Kontribusi Makna Lirik Lagu Dolanan di Jawa Tengah bagi dunia Pendidikan Formal dan Non-Formal

Post On : 05/05/2010 , Oleh Ucik Fuadhiyah, S.Pd - Universitas Negeri Semarang
Oleh : Ucik Fuadhiyah*

Indonesia sebagai negara yang berbhineka tunggal ika sesungguhnya kaya akan budaya dan kesenian tradisional di tiap-tiap daerah. Keanekaragaman seni budaya tersebut dapat dilihat dari aspek bahasa, kesenian, dan adat istiadat. Namun ironisnya, generasi muda sebagai penerus budaya tidak begitu banyak yang berminat melestarikan maupun sekedar mempelajari seni budaya local. 
Salah satu hasil budaya yang juga merupakan seni sastra tradisional yaitu lagu dolanan dari Jawa Tengah. Saat ini, lagu dolanan sebagai seni sastra tradisional yang amat dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa, justru semakin menyusut peminatnya. Banyak kesenian modern menjadikan generasi muda, di Jawa Tengah khususnya, asing dengan budaya daerahnya sendiri. Sebagian besar generasi muda lebih banyak memilih kesenian yang dapat menghibur dengan menggunakan teknologi canggih. Karya seni lokal telah dikesampingkan karena dianggap kuno. Faktor lain yang mempengaruhi minimnya pemahaman dan ketertarikan generasi muda pada seni budaya lokal adalah kurang menariknya kemasan dan proses sosialisasi oleh generasi sebelumnya.
Lagu dolanan dapat dikatakan sebagai kesenian sekaligus karya sastra. Alasan ini tepat karena dalam seni sastra alat yang digunakan adalah bahasa yang indah dan memiliki makna yang diwujudkan dalam tulisan. Lagu dolanan anak terbentuk dari rangkaian bahasa atau kata-kata yang memiliki irama, persajakan dan mengandung suatu simbol dan makna. 
Senada dengan uraian di atas Pradopo (2001:69) mengatakan bahwa sastra (karya sastra) merupakan karya seni yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Ini berarti ada kaitan yang sangat erat antara sastra sebagai bahasa, dan seni sebagai suatu keindahan. 
Bangsa Indonesia, masyarakat Jawa khususnya tidak menyadari bahwa banyak budaya dan kesenian modern terutama yang berasal dari negara asing sangat berpengaruh bagi pola pikir generasi muda. Persoalan ini sangat berkaitan dengan kondisi bangsa Indonesia yang belum juga lepas dari krisis sejak tahun 1997. Alasan ini muncul sebab generasi muda sebagai penerus pembangunan hendaknya memiliki rasa bangga dan jiwa kepahlawanan dalam menyikapi suatu masalah. Sikap tersebut dapat dimulai dengan rasa bangga dan mencintai seni budaya. Melalui seni seseorang belajar peka terhadap lingkungannya. Hingga sekarang ini, bangsa Indonesia telah mengalami krisis multidimensi. Berawal dari krisis moneter (ekonomi), krisis politik hingga krisis moral yang semakin menjadikan bangsa Indonesia terpuruk. Persoalan tersebutlah yang melatarbelakangi munculnya gagasan penelitian tentang peran lirik lagu dolanan sebagai salah satu dari seni sastra tradisional di Jawa Tengah dalam mewujudkan semangat persatuan dan kebangsaan. 
Persoalan krisis multidimensi seperti yang tersebut di atas juga telah mempengaruhi pola pikir generasi muda dalam melestarikan dan mencintai budaya lokal sebagai pendukung kekayaan budaya nasional. Sudikan (dalam Prawoto 1993:28) memberikan pernyataan bahwa sekarang ini telah banyak pergeseran nilai. Sebagai contoh saat ini orang tua atau nenek-nenek di lingkugan masyarakat Jawa sudah tidak mampu lagi bercerita tentang Buto Ijo, Bol Blorok, Ider Bismillah, Johar Manik dan sebagainya. Mengapa demikian? Salah satu sebabnya adalah cerita itu sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman (ora njamani-jw). Di sisi lain, minat anak-anak terhadap legenda, mitos, dan cerita-cerita kepahlawanan dengan tokoh-tokoh lucu, kurang sekali. Anak-anak lebih suka cerita Cinderella daripada Kuncung Bawuk. 
