Kajian Sosiolinguistik Budaya: Dinamika Perkembangan Bahasa Jawa pada Pagelaran Wayang Kulit Modern dan Etos Dalang Muda dalam Budaya Jawa, Potret Cocial Culture Masyarakat Jawa Masa Kini *)

Oleh: 
Udjang Pr. M. Basir **) 

Abstraction
Puppets in Java society represent part of cultural top of tradition becoming social behavioral portrait generally. Even if experience of the ebb in its growth, but till in this time still hold out and on-hand young puppeteer progressively its prospektif life is cause happened by the cultural adaptation.
Ki Enthus Susmono as one of young puppeteer pioneer the change, one of them is with the more communicative and pragmatic Ianguage adaptation so that its puppets art is liked by the audience. He use the very wide Ianguage variant start from Ianguage aspect having the character of local, national, until Ianguage having the character of is global. Than finding of research of data of Ianguage of puppetry of Ki Enthus Susmono which applied in social activities, proven by the existence of growth mount to say the Javanese, phenomenon kediglosikan in Java society, assess the pragmatic Java philosophy, and puppeteer classification of pursuant to context accommodation. 

Keyword: Study Sosiolinguistik, puppetry Ianguage, shadow play performance.

A. Latar Belakang Masalah
Masyarakat Jawa tergolong masyarakat dwibahasawan. Dalam kegiatan komunikasi sehari-hari selain menggunakan bahasa Jawa, mereka juga menggunakan bahasa lain sebagai kelengkapannya, seperti bahasa Indonesia, Inggris, Arab, dan tidak jarang bahasa daerah lain sebagai bagian dari adaptasi konteks (Gunarwan, 2000:51-52; Kridalaksana, 2000:82-85).
Kedwibahasaan sendiri diartikan sebagai bentuk praktek penggunaan dua bahasa atau ragam bahasa secara berganti-ganti. Masalah tingkat penguasaan bahasa/ragam tidak dipersoalkan, sebab masing-masing memiliki kapasitas yang berbeda-beda (Weinreich, 1970). Seorang dwibahasawan tidak perlu mampu meng-gunakan kedua bahasa itu secara sempurna, melainkan cukup dimilikinya penge-

*) Ringkasan Disertasi th. 2008, Pascasarjana UNESA
**) Dosen FBS UNESA (Tilp. 081553208072; Email: udjangjw@yahoo.co.id)
tahuan umum tentang bahasa-bahasa dimaksud. Namun demikian seorang dwibahasawan diharapkan minimal harus memiliki kesanggupan melahirkan ujaran bermakna yang lengkap dari suatu bahasa/ragam sasaran (Haugen, 1972).
Dalam konteks kedwibahasaan, bahasa Jawa memiliki varian yang demikian kaya. Misalnya, hal yang berkaitan dengan pemakaian tingkat tutur ’speak level atau unggah-ungguh’, bahasa Jawa mengenal 3 ragam yang secara hirarkis pemakaiannya berbeda, yaitu ragam krama, madya, dan ngoko. Secara linguistis masing-masing ragam tersebut memiliki kodifikasinya sendiri-sendiri (Antunsuhono, 1956; Poedjosoedarmo, 1979; Adisumarto, 1991; Purwadi, 2005). Dalam budaya Jawa, konsisitensi pemakaian masing-masing ragam tersebut terpotret secara luas pada bahasa pedalangan wayang kulit (wayang purwa). Wayang sebagai kesenian tradisional secara totalitas merupakan potret, sikap, dan pandangan hidup manusia Jawa (Damono, 2000:320). Bahkan tidak sedikit yang mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh tertentu yang positif dalam pewayangan, seperti Bima, Anoman, Semar (Hardjowirogo, 1983:33; Sastroamidjojo, 1964: 179-202).
Berkaitan dengan sistem pemakaian tingkat tutur, bahasa pedalangan merupakan fakta sosial yang menarik untuk diteliti. Aspek tipologi bahasa, fungsi, dan sistem simbolisasinya merupakan potret budaya Jawa yang utuh, lengkap, dan bernilai adiluhung ’luhur’. Dalam kapasitas tata nilai, bahasa pedalangan merupakan fakta sosiolinguistik yang layak dijadikan basis rujukan pembenahan bahasa Jawa dan pengajarannya serta untuk kepentingan membangun karakter generasi bangsa yang lebih berakar pada budaya sendiri yang lebih membumi. 

B. Orientasi Penelitian
Disertasi ini mengarah pada pemecahan 4 permasalahan utama, yaitu (1) bagaimana tipe dan model pemakaian ragam bahasanya; (2) siapa saja yang terlibat secara interaktif dalam pagelaran kesenian yang secara pragmatis mendukung fungsi dan tujuan sistem komunikasi tersebut; (3) bagaimana model alih kode dan campur kode terjadi; dan (4) model diksi/ungkapan dan pilihan bahasa seperti apa yang digunakan dalang sebagai ciri khasnya (Verbal Repertoir).

