MANUSIA, BUDAYA DAN FILSAFAT JAWA

Post On : 27 Februari 2012 , Oleh BAMBANG SULANJARI - IKIP PGRI SEMARANG, 

Bambang Sulanjari
IKIP PGRI SEMARANG

1. Manusia dan Budaya Jawa
Pada abad X, ketika Jawa bagian timur diperintah oleh Srī Mahārāja Srī Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa telah terjadi sebuah peristiwa besar dalam dunia sastra Jawa Kuna. Parwa-parwa Sansekerta yang menjadi bagian dari epos terbesar dunia: Mahābhārata, disalin ke dalam bahasa Jawa Kuna. Parwa-parwa itu tidak sekedar disalin atau disadur begitu saja, tetapi di-jawa-kan. Dalam pengantar Wirāţaparwa Jawa Kuna disebut dengan mangjawākěn Byāsamata, yang maksudnya men-Jawa-kan karya yang terkandung dalam batin Byāsa (Zoetmulder 1985: 101-109). Ini berarti bangsa Jawa pada abad X sudah memiliki filter untuk menyaring kebudayaan asing yang masuk ke Jawa. Artinya pula bahwa Jawa pada waktu itu telah berdiri megah sebagai budaya yang terbuka terhadap budaya lain, tetapi di lain pihak selektif terhadap budaya lain yang masuk. Bangsa Jawa telah memiliki frame yang bernama “Jawa”, sehingga apapun yang masuk ke Jawa harus sesuai dengan frame Jawa itu. Frame itulah yang disebut sebagai budaya. Karena Jawa berdiri kokoh sebagai budaya, sudah barang tentu terdapat masyarakat pendukung kebudayaan itu. Masyarakat pendukung itu yang dimaksud dengan manusia Jawa.
Permasalahannya sekarang, apakah yang dimaksud dengan budaya Jawa itu? Barangkali lebih baik jika diawali dengan melihat istilah budaya atau kebudayaan. Dulu orang berpendapat bahwa kebudayaan meliputi segala manifestasi dari kehidupan manusia yang berbudi luhur dan yang bersifat rohani, misalnya agama, filsafat, kesenian dan sebagainya. Dari pendapat ini maka tidak aneh jika dulu terdapat pembedaan antara bangsa berbudaya (yang dianggap sebagai bangsa yang lebih tinggi) dan bangsa alam (yang dianggap sebagai bangsa yang lebih rendah). Namun seiring dengan majunya peradaban manusia maka pengertian kebudayaan juga berubah. Saat ini yang dimaksud kebudayaan adalah manifestasi kehidupan setiap orang atau setiap kelompok orang (Van Peursen, 1985:9-11). Meskipun terjadi pergeseran pengertian dalam hal konsep, tetapi ada benang merah yang dapat ditarik: bahwa kebudayaan ada karena adanya kegiatan manusia. Manusialah yang menciptakan kebudayaan. 
Pergeseran konsep kebudayaan seperti tersebut di atas menyiratkan adanya pergeseran juga dalam substansi kebudayaan. Pada era Jawa Kuna poliandri masih dianggap “Jawa”, sehingga Draupadi yang dalam Parwa Sansekerta bersuami lima, setelah “dijawakan” masih tetap bersuami lima ksatriya Pandawa. Lama-kelamaan setelah karya itu disadur oleh Yasadipura pada jaman Surakarta konsep poliandri itu sudah dianggap tidak “Jawa” lagi.
Pergesaran kebudayaan, baik dari segi konsep maupun substansi itu memang tidak bisa dihindari, karena pada dasarnya manusia – sebagai pelaku kebudayaan – memiliki sifat esensial: selalu mengubah alam untuk kepentingan hidupnya. 
Orang Jawa memiliki konsep tersendiri tentang kebudayaan. Bagi orang Jawa budaya mengandung makna menjadi beradab atau bijaksana: menyadari diri, tempat, dan tatacara; menyadari diri dan orang lain (Mulder, 2001: 62). Seorang Jawa yang “diakui” adalah sosok yang mengetahui cara-cara beradab dan sepenuhnya sadar akan posisi sosial. Ia adalah sosok yang tahu tatanan. Tatakrama dan unggah-ungguh menjadi tolok ukur “sosok Jawa”. Jika penerapan dari tatakrama dan unggah-ungguh ini tepat, maka ia akan disebut njawani. Tetapi jika penerapan tatakrama dan unggah-ungguh ini tidak tepat, maka bisa dikatakan ilang jawane, atau wis ora njawani (Endraswara, 2003: 12)