Demikian pula dengan kondisi lagu dolanan. Sebagai kesenian yang oleh Hutomo (1975:25) disebut sebagai puisi Jawa tradisional, mulai ditinggalkan bahkan dilupakan generasi muda. Anak-anak dan remaja sudah tidak tertarik dengan lagu dolanan atau tembang macapat. Faktor penyebab kondisi ini selain perkembangan hiburan dengan teknologi yang serba canggih, orang tua sendiri kadang tidak memperkenalkan seni sastra tradisional ini kepada anak-anaknya.
Lagu dolanan sebagai seni sastra tradisional ternyata mampu memberikan nafas unsur kebangsaan yang berkaitan langsung dengan kondisi kehidupan bangsa Indonesia baik dahulu maupun sekarang. Artinya, tiap-tiap seni tradisional khususnya lagu dolanan, bukan semata-mata memiliki kontribusi bagi kehidupan masyarakat daerah setempat, namun sangat dimungkinkan memberikan kontribusi besar bagi kehidupan berbangsa dan bertanah air. 
Kontribusi dalam konteks ini terkait proses sosialisasi dan implementasi lirik lagu dolanan dalam rangka mewujudkan masyarakat yang memahami pentingnya berjiwa kebangsaan tinggi. Kontribusi atau peran serta tersebut dapat dilakukan di setiap aspek kehidupan seperti politik, ekonomi, pendidikan, dan sosial. Namun, dalam persoalan ini aspek pendidikan dianggap sebagai aspek terpenting untuk sasaran sosialisasi dan penerapan lirik lagu-lagu dolanan. Pendidikan yang dimaksud mengacu pada pendidikan bagi generasi muda yang merupakan generasi penerus tata kehidupan bangsa Indonesia. Dengan demikian, pendidikan yang terkait dengan persoalan berbangsa dan bertanah air adalah pondasi penting dalam membentuk jiwa nasionalisme rakyat. 
Simbol dan makna kebangsaan yang muncul dalam lirik lagu-lagu dolanan akan sangat bermanfaat bagi proses pendidikan, terutama generasi muda, jika dilakukan upaya sosialisasi dan penanaman unsur-unsur kebangsaan sejak awal. Proses pengenalan budaya dan seni pada generasi muda tidak cukup hanya melalui pendidikan formal sebab melalui pendidikan non formal banyak hal baru dan pengalaman langsung akan diperoleh serta dirasakan generasi muda. Sebaliknya, proses non formal bukan merupakan satu-satunya cara efektif sebab ada beberapa konsep teoretis dan ilmiah perlu dikaji dan menjadikan daya pikir masyarakat berkembang. 
Cara efektif yang dilakukan untuk mewujudkan pendidikan berbangsa dan bertanah air melalui seni dan budaya lokal ialah dengan penyelarasan antara pendidikan formal dan non formal

Pendidikan Formal
Pendidikan formal dalam konteks ini dimaksudkan bentuk pendidikan resmi yang ada di sekolah-sekolah yaitu jenjang Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Menengah Pertama (SMP), dan Menengah Atas (SMA). 
Di jenjang Taman Kanak-kanak, umumnya sebagian besar materi diwujudkan dalam bentuk permainan dan nyanyian. Lagu dolanan sebagai kesatuan bentuk permainan dan lagu tentu sangat efektif dijadikan alternatif materi. Saat mengajar, guru dapat memanfaatkan bentuk permainan untuk menarik minat anak. Yang perlu ditekankan adalah konteks budi pekerti dan kebangsaan yang harus diimplikasikan dalam dalam tiap lirik lagu dolanan. 