C. Metode dan Kerangka Teori
Kegiatan penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif. Jenis rancangan ini dipandang sesuai dengan sifat dan tujuan penelitian ini, yaitu bermaksud mengeksplorasi fenomena penggunaan bahasa pedalangan oleh Ki Enthus Susmono dalam pagelaran Wayang Kulit Purwa di lingkungan masyarakat Jawa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi partisipatif, perekaman, wawancara, simak dan catat, dan rekonstruksi data secara intuitif dan introspeksi sebagaimana dikonsepkan oleh Stubbs dan Saville (Sudjito, 1995:34), Sudaryanto (1982:11-12), Moleong (2005:174-186). Teknik analisis data dilakukan melalui 4 tahapan, yaitu: koleksi data, reduksi data, penyajian data, trianggulasi, dan penyimpulan akhir sebagaimana disarankan Miles dan Huberman (Rohidi, 1992), Moleong (2005), dan Sunarto (1997).
Kerangka teori digunakan terkait dengan fokus permasalahan yang menjadi sasaran utama penelitian. Hal yang berkaitan dengan tipe ragam bahasa, khususnya untuk tingkat tutur (kuantitas ragam) digunakan konsep Poerwadarminta (1953), Poedjosoedarmo (1979), Purwadi (2005); dan ragam berdasar tingkat kualitas (diglosia) merujuk pada teori Ferguson (Holmes, 2003) dan Kloss (1966). Tentang fungsi dan tujuan penggunaan ragam digunakan konsep Leech (1983) yang berkaitan dengan prinsip kesantunan, konsep Grice (1975) tentang prinsip kerja sama, serta konsep Fairclough (1989, 2007) dan Van A. Dijk (1997) tentang Analisis Wacana Kritis. Alih kode dan campur kode digunakan prinsip yang dikemukakan Thelander (1976), Poedjosoedarmo (1981), dan Holmes (2001). Sedangkan permasalahan diksi/ ungkapan dan pilihan bahasa digunakan teori yang ditawarkan Leech (1974), Palmer (1976), Hall dan Recoeur (2002), serta Giles (2007).

D. Diskusi Hasil Penelitian
Penelitian ini bersumber dari adanya 4 permasalahan utama terkait dengan aspek bahasa seni pakeliran (pedalangan) Ki Enthus Susmono, yaitu (1) tipe ragam bahasa, (2) fungsi dan tujuan pemakaian ragam, (3) bentuk alih kode dan campur kode, serta (4) diksi/ungkapan dan pilihan bahasa sebagai verbal repertoir dalang. Seni pakeliran Ki Enthus sebagai bagian seni pertunjukan drama tradisional budaya Jawa memang tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan dalang-dalang pada umumnya, namun jika memperhatikan aspek linguistik semantiknya sebagai unsur pendukung pertunjukan menjadi berbeda dan menarik untuk diamati. Hal itu berkaitan dengan gaya bahasa yang dipertontonkan Ki Enthus dalam hal tertentu bertentangan dengan norma umum, tetapi nilai keberterimaannya di masyarakat cukup tinggi dan luas.
Secara umum analisis penelitian ini menggambarkan peta jawaban seluruh masalah yang menjadi fokus utama. Keempat permasalahan tersebut memberikan arah dalam pengumpulan dan penggalian data di lapangan, sedangkan fakta analisis menggambarkan hasil yang variatif sifatnya. Kevariatifan tersebut sebagian memperlihatkan linearisasinya dengan teori yang ada, namun sebagian lagi terdapat pengembangan fakta baru sebagai temuan penelitian (teori). 

1. Konsep Bahasa Pedalangan
Seni pakeliran sebagai bagian dari budaya Jawa dapat dikatakan sebagai gambaran kehidupan manusia Jawa. Seno Sastroamidjojo, dalam bukunya Renungan tentang Pertundjukan Wajang Kulit bahkan menegaskan bahwa dalam keseluruhan aspek petunjukannya, mulai dari seni gamelan sampai kepada tahap-tahapan pagelaran merupakan refleksi perjalanan hidup manusia (Jawa) dari lahir sampai mati. Secara simbolis hal itu divisualisasikan pula dalam bentuk iringan gendhing dan tahap-tahapan pagelaran wayang kulit (Sastroamidjojo, 1964: 179-202). 
Sebagai kesenian tradisional yang cukup tua dan berakar, wayang secara totalitas merupakan potret, sikap, dan pandangan hidup (filosofi) manusia Jawa yang secara budaya menyatu dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kapasitas sebagai pribadi atau bersosialisasi di masyarakat (Damono, 2000:320).
Demikian kuat pengaruh budaya wayang dalam kehidupan masyarakat Jawa, dikatakan Hardjowirogo (1983:33) dalam bukunya Manusia Jawa, tidak sedikit di antara masyarakat Jawa yang mengidentifikasi diri dengan tokoh pewayangan. Biasanya tokoh pewayangan yang dijadikan idola adalah yang berkarakter positif dan heroik, seperti Bima (kejujuran dan kekuatan), Arjuna (ketampanan, kesantunan, dan kesaktian), Kresna (kebijakan dan kecerdasan), Kumbakarna (kepahlawanan), Anoman (kesaktian dan kesetiaan), Semar (pengabdian dan wawasan), dan lain sebagainya.
Dalang sebagai sutradara dalam keseluruhan pagelaran wayang (kulit) merupakan figur penentu sukses tidaknya suatu pertunjukan wayang. Banyak kiat dari masing-masing dalang untuk merebut hati penonton (pasar) sehingga melahirkan berbagai macam sebutan, ada Dalang Dhagelan (Ki Jombor), Dalang Wejangan (Ki Wedi), Dalang Nges (Ki Nartosabdo), Dalang Gandem (Ki Anom Suroto), Dalang Setan (Ki Manteb Sudarsono), Dalang Edan (Ki Enthus Susmono), dsb.
Penelitian yang berkaitan dengan seni pakeliran Ki Enthus Susmono ini menemukan bukti bahwa salah satu kelebihannya adalah menyangkut aspek bahasa pedalangannya yang demikian variatif dan komunikatif. Dari fakta hasil analisis data, diperoleh pula bukti lain yang menggambarkan secara umum tentang konsep bahasa pedalangan yang harus difahami dan dikuasai oleh seorang dalang dalam merintis profesinya, yaitu: 
(1) Bahasa Pedalangan (BP) dalam prakteknya selalu menggunakan dua format klasifikasi ragam bahasa, yaitu ragam bahasa berdasar tingkat tutur (RTT) dan ragam berdasar tingkat kualitas/kelas (RTK).

