IDEOLOGI VERSUS IDENTITAS DALAM PAGELARAN WAYANG KULIT

Oleh : Bambang Sulanjari  (IKIP PGRI Semarang)

bbg_sljr@yahoo.com
bbg_sljr@ikippgrismg.ac.id

Abstract
Key words: identity, ideology, shadow puppets

This study discusses the puppet show that is packed in the form of festival in terms of identity and ideology. To limit the scope of the research, Yogyakarta puppet performance style is chosen as the object of the study.
The term of Yogyakarta style is not only referring to the territory, but more in the cultural scope. Problem of this identity must be drawn on questions of ethnicity, because identity is one of the three elements that form ethnic groups. The concept of ethnicity is divided into two. First, ethnicity is as a structural concept and second, ethnicity is as a cultural concept. In each show, ideology canbe seen through the analysis of performances in detail. The dalang or shadow puppet player as the festival participants tried to convey the ideology on their own way. The dalangs perfomances appear to be more prominent when ideological factors intervene their performances. Recording and review of related literature are used to collect the data. Qualitative descriptive method is used to analyze the identity and ideology in all aspects of the performances.
In the puppet shows, there is a contradiction between identity and ideology. On one hand the dalangs want to show their creativity in responding to ideology, but on the other hand they still trapped by the tradition as an identity.
This study aims to uncover the role of identity and ideology in the show. It also aims to find the alternatives to bridge the conflict of ideology and identity, so that the Yogyakarta puppet show are able to compete with another puppet show style, such Surakarta style or Sundanese style.

1. Pengantar
Tulisan ini didasari pengamatan terhadap pertunjukan wayang kulit yang dikemas dalam bentuk festival tingkat provinsi yang terjadi di Yogyakarta, sejak tahun 2008 sampai dengan tahun 2011. Selama kurun waktu itu terdapat setidaknya empat even festival pertunjukan wayang kulit. Pertama, Seleksi Dalang Profesional Tingkat Provinsi DI Yogyakarta, pada tanggal 25 November 2008 bertempat di Auditorium RRI Yogyakarta, diikuti empat dalang profesional. Kedua, Festival Dalang Anak-Remaja 2011 pada tanggal 14 Mei 2011, bertempat di Rumah Budaya Tembi, diikuti oleh 15 siswa SD-SMP. Ketiga, Festival Dalang Anak 2011 yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DIY pada tanggal 24-25 Mei 2011 di Ndalem Yudaningratan Yogyakarta, diikuti 8 dalang cilik yang berusia 8-15 tahun. Keempat, Seleksi Dalang Remaja 2011, bertempat di Joglo Kartini, Gabugan, Donokerto, Turi, Sleman, tanggal 30 September 2011, diikuti lima dalang remaja. 
Sebenarnya masih ada lagi beberapa pertunjukan berformat serupa festival, namun tidak termasuk dalam wilayah kajian ini. Di samping karena sifatnya yang tidak dilombakan atau hanya bertitel parade misalnya, juga karena even-even itu tidak mengkhususkan peserta yang bergaya Yogyakarta. Pertunjukan yang masuk dalam wilayah kajian ini hanya dibatasi pada pertunjukan yang terdapat dalam festival wayang kulit gaya Yogyakarta saja.
Keempat pertunjukan yang menjadi obyek penelitian ini memiliki kekhasan sendiri-sendiri, terutama dari sisi peserta. Seleksi Dalang Profesional 2008, mensyaratkan peserta harus dalang senior dan profesional, oleh karena itu meskipun setiap kota/kabupaten seharusnya mengirim satu orang wakil, namun Kota Yogyakarta tidak mengirimkan, karena tidak memiliki dalang profesional. Even kedua, Festival Dalang Anak-Remaja 2011, diikuti oleh 16 anak usia SD dan SMP, mewakili SD atau SMP masing-masing. Festival Dalang Anak 2011, diikuti delapan anak usia delapan sampai lima belas tahun. Terakhir, Seleksi Dalang Remaja 2011 diikuti lima dalang remaja yang mewakili kabupaten/kota masing-masing.