Proses sosialisasi dan implementasi dilakukan di dalam kelas. setelah melatih bernyanyi dan diselingi permainan, guru harus menjelaskan arti tiap kata dan simbol bahasa sesuai tingkat usia anak. Selanjutnya diberikan penjelasan relevansinya dengan wujud kebangsaan yang muncul pada tiap unsur-unsur lirik lagu. Lagu-lagu dolanan yang sesuai dengan kognitif dan usia anak di jenjang Taman Kanak-kanak antara lain Gundhul-gundhul Pacul (kepemimpinan), Welingku (Berbudi luhur), Bocah Kesed (Giat), dan Jamuran (kerukunan). Tidak menutup kemungkinan, setiap guru atau pendamping menemukan lagu-lagu dolanan lain yang relevan dan sesuai kebutuhan anak. Usia TK adalah usia yang masih penuh imajinasi, anak akan menerima konsep atau simbol dan makna yang mudah ditangkap. Simbol dan makna yang masih jauh dari jangkauan anak sebaiknya tidak perlu diajarkan. 
Di jenjang sekolah dasar (SD) lirik lagu dolanan dapat dijadikan alternatif materi pelajaran Bahasa Jawa. Bahasa Jawa selama ini mempunyai kesan pelajaran membosankan. Untuk itu, guru harus pandai-pandai mencari alternatif materi. Lagu dolanan sudah tidak asing bagi telinga anak-anak Jawa Tengah, meskipun sebagian besar dari mereka hanya mendengar saja tanpa mengerti maksudnya. Inilah tugas guru yang selama ini jarang menggunakn lagu dolanan sebagai materi. Kalaupun mengenalkan, guru umumnya hanya memberikan latihan notasi dan cara menyanyikannya. Saat ini jarang bahkan hampir tidak ada guru yang memberikan makna dan menganalisis lagu dolanan seperti yang ada dalam geguritan. 
Berdasarkan hasil analisis dan penelitian yang dilakukan, lagu dolanan dapat dikategorikan sebagai karya sastra yang mengandung unsur intrinsik dan ekstrinsik seperti yang terdapat pada puisi atau prosa. Makna dan simbol yang muncul dalam lagu dolanan sangat beragam. Pihak sekolah dan dinas terkait di Jawa Tengah dapat berperan dalam sosialisasi lirik lagu dolanan dan simbol maknanya melalui pemuatan materi lagu dolanan dan lomba-lomba yang mengacu pada wawasan kebangsaan berdasarkan budaya dan tradisi lokal. Lagu dolanan yang sesuai dengan usia di jenjang sekolah dasar antara lain Ilir-ilir (harapan kemerdekaan), Ja Ratu, Dadi Raja, Cempa Rowa (pengenangan kejayaan masa lampau), Gajah-gajah (kepemimpinan), Sinten Nunggang Sepur (pengenangan kejayaan masa lampau), dan Dhayohe Teka (budi pekerti). 
Mengajarkan simbol dan makna kebangsaan melalui seni sastra seprti lagu dolanan, akan mempermudah siswa mengenal dan mencintai budaya. Selain itu, siswa sebagai generasi muda diharapkan mampu mengerti arti penting sebuah pengorbanan, cinta tanah air, karakter kepemimpinan, dan mengahargai budaya sejak dini. 
Tidak jauh berbeda dengan sekolah dasar (SD), di jenjang sekolah menengah pertama (SMP), lagu dolanan melalui pengajaran serta penerapan simbol dan makna dalam liriknya akan sangat membantu guru dalam memberikan materi sastra dan seni. Di sisi lain, siswa akan merasa tertarik sebab pembentukan perilaku nasionalisme dituntun melalui proses belajar integral antar seni, sastra, dan moral. Dengan demikian, siswa diharapkan memiliki jiwa-jiwa nasionalis yang berpondasi agama dan etika yang kuat, tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur budaya. 
Di jenjang sekolah menengah atas (SMA), sosialisasi dan implementasi lirik lagu dolanan sebagai perwujudan kebangsaan dapat diterapkan dalam mata pelajaran Bahasa Jawa dan Budi Pekerti. Kurikulum Pelajaran Bahasa Jawa di SMA sederajat baru dimulai beberapa tahun terakhir, maka perlu disikapi dan dikritisi materi yang ada sebab pada jenjang ini. Materi tidak lagi bersifat teoretis tetapi lebih pada aplikasi dan analisis. Sebagian besar materi kurikulum Bahasa Jawa SMA banyak diarahkan pada analisis dan penerapan sastra. Dengan demikian, lagu dolanan sangat efektif dijadikan alternatif materi terkait dengan analisis simbol dan makna lirik lagu dolanan. Guru tidak lagi mengajarkan teknik bernyanyi, tetapi menjelaskan dan menerapkan unsur-unsur kebangsaan dalam lirik lagu dolanan, agar siswa dapat mengaplikasikan dalam kehidupan keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.