(2) Varian bahasa atas aspek Tingkat Tutur (RTT) dalam bahasa pedalangan menggunakan 6 jenis varian ragam, yaitu variasi ngoko (VRN), variasi kasar (VRK), variasi madya (VRM), variasi krama (VRKM), variasi bagongan (VRB), dan variasi indah (VRI). 

(3) Variasi ragam berdasar tingkat kelas/kualitas dalam bahasa pedalangan dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu variasi rendah (VR) dan variasi tinggi (VT). 

(4) Variasi rendah (low variety) merupakan model interaksi bahasa yang sifatnya umum, akrab, tidak hormat, dan kadangkala kasar, yang nampak dalam penggunaan variasi ragam ngoko (VRN) atau variasi ragam kasar (VRK).

(5) Variasi tinggi (high variety) sebagai bentuk interaksi yang sifatnya khusus.. Dalam konteks bahasa pedalangan, varian ini dibedakan atas kelompok ragam khusus yang sifatnya inklusif (RKI) dan ragam khusus eksklusif (RKE). Ragam khusus inklusif dimaksudkan sebagai bentuk ragam hormat yang masih dijumpai dan dipakai dalam komunikasi masyarakat umum, tetapi dalam konteks mirunggan (khusus), seperti cakapan dengan varian ragam madya (VRM) atau varian ragam krama (VRK). Sedangkan Ragam khusus eksklusif merupakan pemakaian ragam dalam konteks yang khusus pula. Misalnya: ragam sulukan (RS), ragam janturan (RJ), ragam antawacana (RA), ragam panyandra (RP), dan ragam sasmita (RS).

Prinsip-prinsip pengembangan bahasa pedalangan di atas, merupakan fakta sosial yang belum terkodifikasikan secara khusus dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Secara sistematik, fakta pengembangan bahasa pedalangan dapat dijelaskan melalui hubungan korelasional antar bagian terkait dalam bagan berikut:

Bagan 1: Bahasa Pedalangan

BP

RTT RTK

VRN VRK VRM VRKM VRB VRI VR VT

VRK VRN RKI RKE

VRM VRK

RS RJ RA RP RS
Keterangan: 

BP = Bahasa Pedalangan VR = Variasi rendah
RTT = Ragam Tingkat Tutur/kuantitas VT = Variasi Tinggi
RTK = Ragam Tingkat Kualitas RKI = Ragam Khusus Inklusif
VRN = Variasi Ragam Ngoko RKE = Rgm. Khusus Eksklusif
VRK = Variasi Ragam kasar RS = Ragam Sulukan
VRM = Variasi Ragam Madya RJ = Ragam Janturan
VRKM = Variasi ragam Krama RA = Ragam Antawacana
VRB = Variasi Rgm Bagongan RP = Ragam Panyandra
VRI = Variasi Rgm. Indah RS = Ragam Sasmita