Wayang kulit gaya Yogyakarta, berdampingan dengan wayang kulit gaya Surakarta, adalah gaya yang besar dalam dunia wayang kulit. Dua gaya ini memang tumbuh alami menjadi dua gaya besar, karena di dua wilayah ini terdapat keraton yang dulu merupakan otoritas dominan. Otoritas dominan keraton itu menyisakan kekuatan kultural yang residual. Wayang kulit gaya Surakarta berhasil menembus batas wilayah gaya. Gaya ini bisa hidup dan eksis di wilayah mana saja yang mengenal pertunjukan wayang kulit. Berbeda halnya dengan wayang kulit gaya Yogyakarta, di wilayahnya sendiri memang cukup menggembirakan eksistensinya, namun seperti tidak memiliki daya tembus untuk hadir di wilayah gaya lain. Gaya Surakarta terasa lebih cair. Di Yogyakarta, kehadiran keraton sebagai pusat kebudayaan masih nyata, sehingga terbuka kemungkinan bagi adanya standardisasi dan sentralisasi gaya. 
Ketika dihadapkan pada sebuah format yang tidak sama dengan format semalam suntuk, maka para dalang tentu akan berusaha membuat pertunjukannya memenuhi format tersebut. Format festival menuntut dalang untuk sefleksibel mungkin menyiasati tata aturan yang ada tanpa harus melanggar batas-batas tradisi. Di sinilah terlihat adanya pergumulan antara ideology festival dengan identitas. Penelitian ini akan melihat seberapa jauh para dalang menggunakan kekuatan tradisi atau identitas dalam rangka memenuhi ideology pertunjukan. Pada gilirannya penelitian ini akan berusaha mencari cara dalam rangka menyiasati pertentangan ideology dan identitas.

2. Persoalan Identitas
Salah satu butir rambu-rambu yang ditentukan oleh panitia keempat festival yang menjadi obyek penelitian ini adalah peserta harus mempertunjukkan wayang kulit purwa gaya Yogyakarta. Pembatasan gaya Yogyakarta di sini berkaitan dengan masalah identitas. Istilah gaya Yogyakarta di dunia wayang barangkali sudah bukan istilah yang asing. Tetapi karena seleksi tersebut menyangkut masalah teritorial, maka masalah terwakili atau tidaknya tradisi pewayangan di Yogyakarta menjadi penting. Agaknya yang dimaksud Yogyakarta oleh panitia penyelenggara adalah Provinsi DI Yogyakarta. Padahal dalam pewayangan, istilah gaya Yogyakarta tidak hanya mengacu pada wilayah teritorial saja, tetapi lebih pada wilayah budaya. Jika yang dimaksud adalah gaya yang mengacu pada sebuah tradisi pewayangan yang hidup di kraton – meskipun mungkin tidak berakar atau berasal dari kraton – maka terjadi kerancuan, karena gaya itu tidak hanya hidup di wilayah Yogyakarta yang terdiri dari lima wilayah daerah tingkat dua saja. Beberapa wilayah yang termasuk Provinsi Jawa Tengah, atau bahkan beberapa provinsi di Sumatra mengenal dengan baik gaya pedalangan itu. Bahkan di beberapa wilayah melahirkan dalang yang cukup kondang, misalnya Ki Sutarko dari Kebumen dan Ki Basuki dari Purworejo. Dari sisi yang lain di wilayah Yogyakarta sendiri juga hidup gaya yang secara umum dikenal sebagai gaya Surakarta, yaitu di beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Gunungkidul yang berbatasan dengan wilayah Jawa Tengah: Kecamatan Gedangsari, Kecamatan Semin dan Kecamatan Ngawen. Bahkan di Kota Yogyakarta sendiri sering dipentaskan wayang bergaya Surakarta. 