2. Budi Pekerti Sebagai Bagian dari Kebudayaan
Sebagai suatu suku bangsa yang memiliki corak kebudayaan tersendiri maka orang Jawa atau masyarakat Jawa juga memiliki ciri-ciri atau kepribadian yang membedakannya dengan orang non-Jawa. Orang Jawa memiliki kehidupan sendiri, yaitu seluruh aktivitas yang dilakukan orang Jawa sebagai anggota masyarakat yang saling berinteraksi atau berhubungan satu dengan lainnya dalam setiap waktu, yang bertumpu pada sistem nilai budaya yang berlaku bagi orang Jawa. Nilai-nilai budaya itu tidak muncul dengan serta merta, tetapi lahir melalui kesepakatan sebagian atau seluruh anggota masyarakat atas dasar pengalaman hidupnya. Nilai-nilai ini dalam wujud aktifnya adalah norma, yang menjadi pedoman perbuatan bagi anggota masyarakat. Sebagian besar orang Jawa selalu berusaha menepati norma-norma budaya yang telah disepakati untuk mencapai kehidupan bermasyarakat yang penuh dengan ketentraman, kadamaian dan ketenangan, sebagian lagi ada yang tidak menepati karena didorong oleh kepentingan-kepentingan yang berlainan (Gatut Murniatmo, 1986: 6-8). 
Penerapan nilai-nilai budaya seperti tersebut di atas lebih dikenal sebagai budi pekerti.
Secara etimologi budi berarti nalar, pikiran dan watak, sedangkan pekerti berarti, penggaweyan, watak, tabiat atau akhlak. Budi terdapat pada batin manusia, sifatnya tan kasatmata, tidak kelihatan. Budi baru tampak jika sudah dimanifestasikan dalam bentuk pekerti, perbuatan. Budi adalah alat batin yang merupakan perpaduan akal, keinginan dan perasaan untuk menimbang hal yang baik dan buruk. Pekerti merupakan pencerminan batin. Dengan demikian budi pekerti merupakan sikap dan perilaku yang dilandasi oleh kegiatan berpikir atau olah batin. Budi pekerti dapat dibedakan menjadi dua: budi pekerti luhur dan budi pekerti tercela. Budi pekerti luhur lahir karena kematangan jiwa. Orang yang berbudi pekerti luhur adalah orang yang bersikap dan berperilaku selaras dengan nilai atau kaidah sosial yang berlaku disekitarnya serta dilandasi oleh kematangan jiwanya. Ia berada pada tataran tertinggi dalam pelaksanaan norma-norma kehidupan. 

3. Manusia dan Filsafat Jawa
Ada dua hal yang andil dalam pembentukan kepribadian orang Jawa sampai sekarang, pertama: masyarakat Jawa adalah warisan dari sistem pemerintahan kerajaan. Kedua, masyarakat Jawa pernah dijajah oleh bangsa kolonial dalam waktu yang panjang. dua hal ini menyebabkan masyarakat jawa mengalami stratifikasi sosial. Misalnya wong gedhe dan wong cilik, priyayi dan wong lumrah dan sebagainya. Pembagian strata ini dilakukan sendiri oleh Masyarakat Jawa tanpa ada aturan-aturan yang menjadi pedoman. Akibat stratifikasi sosial komunikasi sosial harus mempertimbangkan berbagai aturan, oleh karena itu muncullah norma-norma yang mengatur hubungan antar strata masyarakat. Norma-norma ini selalu dijaga demi terciptanya hubungan yang tidak tersendat-sendat dan tenteram serta harmonis (Endraswara, 2003: 6-9). 
Sekalipun Clifford Geertz membedakan orang Jawa menjadi dua golongan: santri untuk yang menjalankan ajaran agama (Islam) dengan sungguh-sungguh, dan abangan untuk orang kebanyakan, namun pada hakekatnya orang Jawa adalah makhluk religius. Ideal mistik tentang harmoni dan kesatuan antara manusia dengan Tuhan menjadi model hubungan individu dengan masyarakat (Mulder, 2001: 62). Gagasan kesatuan menyiratkan keselarasan, keteraturan, harmoni. Orang akan dengan suka rela berkorban demi keteraturan ini: wani ngalah luhur wekasane. Inilah yang menyebabkan orang Jawa dengan sadar mengakui dan melakukan sistem hormat yang membentuk pola hubungan antar strata sosial. Di samping itu orang Jawa selalu mengedepankan rasa, selalu mengolah pengalaman hidupnya dengan rasa, sehingga terdapat ungkapan: wong Jawa iku nggone rasa.
Pola hubungan antar strata sosial dipandang sebagai hubungan yang saling melengkapi: dualisme komplementer. Wong gedhe dan wong cilik misalnya, hanya menunggu waktu berperan bagi mereka. Dalam satu hal wong gedhe yang berperan, tetapi pada lain hal ada peran wong cilik yang tidak dapat digantikan oleh wong gedhe. Hubungan ini tercermin dalam simpingan (tatanan) wayang dalam suatu pertunjukan wayang. Baik simpingan kiri maupun simpingan kanan berada dalam ruang tunggu sampai mereka mendapat giliran untuk berperan dalam kehidupan.
Pola hubungan antar strata sosial melahirkan berbagai falsafah dan prinsip hidup. Sepi ing pamrih rame ing gawe misalnya, sebagai prinsip yang mendasari hidup yang tidak mementingkan diri sendiri, sesuai dengan arti dari perkataan itu. Lebih jauh diungkapkan oleh Mulder:

Sepi ing pamrih – tidak mementingkan diri, tidak dikendalikan oleh hasrat demi keuntungan pribadi – mengandung sebuah kunci untuk memasuki kebijaksanaan kejawen. (Mulder, 2001: 59-60)

Kesadaran akan posisi dalam hierarki sosial menyebabkan orang tidak mentang-mentang: aja dumeh (Mulder, 1996: 58-59), sehingga orang akan bersikap dan berprinsip hidup madya (tengah-tengah), tidak ngaya (bertindak di luar perhitungan)serta tidak ngangsa (berlebihan). Prinsip ini banyak diejawantahkan oleh para pemikir Jawa, di antaranya adalah Ki Ageng Suryamentaram, putra Hamengkubuwana VII. Ajaran Ki Ageng ini sering disebut sebagai kawruh beja sawantah. Menurut Ki Ageng Orang Jawa hendaknya berwatak dan bertingkah 6 sa saja: sabutuhe, saperlune, sacukupe, sakepenake, samesthine, sabenere (Endraswara, 2003: 12-13).

4. Karya Sastra dan Wayang: Sumber Ajaran filsafat Moral
Di samping terdapat banyak prinsip hidup yang lahir karena tradisi filsafat di Jawa, karya sastra Jawa sebagai cermin kondisi masyarakat juga banyak merekam transformasi ide tentang ajaran moral. Berbagai syarat untuk menjadi “orang Jawa” yang sempurna, banyak menjadi model penulisan karya sastra yang bermuatan filsafat moral. Serat Wulang Reh karya Pakubuwana IV misalnya, mengupas habis tentang bagaimana seharusnya menjadi orang Jawa, seperti yang tertuang dalam pupuh Pangkur bait pertama:

Kang sekar pangkur winarna
Lelabuhan kang kanggo wong aurip
Ala lan becik puniku
Prayoga kawruhana
Adat waton puniku dipun kadulu
Miwah ta ing tatakrama
Den kaesthi siyang ratri
(Darusuprapto, 1985: 70)

Wayang merupakan sumber filsafat yang tak ada habisnya bagi orang Jawa. Tidak hanya bagi orang Jawa saat ini saja. Sri Mangkunegara IV (1809-1881 M) telah menuangkan gagasan tentang ideal orang Jawa dalam Serat Tripama. 

DAFTAR PUSTAKA

Darusuprapta. 1985. Serat Wulang Reh. Surabaya: CV. Citra Jaya.

Endraswara, Suwardi. 2003. Budi Pekerti dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita.

Gatut Murniatmo dalam Soedarsono at al. 1986. Beberapa Aspek Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Dep. P dan K.

Hefner, Robert W. 1999. Geger Tengger, Perubahan Sosial dan Perkelahian Politik. Yogyakarta: LkiS.

Kamajaya. 1984. Tiga Suri Teladan, Kisah Kepahlawanan Tiga Tokoh Cerita Wayang. Yogyakarta: U.P. Indonesia.

Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: PN Balai Pustaka. 

Mulder, Niels. 1996. Pribadi dan Masyarakat di Jawa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

___________. 2001. Misistisisme Jawa. Ideoogi di Indonesia. Yogyakarta: LkiS.

Zoetmulder, P.J. 1985. Kalangwan, Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Jakarta: Djambatan.

_____________. 1991. Manunggaling kawula gusti, Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa. Jakarta: PT Gramedia.