2. Pengembangan Tingkat Tutur 
Sistem tingkat tutur (unggah-ungguh) dalam bahasa Jawa (teori) yang ada saat ini terbagi atas 3 (tiga) jenis, yaitu ragam ngoko, ragam madya, dan ragam krama (dengan variannya). Di lingkungan Kraton Yogya dan Solo terdapat satu ragam khusus yaitu Basa Kedhaton (Solo) dan Basa Bagongan (Yogyakarta). Sedangkan berdasarkan data seni pakeliran Ki Enthus Susmono, tingkat tutur berkembang menjadi 6 jenis ragam bahasa yang secara faktual (alamiah) sebenarnya ada dalam masyarakat nyata, yaitu ragam kasar, ragam ngoko, ragam madya, ragam krama, ragam bagongan, dan ragam indah. 
Ragam kasar dalam pembagian sistem yang konvensional biasanya masuk dalam subragam ngoko. Namun dalam penelitian ini sengaja diperlakukan sebagai ragam yang berdiri sendiri, sebab secara karakteristik terdapat kesamaan ciri dengan ragam ngoko dan ragam madya, yaitu dimilikinya unsur leksikon utama pendukung ragam yang berbeda secara fonologis dan morfologis, misal: mbadhog (mangan, nedha, dhahar) ‘makan’; micek (turu, tilem, sare) ‘tidur’; dhapurmu (kowe, sampeyan, panjenengan) ‘kamu’; minggat (lunga, kesah, tindak) ‘pergi’; modar (mati, pejah, seda) ‘meninggal’; meteng (mbobot, ngandhut, nggerbini) ‘hamil’; ndoboli (nglairna, mbabaraken) ‘melahirkan’; lonthe (begenggek, mbekmbek) ‘pelacur’; gathel (peli, palanangan) ‘penis’; bangsat (maling) ‘pencuri’, dsb. 
Selain itu, dalam konteks yang umum, berdasarkan aspek nilai rasa yang diterima pihak pendengar dan pihak yang dituju secara obyektif (nyata) pemakaian istilah-istlah di atas (kasar) tetap memberikan implikasi adanya perasaan yang direndahkan sehingga dapat mencetuskan sikap ketersinggungan. Hal itu tentunya merupakan perkecualian jika orientasi pemakaian ragam kasar itu dalam kerangka parodi atau interaksi dialek terbatas, seperti dalam komunitas dialek Surabayan (istilah jiancuk dan dhapurmu bisa bermakna akrab). 
Demikian pula ragam bagongan dan ragam indah (Rengga basa), keduanya merupakan bagian dari ragam bahasa dalam komunitas seni pakeliran (pedalangan), tetapi tetap merupakan fakta pemakaian ragam bahasa yang secara obyektif ada dalam cakupan wilayah budaya Jawa. Khusus ragam indah sebenarnya pemakaiannya cukup luas, tidak hanya dalam seni pedalangan (pakeliran) saja, dalam seni ketoprak, ludrug, wayang orang, dan dalam kesenian modern pun digunakan sebagai sarana ekspresi keindahan, yaitu kesenian campur sari. Berdasarkan konsep pemikiran tersebut, peta pengembangan tingkat tutur bahasa Jawa saat ini secara garis besar dapat digambarkan pada tabel berikut. 

Tabel 1: PengembanganTingkat Tutur Bahasa Jawa

TINGKAT TUTUR (UNGGAH-UNGGUH BASA) 

Data Konvensional Data Penelitian

(1) Ragam Ngoko (1) Ragam Kasar
(2) Ragam Madya (2) Ragam Ngoko
(3) Ragam Krama (3) Ragam Madaya
(4) Ragam Bagongan (4) Ragam Krama
(5) Ragam Paseban 
a. Basa Bagongan
b. Basa Kedhaton 
(6) Ragam Rengga Basa (Indah) 

3. Fakta Kediglosikan dalam Masyarakat Jawa
Data penelitian yang berkaitan dengan tingkat kualitas ragam, dapat disimpulkan bahwa dalam seni pedalangan (Ki Enthus Susmono) terdapat 1 (satu) kelompok ragam rendah (low variety) yang muncul dalam sistem komunikasi antar tokoh tetapi juga dipakai di kalangan masyarakat umum (ragam ngoko dan ragam kasar). Selain itu terdapat pula 1 (satu) kelompok ragam tinggi (high variety) yang muncul secara interaktif sepanjang pertunjukan dan terbagi menjadi ragam tinggi inklusif (ragam madya dan ragam krama) dan ragam tinggi ekslusif (ragam sulukan, janturan, panyandra, sasmita). 
Dalam masyarakat Jawa, pemakaian ragam tersebut (tinggi dan rendah) secara fungsional sebagai indikasi adanya situasi penghargaan dan penghormatan pada klas masyarakat tertentu dengan berbagai latar belakangnya (umur, jabatan, pendidikan, keturunan, dsb.). Secara linguistis fenomena kebahasaan yang demikian menggam-barkan situasi kediglosikan masyarakat. Dengan demikian, berdasarkan kondisi kultur bahasanya (language cultures) yang bertingkat-tingkat secara kualitas, masyarakat Jawa tergolong jenis masyarakat yang diglosik. 

Bagan 2: Kediglosikan Bahasa Jawa

Keterangan: VR = Variasi Rendah
VT = Variasi Tinggi

4. Nilai Didaktik dan Metodik
Nilai didaktik merupakan esensi karakter budaya yang menjadi materi ajaran sikap dan perilaku hidup positif di masyarakat. Sedangkan nilai metodik sebagai suatu langkah transformasional dari tata nilai menjadi suatu kebiasaan, tradisi, dan budaya melalui serangkaian cara dan langkah-langkah tertentu yang sistematik. Dalam seni pakeliran Ki Enthus Susmono berbagai nilai didaktik yang bernilai filosofik ditawarkan dengan berbagai pendekatan (metodik) yang cukup variatif mulai dari yang bersifat simplistis (tidak langsung) hingga yang verbal dan bahkan radikal (langsung) sifatnya. Nilai-nilai didaktik yang dapat digali dalam seni pakeliran Ki Enthus Susmono bersumber dari 2 hal, yaitu (1) aspek ungkapan bahasa verbal, dan (2) aspek nilai personal.

4.1 Aspek Nilai Ungkapan Bahasa Verbal 
Nilai ungkapan bahasa verbal dimaksudkan sebagai unsur-unsur positif yang dimunculkan secara nyata dalam bentuk seruan, himbauan, dan contoh-contoh konkrit hidup bermasyarakat yang baik. Standar kehidupan bermasyarakat yang baik diukur dengan perilaku yang sesuai dengan budaya dan agama. Hal itu merupakan esensi dari fungsi pertunjukan wayang tidak saja sebagai tontonan yang menghibur, tetapi juga sebagai tuntunan yang bernilai positif (nilai didaktik) untuk membangun karakter masyarakat baik dan harmonis (Soetarno, 1983; Soetrisno, 2004).
Berdasarkan data yang ada dalam pagelaran wayang kulit dengan cerita ”Semar, Semar, Semar, Semar, Semar” tersebut sebaran nilai-nilai kehidupan masyarakat yang muncul menyangkut topik-topik yang luas. Tata nilai tersebut ada yang bersifat horisontal (manusia dengan manusia), dan juga bersifat vertikal (manusia dengan Tuhan). Berikut topik-topik aspek nilai didaktik/metodik pada pakeliran Ki Enthus Susmono beserta aspek referensialnya. 