Masalah identitas gaya Yogyakarta memang perlu dibahas lebih dalam, sehingga tidak menimbulkan salah tafsir, mengingat ternyata di wilayah provinsi ini hidup lebih dari satu gaya pedalangan. Di dalam rangka tradisi pedalangan Yogyakarta sendiri menurut Kuntara Wiryamartana, terdapat beberapa cabang tradisi atau versi yang juga eksis. Apakah ini sudah cukup terwakili dalam seleksi tersebut, layak mendapat sorotan. Tim Peneliti Jurusan Sastra Nusantara UGM pernah mengadakan penelitian tentang identitas pedalangan gaya Yogyakarta, dengan mengambil sampel dua dalang terkenal dari Yogyakarta, Ki Hadisugito dan Ki Timbul Hadiprayitna. Namun penelitian inipun hanya sebatas penelitian tekstual dan belum sepenuhnya membahas tentang gaya Yogyakarta dan segala seluk-beluk tradisinya. 
Eksistensi mendiang dua dalang kondang, Ki Hadisugito dan Ki Timbul Hadiprayitna memang bisa dijadikan patokan, meskipun di antara keduanyapun terdapat perbedaan-perbedaan yang cukup signifikan. Meskipun penyimpulan ini sangat bersifat sementara, bolehlah dikatakan bahwa pakeliran gaya dua dalang inilah yang disebut sebagai gaya Yogyakarta. Pada kenyataannya dua dalang inilah yang menjadi model pakeliran para dalang muda di Yogyakarta.
Masalah identitas ini agaknya tidak mudah untuk diputuskan. Perlu kiranya ditarik pada persoalan-persoalan etnisitas, karena identitas adalah salah satu dari tiga – group, identity, history – yang membentuk kelompok etnik. Identitas umumnya dipengaruhi oleh asal-usul dan latar belakang. Identifikasi diri yang didasarkan atas realitas sosial seperti agama dan kepercayaan, bahasa dan sukubangsa secara bersamaan dapat membentuk etnisitas atau dapat diberi label etnisitas. Hari Poerwanto membagi konsep etnisitas dalam dua hal, pertama etnisitas sebagai konsep struktural yang menunjuk pada suatu atribut abstrak dari para aktor, misalnya dengan pemahaman tentang tingkah laku mereka, kemudian memasukkannya sebagai anggota dari suatu etnis, dan akhirnya memberikan penilaian pada situasi manakah aktor tersebut ditempatkan. Kedua etnisitas sebagai konsep kultural, yaitu mengenai bagaimanakah para aktor tersebut menyusun pengalamannya sendiri, di mana konsep etnisitas di sini dipakai untuk lebih memahami suatu ekspresi bersama dari suatu sukubangsa, yaitu sebagai pencerminan sikap oposisi mereka terhadap suku bangsa lain yang memiliki sikap dasar yang berbeda. 
Secara lebih tajam lagi, dalam memperjuangkan pengakuan atas keragaman budaya, orang berbicara atas nama suatu kelompok budaya tertentu, antara lain yang mengacu pada etnisitas, agama, ras dan daerah, karena perjuangan untuk mendapatkan hak terkait dengan identitas budaya tertentu maka dengan sendirinya muncul persoalan mengenai kepemilikan terhadap identitas tersebut: siapa yang berhak bicara atas namanya. 
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa identitas bias bersifat komunal dan individual. Penyebutan identitas gaya Yogyakarta di sini lebih bersifat komunal berdasar batas territorial. Identitas individual dikesampingkan demi kebebasan interpretasi gaya oleh para dalang. 
Para dalang peserta festival tentu saja mengklaim dirinya adalah representasi gaya Yogyakarta. Memang apa yang mereka peragakan secara garis besar telah menunjukkan gaya Yogyakarta dengan kadar yang berbeda-beda. Identitas gaya yang berupa kelengkapan pertunjukan (wayang, gamelan, keprak, kelir ‘layar’, pakaian), menunjukkan gaya Yogyakarta. Iringan sudah digarap variatif, namun tetap menggunakan iringan wayang pokok bergaya Yogyakarta (gending srepegan atau playon). Namun, dalam hal penggarapan lakon, ‘cerita’, mengingat terbatasnya waktu (40 sampai 60 menit), maka apa yang diperagakan oleh peserta adalah kumpulan dari potongan-potongan atau mozaik saja dari cerita yang panjang. Akibatnya, banyak lakon yang dipertontonkan oleh peserta justru tidak bias dipahami oleh orang awam, atau orang yang tidak mengenal cerita wayang. Padahal, cerita atau lakon itu merupakan kekuatan yang memiliki daya tembus.
