifikasi ini didukung oleh dalang jemblung, tokoh seni, dan tokoh masyarakat. Mereka turut menyumbangkan ide untuk rancangan modifikasi terhadap seni jemblung Katong Setono. 
Modifikasi yang dilakukan berkaitan dengan instrumen pengiring, penyanyi, tata panggung, kostum, iringan gerak, dan cerita. Ada penambahan-penambahan berkaitan dengan 6 hal tersebut. Penambahan disesuaikan dengan kondisi sosio budaya masyarakat Ponorogo yang Islami dan memiliki seni yang sangat popular yaitu seni reog. 
Instrumen pengiring gamelan Jawa perlu dilengkapi ditambah dengan instrumen campur sari dan hadrah. Namun, pantangan untuk tidak menggunakan gong suwukan juga harus dihargai. Waranggana yang sudah ada perlu ditambah penyanyi campur sari yang menguasai lagu-lagu Islami. Panjak perlu mengenakan kostum yang serasi. Panggung perlu diatur dan ditambah dengan pencahayaan sesuai dengan suasana pentas. Penambahan gerak pada dasarnya tidak melanggar prinsip yang dipegang dalang, yaitu tidak menambahkan gerak dalam cerita. Gerak tari reog bersifat selingan seperti halnya lagu-lagu campur sari, disajikan terlepas dari cerita. Tari reog diletakkan pada bagian tengah, berfungsi sebagai penarik perhatian penonton yang sudah lesu. 

DAFTAR PUSTAKA

Danandjaja, James
1984 Folklor Indonesia: ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain. Jakarta: 
Grafitipers.
Darni
1989 "Telaah Cerita Ruwatan Jemblung Katong Setono". Skripsi. Surabaya:
IKIP Surabaya.
Faisal, Sanapiah
1990 Penelitian Kualitatif: dasar-dasar dan aplikasi. Malang: Y A 3.
Fajar P, Sukartiyo Panca
1990 "Fungsi Parikan dalam Cerita Jemblung Marmaya Golek Tumbal Ali-ali Tradisi Dalang Ahmad Jaelani dan Sumbangannya terhadap Pengajaran di Sekolah". Skripsi. Kediri: IKIP PGRI Kediri.
Hardjana, Andre
1994 Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.
Hasan, Zaini M.
1991 "Karakteristik Penelitian Kualitatif" dalam Pengembangan Penelitian 
Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: Y 3 A.
Huda, Nuril
1990 "Pengembangan Penelitian Kulaitatif dalam Studi Perkembangan Bahasa Anak" dalam Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: Y 3 A. 
Hutomo, Suripan Sadi
1991 Mutiara yang Terlupakan: Pengantra Studi Sastra Lisan. Surabaya: 
Hiski.
1998 Kentrung: Warisan Tradisi Lisan Jawa. Malang: MIAS.
Koentjaraningrat
1984 Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
Maryaeni, dkk
1995 "Struktur dan Isi Jemblung. Laporan Penelitian. Surabaya: Proyek 
Penelitian dan Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah 
Propinsi Jawa Timur.
Miles, Matthew B. dan a Michael Huberman
1991 Analisis Data Kualitatif (diindonesiakan oleh Tjetjep R.R.). Jakarta: UI 
Press.
Soedarsono
1986 "Dampak Modernisasi Terhadap Seni Pertunjuk kan Jawa di 
Pedesaan" dalam Kesenian, Bahasa, dan Folklor Jawa. Yogyakarta: 
Javanologi.
Sudikan, Setya Yuwana
2001 Metode Penelitian Kebudayaan. Surabaya: Citra Wacana. 
Sutarto, Ayu
2004 Pendekatan Kebudayaan dalam Pembangunan di Jawa Timur. Surabaya: 
Kompyawisda Jatim.