1. Doa sebelum mulai sesuatu (DL1, H1, H22, H35; DL2, H58; DL3, H72 )
2. Selalu mengucap salam sesama teman (DL1, H4,30,37) 
3. Mendoakan leluhur dan junjungan Nabi (DL1, H1; H42)
4. Hak dan kuwajiban warga negara (DL1, H2, H8)
5. Tugas orang tua dan kepala keluarga (DL1, H13, H21; DL2, H66)
6. Sikap toleransi (DL1, H2; DL2, H69-70)
7. Tanggung jawab pemimpin (DL1, H11,47,55)
8. Hukum karma (DL1, H55-56; DL2, H66)
9. Mengingatkan ke jalan kebaikan (DL1, H20, H51, H57; DL2, H)
10. Pentingnya pendidikan (DL1, H23-24)
11. Pentingnya olah raga (DL1, H22)
12. Arif pada lingkungan (DL1, H6-7)
13. Jangan menilai orang dari sikap bahasa (DL1, H30, H31)
14. Becik ketitik ala ketara (DL1, H6, H56-57; DL2, H64)
15. Bersikap hati-hati dan berperilaku bijaksana (DL1, H27, H24; DL2, H59)
16. Pentingnya silaturahmi dan pengenalan diri (DL1, H20, H39)
17. Selalu minta pertolongan pada Allah (DL1, H22,42,43) 
18. Berbuatlah di jalan Allah (DL1, H20,52)

Ket.: DL : Data Lampiran
H : Halaman

Tata nilai itu dapat dikelompokan menjadi 2 wilayah, yaitu yang berkaitan dengan hubungan sosial secara horizontal dan secara vertikal. Secara horizontal, manusia perlu membentuk komunitas yang harmonis dengan mengembangkan kehidupan yang saling bertoleransi dan membantu satu sama lain (Hablun Minannas). Secara vertikal (Hablun Minallah) diwujudkan dalam sikap takwa sesuai dengan tuntunan agama masing-masing. Penyajian tata nilai dalam pedalangan Ki Enthus Susmono dikemas dengan beberapa model gaya bahasa, yaitu: (1) bahasa umum (wantah), (2) ungkapan bergaya sarkasme, (3) gaya parodi, (4) gaya dakwah, (5) gaya guyon parikena, (6) gaya penokohan, (7) model kritikan, dan (8) ungkapan hiperbola. Nilai-nilai tersebut tergambar secara ringkas dalam tabel berikut:

Tabel 2: Nilai Didaktik/Metodik Pedalangan Ki Enthus 

4.2 Aspek Nilai Personal
Aspek nilai personal dimaksudkan sebagai gambaran pribadi Ki Enthus Susmono sebagai dalang. Dari aspek keberhasilannya sebagai dalang kelas elit, dapat digali melalui gaya akomodasinya dalam setiap pagelaran. Berdasarkan implikasi sosialnya terhadap penonton, Ki Enthus mendapatkan predikat sebagai (1) dalang bakul, (2) dalang rame, (3) dalang kritis, dan (4) dalang dakwah. Dari berbagai predikat tersebut nampak sosok Ki Enthus yang humanis dan transaksionis ulung (dalang bakul), intertainer sejati (dalang rame), kritikus dan pengamat sosial (dalang kritis), dan budayawan religius (dalang dakwah). Hal itu sebagai stail pribadi yang khas dan membedakannya dengan dalang lain sehingga digemari penonton. 

Bagan 3 : Kategori Akomodatif Dalang Enthus 

a. Dalang Bakul
Hal yang menonjol dalam konteks dalang bakul ini, berkaitan dengan kemampuan dalang dalam mengemas bahasa untuk memasarkan pakelirannya kepada pihak lain (penonton dan pejabat) menggunakan berbagai macam pendekatan, misalnya: 

(1) Ia berusaha menyenangkan dan memuji tokoh atau pejabat tentang figur dan kepemimpinannya yang positif sehingga mereka merasa tersanjung dan mendapatkan promosi gratis di masyarakat. Misalnya: Aku nek karo kae (Sukarwo, Sekda Jatim) kalah awu. Wong pinter tenan kae, weeh! Aku kuliah karo panjenengane, nek masalah basik kompetensi. Mula dongakna, muga-muga dadi gubernur. ’Saya kalah pandai dengan beliau. Saya belajar dengannya tentang basik kompetensi. Kita doakan agar beliau jadi gubernur Jatim.’ (pendekatan psikologi sosial). 
(2) Ia memasarkan pakelirannya kepada tokoh masyarakat dan para pejabat dengan gaya guyon parikena (berseloroh) tetapi mengikat secara emosional dan keyakinan budaya atau religi. Misalnya, Mau Pak Bupati wis nazar, arep nanggap aku. Pokoke, taun ngarep nek ora nanggap aku ben dicokot ula. ’Tadi Bapak Bupati (Trenggalek) sudah berjanji bahwa taun depan akan menanggap saya. Jika ingkar dia akan digigit ular’. Jan-jane pejabat sing ora nanggap Enthus merga wedi dikritik iku goblog-gobloke pejabat. Anane aku ngritik iku mergane aku tresna. Supaya uripe Istikomah, mbesuk nek mati bisa khusnul khotimah. ’Pejabat yang takut nanggap Enthus karena takut dikritik, itu pejabat bodoh. Saya mengkritik itu karena cinta, supaya hidupnya istikomah dan matinya khusnul khotimah.’(pendekatan budaya religius).