Dari sisi pemanggungan, para dalang mengetengahkan adegan, olah vokal (sulukan, janturan, ginem) seperlunya saja. Mayoritas peserta memaksakan diri menghadirkan unsur-unsur yang menunjukkan kekhasan gaya Yogyakarta. Akibatnya sisi dramatisasi kurang mendapat perhatian. Hadirnya sulukan atau janturan tertentu yang terkesan dipaksakan justru terasa mengganggu laju cerita. Ini bukti bahwa para dalang terkesan kurang bisa memanfaatkan kekuatan identitas. Padahal identitas itu ada, bukan berarti menjadi kerangkeng atau penjara bagi dalang dalam berkreasi. Identitas, bahkan menjadi sumber inspirasi kreativitas seniman. Identitas terkait dengan penampilan kepercayaan diri untuk memperoleh pengakuan dan selanjutnya untuk menjaga eksistensi. Seharusnya ajang festival justru menjadi tempat untuk menancapkan eksistensi, karena setiap festival --terutama yang menjadi obyek kajian ini-- pasti disertai publikasi yang gencar, sehingga tidak aneh jika penonton yang datang menyaksikan berjubel. Dalam ajang festival para dalang mendapat wadah untuk mempromosikan diri di hadapan para calon penanggap.

3. Masalah Ideologi
Sebuah pertunjukan pasti mengandung ide di belakangnya. Demikian pula pertunjukan wayang dalam format festival tentu memilik ide pokok. Sebagaimana pengertian tentang ideologi dari beberapa pakar, seperti Marx: ideologi adalah pengelabuhan, Gramsci: ideologi adalah pandangan tentang dunia, Althusser: ideologi interpellates the subject, maka ideologi ini akan mewarnai seluruh pertunjukan. 
Bagaimana ideologi akan terlihat melalui pertunjukan, hanya akan didapat melalui analisis pertunjukan secara detil. Para dalang peserta festival menerjemahkan ideologi dengan cara mereka masing-masing. Misalnya dalam ajang Seleksi Dalang Profesional Yogyakarta, Ki Suranto dari Kulon Progo menggali falsafah lakon Dewa Ruci yang ditampilkannya. Kepiawaiannya dalam mengupas ngelmu sangkan paran ditunjukkan dalam dialog-dialog verbal Bima dengan para gurunya. Ki Agus Sunarto dari Gunung Kidul mengolah lakon dengan sanggit kisah Wrehatnala dalam lakon Wirathaparwa. Ki Hadi Sutikno dari Kabupaten Sleman menonjolkan dramatisasi peristiwa kematian Salya dalam lakon Salya Gugur. Ki Sutejo dari Kabupaten Bantul lebih banyak mengolah sabet dalam lakon Pedhut Pringgadani. Kelebihan masing-masing dalang yang berbeda tampak semakin menonjol ketika ada campur tangan faktor ideologi dalam pertunjukan mereka.
Apa yang tertanam dibenak para peserta festival adalah menjuarai festival itu. Meskipun untuk mengetahui ide pokok di dalam sebuah pertunjukan memerlukan analisis mendalam tentang ideologi, namun secara sederhana dapatlah dikatakan bahwa ideologi pertunjukan itu adalah membungkus identitas yang dilatarbelakangi tradisi dengan kekinian. Di samping itu, tiga dari empat festival obyak kajian ini bertujuan untuk menentukan wakil Provinsi DI Yogyakarta pada Festival wayang tingkat nasional. Dengan demikian para dalang dituntut untuk memenuhi selera penonton -dalam hal ini yuri- tingkat nasional.