Lirik lagu dolanan dapat diterapkan pula dalam pelajaran Budi Pekerti atau Kewarganegaraan. Lirik lagu yang efektif diterapkan pada siswa jenjang SMA sederajat, berlaku untuk semua judul dan jenis lagu. Alasan ini karena siswa usia SMA dianggap telah matang dalam berpikir dan mampu berimajinasi secara luas dan daya pikir matang, sehingga diharapkan dapat memahami simbol dan makna hingga tataran filosofis. Di jenjang SMA, aplikasi dan implementasi simbol dan makna lirik lagu dolanan dalam materi pembelajaran, tentu saja memiliki porsi yang berbeda dengan jenjang TK, SD atau SMP. Di jenjang TK dan SD lirik lagu dolanan diajarkan lebih banyak pada sosialisasi lagu, notasi dan pesan-pesan yang ada di dalam lagu. Di jenjang SMP siswa mulai dikenalkan untuk interpretasi lirik lagu dolanan namun tahap awal, dan belum mendalam. Di jenjang SMA inilah siswa dikenalkan secara lebih dalam interpretasi makna dan simbol lirik lagu dolanan. Tahap ini dilakukan dengan menyesuaikan kognisi siswa. 
Proses pendidikan formal inilah yang akan menjadi pondasi di dunia pendidikan generasi muda. Kontribusi dan arah simbol dan makna lirik lagu dolanan akan terwujud dengan adanya peran aktif pendidik dan siswa sebab di mulai dalam dunia pendidikan formal pula daya pikir dan pengetahuan generasi muda terbentuk dan berkembang. 
Harapan yang ingin dicapai dengan penerapan dan implementasi simbol dan makna kebangsaan dalam lirik lagu dolanan di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) ialah siswa sebagai generasi yang akan tumbuh dewasa mampu menyeimbangkan antara pengalaman dan teori, unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik dalam suatu karya sastra. Karya sastra dan budaya merupakan salah satu cerminan identitas bangsa. 
Materi lirik lagu yang disebutkan di atas merupakan contoh. Guru harus pro aktif dan kreatif untuk mewacanakan simbol dan makna lirik lagu dolanan sebagai alternatif pelajaran sekaligus menanamkan semangat nasionalisme pada generasi muda. 
Pendidikan Non Formal
Berjalannya proses belajar yang ada dalam pendidikan formal tidak menjamin kematangan dan pemahaman generasi muda tentang arti penting sebuah semangat kebangsaan, sebab justru melalui dunia pendidikan non formal seringkali anak-anak lebih peka dan paham tentang lingkungannya, budaya, dan kehidupan bangsanya. Untuk menyelaraskan implentasi dan sosialisasi lirik lagu dolanan secara optimal, maka diperlukan proses non formal. Proses non formal dalam kehidupan masyarakat dapat dilakukan karena alasan ekonomi dan alasan kemanusiaan. Alasan ekonomi ditempuh karena kepedulian akan dunia budaya dan sastra beberapa pihak, tetapi banyak anak-anak berbakat tidak dapat menempuh pendidikan formal. Namun, pendidikan non formal dapat ditempuh karena alasan untuk menumbuhkan greget dan wujud kecintaan akan budaya dan tradisi setempat. Wujud atau bentuk pendidikan non formal sebagai sarana sosialisasi dan aplikasi lirik lagu dolanan di Jawa Tengah antara lain dilakukan mulai dari keluarga dan masyarakat. 