(3) Ia juga menyampaikan jadual pakelirannya di sela-sela pagelaran. Hal itu untuk tidak mengecewakan penggemarnya (Enthus maniak), maka kepastian tempat dan tanggal pagelaran perlu diumumkan sedini mungkin. Misalnya: Informasi kanggo penonton, tanggal 8 nang Madiun, terus 11 ana allun-alun Tuban, tanggal 16-se ana wayang simponi. Menutup acara Departemen Pariwisata di Lamongan. Sing arep teka mentrine dhewe Bapak Zero Wacik. ’Informasi pada penonton, saya akan mendalang lagi tanggal 8 Januari 2007 di Madiun, 11 januari 2007 di Alun-Alun Tuban, dan 16 Januari 2007 di Lamongan bersama Wayang Simponi.’ (pendektatan informatif).

b. Dalang Rame
Ki Enthus Susmono sadar bahwa kelangsungan hidup pakelirannya bergantung pada penonton dan penanggap (pasar). Oleh karena itu segala hal yang menjadikan penggemarnya senang dan gandrung diusahakannya untuk dipenuhi. Ia menyesuaikan dengan kepentingan penanggap (adaptasi cerita), dan menyesuaikan selera penonton yang umumnya kawula muda (adaptasi musik, tata lampu dan tata suara; menghadirkan bintang tamu, menciptakan tokoh baru, dan menerima pesanan lagu). Dengan demikian penonton dan penanggap merasa terpuaskan sehingga ia setia dari awal sampai akhir pertunjukan. Gaya demikian sekarang menjadi kiblat pertunjukan dalang muda yang ingin mendapatkan sambutan di hati penonton.

c. Dalang Kritis
Pemahaman sosial kemasyarakatan yang cukup baik pada sosok Ki Enthus menjadikan dirinya corong masyarakat. Ia mengangkat bebagai permasyalahan rakyat kecil dalam pedalangannya sehingga suara rakyat terwakili, misalnya mengangkat kasus Lapindo yang menyengsarakan rakyat, pelaksanaan dana BOS yang menyimpang, maraknya demontrasi bayaran, korupsi pejabat, tingginya angka kemiskinan di Indonesia, dan pentingnya pendidikan bagi generasi muda. Dengan pendekatan ini menjadikan masyarakat mulai menempatkan wayang sebagai alternatif hiburan yang cocok, karena dapat mengakomodasi segala permasyalahan sosial yang muncul di masyarakat. Sikap kritis dan inovatif semacam ini layak dikembangkan sebagai paradigma pedalangan modern . 