Keluarga adalah tempat pertama seseorang memperoleh pengetahuan dan pelajaran. Keluarga adalah orang terdekat anak. Terkait dengan aplikasi lirik lagu dolanan dalam perwujudan kebangsaan, keluarga dapat berperan aktif dengan mengajarkan anak tentang budaya daerah sejak dini. Lagu-lagu dolanan diperkenalkan lalu anak diajak diskusi makna yang terkandung di dalamnya. Orang tua harus memahami betul isi lagu, sebab jika pemahaman orang tua salah, maka pemahaman anak akan juga salah. Proses lain dapat dilakukan dengan bermain dan bernyanyi di waktu senggang dalam sendau-gurau antarkeluarga. Permainan bahasa seperti parikan dan batangan yang banyak terdapat dalam lirik lagu dolanan dapat dimanfaatkan. 
Sebagian besar orang tua di zaman sekarang ini tidak memahami betul tentang pentingnya seni budaya untuk putra-putrinya. Disadari atau tidak, secara langsung maupun tidak langsung, sebagian besar orang tua cenderung mementingkan prestasi akademis dibanding perkembangan afektif anak. Orang tua akan merasa bangga dan puas ketika anak-anaknya meraih juara kelas tanpa memikirkan bekal spiritual dan bekal budi pekerti. Hiburan anak kini telah dikuasai oleh teknologi canggih dan maju seperti televisi dan internet. Tentu saja perkembangan tekologi sangat membantu kemajuan daya pikir dan ilmu pengetahuan anak sesuai kemajuan zaman. Namun, tidak sepenuhnya perkembangan zaman berpengaruh positif. Kenakalan remaja, sifat anarkis, hingga masalah broken home marak merajalela. Diakui atau tidak ini adalah pengaruh teknologi modern dan kurangnya perhatian orang tua. 
Kondisi seperti ini bukan bermaksud mematikan atau melarang generasi muda untuk menggunakan dan mempelajari teknologi. Untuk menjawab tantangan global, kematangan dari segi sumber daya manusia memang harus dipersiapkan. Hanya saja, perlu ada keseimbangan antara ilmu, iman, dan seni. Seni sebagai salah satu unsur budaya memegang peran penting sebab dengan seni seseorang menjadi lebih peka, bijaksana, dan fleksibel menyikapi berbagai persoalan. Penanaman dan pemahaman pendidikan memang harus dimulai dari lingkungan terdekat yaitu keluarga, demikian pula dengan kesenian. Lagu dolanan sebagai satu contoh kesenian bernilai sastra, akan lebih efektif jika diajarkan sejak dini dan dimulai di dalam keluarga. Memperdengarkan atau menyanyikan lagu dolanan pada berbagai kesempatan dalam suasan santai, akan membuat anak terbiasa dan mengenal seni budaya tradisi. Hal ini sesuai dengan ungkapan, yang mengatakan tidak kenal maka tidak sayang, tidak sayang maka tidak cinta. Peribahasa ini dinterpretasikan selaras dengan ungkapan rumangsa handarbeni dan hangrukebi; rasa memiliki dan mengenal terhadap sesuatu menjadi modal utama sesorang untuk merasa bertanggung jawab menjaga dan bangga. 
Pendidikan masyarakat adalah lingkungan sekunder setelah keluarga dan sekolah. Namun, justru di masyarakat inilah banyak generasi muda menangkap pengaruh-pengaruh yang kuat, baik pengaruh positif ataupun negatif. Peran masyarakat dalam mengembangkan seni sastra dan budaya seperti lagu dolanan dan pengenalan simbol maknanya dapat dilakukan dalam berbagai bentuk Di Jawa Tengah, khususnya di daerah-daerah seperti Solo, Yogyakarta, Semarang, dan Tegal banyak ditemukan komunitas-komunitas seni yang memiliki visi di bidang seni dan budaya daerah seperti Sanggar Seni (tari, macapat, kethoprak), Padhepokan, Gedung Seni, Dewan Seni dan beberapa komunitas seni kecil lainnya. Demikian pula di propinsi lain di luar Jawa Tengah, tentu banyak terdapat kesenian dan budaya yang perlu dilestarikan dan dikembangkan oleh generasi muda. 