d. Dalang Dakwah
Ki Enthus Susmono tergolong dalang cerdas. Ia sangat menyadari potensi dan kemampuannya, sehingga menempatkan gaya pedalangannya berbeda dengan dalang lainnya. Ia merasa riskan untuk bersaing dengan dalang mashur yang ada pada jamannya, yaitu Ki Manteb Soedarsono (dalang Setan: aspek sabet dan sanggit), dan Ki Anom Suroto (dalang Enges: aspek merdu). Ia mengarahkan pakelirannya bertitel Islami (asesoris dan misi didaktik) karena pangsa pasar mayoritas pemeluk Agama Islam. Namun ia kritis bahwa dakwah konvensional (para kyai dan da’i) kurang membumi. Oleh karena itu ia mengusung pendekatan dakwah para wali, yaitu mendekatkan aspek syari’at dengan budaya masyarkat. Kecenderungan itu nampak pada asesoris blangkon sorban (kopyah Wali), jilbab, dan karikatur masjid, tetapi unsur budaya tetap mendapatkan penekanan (pendekatan budaya dan religi). 
5. Kontra Tradisi yang Berterima
Dari sejarahnya kesenian wayang kulit purwa (pedalangan) merupakan tradisi Jawa yang tumbuh dan berkembang di lingkungan keraton. Oleh karena itu ciri keadiluhungan tema ceritra dan bahasa mencitrakan budaya elitis yang heroik, indah, dan santun pada setiap pagelarannya. Dalam budaya Jawa, kesenian wayang bahkan dijadikan sumber pendidikan moral yang penuh filosofik melalui “laku” tokoh utama yang menggambarkan perjuangan hidup mencapai kebenaran sejati berdasarkan tuntunan moral dan keagamaan. Kebenaran sejati tidak hanya diperlihatkan dalam bentuk perilaku yang terpuji, tetapi juga nampak pada pemakaian bahasa yang tersetruktur dan santun menurut bentuk dan isi. 
Pencapaian kebenaran sejati yang sudah membudaya dalam masyarakat Jawa dan kesenian tradisi seperti seni pakeliran ini umumnya dilanggar oleh Ki Enthus Susmono, terutama dalam hal olah bahasa sebagai media komunikasi. Misalnya, mengkritik (untuk meminta), menghujat (untuk menasehati), ungkapan porno (untuk keakraban), dsb. menjadi bagian dari gaya Ki Enthus dalam pendekatan seni marketing-nya. Dengan gaya yang humanis dan komunikatif, ia mampu menjadi corong masyarakat dalam berbagai situasi sehingga penonton senang dan sukses sebagai seorang dalang. Indiksinya, selain masuk dalam jajaran dalang kelas elit (laris dan mahal), juga penontonnya banyak disetiap pertunjukan. Pilihan gaya (urakan) yang dilakukan Ki Enthus tersebut karena kemampuannya membaca pasar: 
1. Menurunnya daya apresiasi masyarakat terhadap bahasa dan budaya Jawa yang normatif dan adiluhung ‘bernilai filsafat’ sehingga pemakaian bahasa pasar ‘sehari-hari’ lebih komunikatif dan berterima.
2. Menurunnnya etika dan moral masyarakat (dekansi) sehingga suguhan ungkapan bahasa yang cenderung kasar dan Porno jauh lebih alamiah dan menghibur dibandingkan dengan bahasa dalang yang indah dan sastrawi.
3. Berkembangnya budaya transparan pada masyarakat yang semakin massif dan luas, sehingga gaya Ki Enthus Susmono sebagai dalang blak-blakan ‘terbuka, terus terang’ dan tidak banyak menonjolkan aspek bahasa bersayap (simbolik) sebagaimana tradisi seni pewayangan konvensional dipandang mewakili citarasa masyarakat masa kini.
4. Masyarakat butuh hiburan, sehingga seni pakeliran Ki Enthus yang lebih menonjolkan lawakan menjadi daya pikat bagi penonton (Perbandingan durasi pathet nem 4 jam, pathet sanga 1 jam, dan pathet manyura 1 jam). 
5. Keberhasilan Ki Enthus dalam adaptasi sosial terhadap budaya modern sehingga pedalangannya menarik dan mudah difahami penonton. 
E. Penutup
Gaya pakeliran Ki Enthus yang mengolaborasikan seni tradisional dengan dengan seni modern dalam hal tata panggung, tata lampu (lighting), tata suara (sound effect), seni bahasa yang mengglobal, penambahan dan pengembangan cakrik ‘bentuk’ wayang dan berbagai inovasi lainnya sedang menapaki trend baru (babak baru). Dalang-dalang muda lainnya melihat gaya yang ditawarkan Ki Enthus sebagai sesuatu yang inovatif dan kreatif. Tidak sedikit generasi dalang muda lainnya yang menjadikan kiat (pendekatan) tersebut sebagai sesuatu yang pantas ditiru secara kreatif dan prospektif. 
Dengan analisis bahasa pedalangan Ki Enthus Susmono dan membandingkan berbagai pertunjukan wayang kulit yang ada akhir-akhir ini, terdapat fenomena bahwa ”aroma” perkembangan (perubahan) seni pedalangan di lingkungan masyarakat Jawa tidak terbendung lagi. Seni pakeliran memasuki babak baru, dengan paradigma seni untuk masyarakat. Penonton dan masyarakat adalah wilayah market yang harus diakomodasi segala kepentingannya. Seniman dalang yang ingin hidup dengan profesinya harus melakukan adaptasi konteks baik menyangkut tata panggung, tata musik, selera penonton dan penanggap, peristiwa aktual, inovasi lakon dan wayang pendukung, serta pemakaian bahasa yang humanis dan komunikatif. Seni pakeliran modern harus inovatif dan menempatkan pertunjukan wayang sebagai ”komoditas” yang bernilai ekonomis. Oleh karena itu wayang dan petunjukannya harus dikemas secara baik agar ”laku jual” dan kompetitif dengan produk seni lain. 

DAFTAR PUSTAKA

Amir, Hazim. 1985. Nilai-Nilai Etis dalam Wayang dan Pendidikan Watak Guru (Disertasi tidak dipublikasikan). Malang: Insitut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang, Fakultas Pasca Sarjana.

Antunsuhono. 1956. Reringkesaning Paramasastra Djawi, Kangge Sekolah Guru B, Lsp. Jogjakarta: Penerbit Soejadi.

Basir, Udjang Pr. M. 2002. Sosiolinguistik, Pengantar Kajian Tindak Berbahasa. Surabaya: Penerbit UNESA University Press Anggota IKAPI. 

Damono, Sapardi Djoko. 2000. Priyayi Abangan, Dunia Nover Jawa tahun 1950-an. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Djajasudarma, Fatimah T. 1993. Metode Linguistik, Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung: Penerbit Eresco bandung. 

-------, 1999. Semantik 1-2, Pemahaman Ilmu Makna. Bandung: Penerbit PT Revika Aditama. 

Fairclough and Wodak (1997) dalam Marianne W. Jorgensen and Louise J. Phillips. 2007. Analisis Wacana, Teori dan Metode. (Terjemahan). Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.

Fasold, Ralph. 1984. The Sociolinguistics of Society. England-New York: Basil Publisher Limited.

Fishman, Joshua A. 1972. The Sociology of Language. Rowley-Massachussetts: New Bury House Publishers.

Groenendael, Victoria M. Clara Van. 1987. Dalang dibalik Wayang (Terjemahan Pustaka Utama Grafiti). Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti.

Gunarwan, Asim. 2000. “Peran Bahasa sebagai Pemersatu bangsa”, dalam Bambang Kaswanti Purwo (Ed), Kajian Serba Linguistik, untuk Anton Moeliono Pereksa Bahasa. Jakarta: PT. BPK. Gunung Mulia.

Holmes, Janet. 2001. An Introduction to Sociolinguistics (Second Edition). London-New York: Longman. 

Jazuli, M. 2001. Wayang dalam Era Globalisasi: Suatu Pendekatan Interkultural. Yogyakarta: Yayasan Lentera Budaya.

Kachru, B.B. 1977. “Toward Structuring Code Mixing: An India Perspective” , dalam J.A. Fishman (Ed.) International Journal of The Sociology of Language. Vol. 16. The Hague: Mouton.

Leech, Geofrey. 1974. Semantics, First Edition. Harmondsworth: Penguin.

Leech, Geofrey terjemahan M.D.O. Oka. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia. 

Marianto, M. Dwi. 2002. Seni Kritik Seni. Yogyakarta: Lembaga Penelitian Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

M. Jazuli. 2001. Wayang dalam Era Globalisasi: Suatu Pendekatan Interkultural. Yogyakarta: Yayasan Lentera Budaya.

Moleong, Lexi J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya. 

Murtiyoso, Bambang. 1995. Faktor-Faktor Pendukung Popularitas Dalang. Yogyakarta: Universitas Gajah mada.

--------, 1998. “Model-Model Bentuk Pembaharuan Pedalangan Jawa”, dalam Gelar, Jurnal Ilmiah dan Seni STSI Surakarta, No.1, Tahun I/1998. 

Padmosoekotjo, S. 1960. Ngengrengan Kasusastran Djawa I-II. Jogjakarta: Penerbit dan Toko Buku Hien Hoo Sing.

Palmer, FR. 1981. Semantics. Second Edition. Cambridge, London-New York-New Rochelle-Melbourne Sydney : Cambridge University Press.

Poedjosoedarmo, Soepomo. 1979. Tingkat Tutur Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

-------, 1981. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Penerbit Universitas Gajah Mada

Purwadi, dkk. 2005. Tata Bahasa Jawa. Yogyakarta: Penerbit Media Abadi.

Rusyana, Yus. 1988. Perihal Kedwibahasaan (Billingualisme). Bandung: FPS IKIP Bandung.

Sastroamidjojo, Seno. 1964. Renungan tentang Pertundjukan Wajang Kulit. Djakarta: Penerbit Kinta Djakarta.
Soedarsono. 1986. Lakon Carangan dan Citra Pahlawan Pewayangan dan Sastra Jawa. Yogyakarta: Javanologi Depdikbud.
Soedarsono, Ki Manteb. 1998. “Memberi Landasan Kuat bagi Inovasi dalam Pertunjukan Wayang Kulit”, dalam Inovasi dan Transformasi Wayang Kulit, Kasidi Hadiprayitno (Ed.). Yogyakarta: Lembaga Studi Jawa. 

Soetarno, R, AK. 1983. “Dimensi Filsafat dalam Pewayangan”. Makalah Seminar Kesenian oleh Sub Bagian Proyek Aski Surakarta, Januari 1983.

Soetrisno, R. 2004. Nilai Filosofis Kidungan Pakeliran. Yogyakarta: Penerbit Adita Pressindoesti Yogyakarta.

S. Padmosoekotjo. 1958. Ngengrengan Kasusastran Djawa I-II, Kangge Para Siswa Sekolah Guru lan Sekolah Landjutan Lijane. Jogjakarta: Hien Hoo Sing. 

Sudaryanto. 1992. Metode Linguistik, Metode dan Aneka Teknik Pengumpulan Data I-II. Yogyakarta: Gajahmada University Pressa.

Sumarsono. 2007. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Penerbit Sabda-Pustaka Pelajar.

Suparno, dkk. 2001. Abstrak Hasil Penelitian Bahasa dan Sastra. Surabaya: Biro Kesejahteraan Sosial Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Timur. 

Suseno, B. Djoko. 1997. Sajian Kemasan Wayang Kulit dan Wayang Golek Bagi Wisatawan Mancanegara. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada (tidak dipublikasikan). 

Sutarno. 1994. “Makna Simbolis dala Pertunjukan Wayang Kulit”, Makalah Seminar Falsafah Wayang yang diselenggarakan oleh Pemda Sukoharjo 10-12 Juni 1994 di Sukoharjo.

Thelander, M. 1976. “Code Switching of Code Mixing”, dalam J.A. Fishman (Ed.). International Journal of The Sociologyof Language. Vol. 10. The Hague: Mouton. 

Wijana, I. Dewa Putu. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik dan Kreatif Berbahasa Menuju Keterampilan Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit Andi Yogyakarta.

Yule, George. 1996. “Pragmatics”, Oxford Introductions to Language Study, Series aeditor H.G. Widdowson. New York: Oxford University Press.

*http://domainhelp.search.com/reference/Diglossia, 21/08/2007.

*http://en.wikipedia.org/wiki/Swiss-German, 21/08/2007.

*http://jcmc.Indiana.edu/vol9/issue1/Durham.html, 21/08/2007.