Tempat-tempat atau komunitas tersebut akan menarik dan lebih bermanfaat jika dapat bergerak luas dan menjadikan lagu dolanan sebagai salah satu materi diskusi, latihan bahkan pergelaran. Cara-cara yang ditempuh yaitu melatih bernyanyi, bermain anak-anak di lingkungan setempat, dan mengajarkan simbol dan makna dalam tiap-tiap lagu dolanan. Dengan demikian, simbol dan makna dalam lirik lagu dolanan yang memiliki andil di dalam aspek pendidikan akan terwujud secara pelan namun pasti. Mengajarkan budaya dan seni dengan makna filosofis memerlukan perhatian dan kesadaran baik pemerintah, masyarakat, pendidik dan generasi muda sendiri sebab antara proses formal dan non formal sama pentingnya dan harus selaras. 
Adapun contoh lagu yang tepat digunakan sebagai bahan latihan dan kajian dalam lingkungan masyarakat ialah Jamuran, Soyang, Padhang Bulan, dan Ilir-ilir. Lagu-lagu tersebut banyak mengungkapkan tata cara berinteraksi dengan orang lain (bersosialisasi). Melalui proses ini, harapan yang ingin dicapai ialah anak-anak mengerti akan arti penting berkomunikasi dan interaksi. Generasi muda memahami bahwa lingkungan adalah miniatur negara yang beragam adat, budaya, dan tata cara, sehingga perlu saling menghargai. 
Proses implementasi formal dan non formal serta peran serta semua pihak sangat signifikan dalam mewujudkan semangat nasionalisme secara optimal. Proses pendidikan formal dan non formal hendaknya berjalan seimbang sebab untuk menanamkan adanya simbol dan makna kebangsaan dalam lirik lagu dolanan butuh waktu dan ketekunan. Harapan dan makna tersirat yang ingin disampaikan tiap lirik lagu dolanan betul-betul terwujud. Untuk itulah, baik aspek pendidikan Ketuhanan, pendidikan berbangsa dan bertanah air, pendidikan sosial budaya, dan pendidikan budi pekerti memegang titik berat dalam proses pendidikan. Empat aspek pendidikan tersebut memiliki relevansi dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Pembelajaran akan lebih berhasil jika dapat membawa siswa mengaitkan antara pengetahuan satu dengan yang lain. Misalnya pelajaran Budi Pekerti dalam simbol dan makna lagu dolanan dikaitkan dengan Kewarganegaraan, pelajaran Bahasa Jawa, dan pelajaran Agama.
Wujud kebangsaan yang ditemukan dalam lirik lagu-lagu dolanan di atas serta aspek pendidikan yang muncul diharapkan bermuara akhir pada satu cita-cita yaitu membawa bangsa Indonesia kepada kemajuan dan kualitas masyarakat yang berjiwa nasionalis, profesional, dan siap dengan segala tantangan global tanpa mengabaikan budaya dan identitas asli bangsa Indonesia yang berbhineka tunggal ika. 
Lagu dolanan sebagai seni sastra tradisional kenyataannya mampu memberikan potensi dan kontribusi bagi kehidupan bangsa. Namun demikian, lagu dolanan hingga saat ini masih menjadi sebuah tantangan bagi dunia pendidikan di negara Indonesia. Untuk menjadikan lagu dolanan bukan lagi sebagai lagu mainan anak semata, memang memerlukan proses. Di Jawa Tengah sendiri yang mayoritas penduduk asli suku Jawa, sebagian besar masyarakatnya telah mulai meninggalkan kesenian daerah. Globalisasi telah berhasil masuk dalam segala aspek kehidupan, baik ekonomi, politik, budaya, bahkan moral. Tentu saja persoalan ini perlu disikapi dengan bijaksana. Masyarakat Indonesia, Jawa khususnya, harus mulai kembali pada falsafah-falsafah leluhur yang pada dasarnya mampu menjadi fungsi kontrol dan identitas. Kerjasama yang harmonis antara orang tua, lingkungan, lembaga, dan pemerintah akan berandil cukup besar bagi kelestarian seni budaya daerah yang merupakan sumber aset budaya nasional. 

* Ucik Fuadhiyah, S.Pd.
Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa FBS UNNES