Secara garis besar ideology yang membayangi para peserta dapat dibedakan dalam dua kategori besar: kategori konservatif dan kategori kompetitif. Para dalang yang konservatif berpandangan bahwa identitas adalah segala-galanya. Tanpa mempertimbangkan kekinian, para dalang ini berupaya menampilkan identitas senormatif mungkin. Bagi para dalang ini, pemenang festival adalah mereka yang kadar identitas keyogyakartaannya paling tinggi. Sebaliknya, para dalang yang berideologi kompetitif melihat festival sebagai ajang merepresentasikan dirinya. Mereka berusaha dengan aktif memanfaatkan identitas baik komunal maupun individual dalam rangka kekinian. Para dalang di aliran ini memandang festival sebagai ajang untuk menasional, oleh karena itu mereka akan mengurangi kadar identitas komunal dan lebih menonjolkan identitas personal: memanfaatkan kekuatan tradisi untuk mengembangkan sayap. 

4. Kesimpulan
Jika perhatian serius diberikan kepada pentas seleksi dalang tersebut, akan terlihat pertarungan antara ideologi dan identitas. Di satu pihak dalang ingin menunjukkan kreativitas menanggapi ideologi, namun di lain pihak dalang masih saja terbelenggu oleh batas-batas tradisi sebagai identitas. Sesungguhnya seni itu adalah ekspresi, sehingga akan sulit dimengerti jika ada dua nakhoda dalam satu kapal yang bernama wayang. Ketika Suranto mengupas filosofi Banyu Suci Perwitasari, tetap dibungkus dengan tradisi pedalangan yang tradisional dan terkesan kaku. Agus Sunarto kesulitan memanfaatkan kecreknya yang bergaya tradisional untuk mengimbangi iringan yang digarap sedemikian rupa. Ki Hadi Sutikno terlihat lebih bebas mendramatisasi lakon Salya Gugur. Kesenioran Ki Hadi Sutikno barangkali menyebabkan keberhasilannya mengolah lakon, namun tetap saja dramatisasi itu harus taat kepada pola-pola iringan tradisional. Ki Sutejo yang memang terkenal sebagai dalang sabet, cukup berhasil menyatukan sabet dengan iringan yang notabene baru. Sekali lagi Ki Sutejo terlihat takut melanggar batas-batas tradisi, sehingga terkesan sabetnya kaku dan tidak variatif.
Itulah jika ideologi dan identitas yang tidak sinkron bersama-sama menahkodai “kapal” pertunjukan wayang. Pertanyaannya adalah kapan wayang gaya Yogyakarta akan menjadi nasional kalau masih terkungkung tradisi yang diagung-agungkan sebagai identitas? Inilah yang perlu dicari jawabannya, agar wayang Yogyakarta mampu bersaing dengan wayang yang lain, wayang gaya Surakarta atau wayang golek Sunda misalnya, meskipun tetap disajikan dalam bahasa daerah namun terasa lebih Indonesia dari pada Jawa atau Sunda.
Konsep identitas wayang gaya Yogyakarta harus lebih dipertegas dalam ajang-ajang seleksi atau festival semacam kegiatan ini, agar para dalang mampu menyatukan identitas dan ideologi dalam pertunjukan mereka dengan penuh kebebasan, tanpa terbelenggu oleh simbol-simbol tradisi. 
Keanekaragaman garap yang disajikan oleh para dalang itu menandakan masih terlalu longgarnya rambu-rambu yang ditentukan oleh panitia. Di satu sisi hal ini menguntungkan para dalang untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, namun di sisi lain mereka pantas mempertanyakan, sebenarnya aspek manakah yang menjadi standar penilaian dewan yuri; pertunjukan yang konservatif atau yang kompetitif; pertunjukan yang lebih identik dengan tradisi atau yang lebih ideologis kekinian yang berhak menyandang predikat pemenang.
Dalam rangka menciptakan sebuah pertunjukan yang bernuansa kekinian dengan memanfaatkan kekuatan identitas tradisi, menyitir pendapat Patrice Pavis yang telah diolah oleh Yudiaryani , ada lima tahap yang harus ditempuh para dalang. Pertama, identifikasi tradisi. Pada tahap ini dalang harus menemukan kembali konsep-konsep tradisi (baca: identitas) yang menjadi konsep dasar penggarapan. Tahap kedua adalah textual concretization atau tahap observasi artistic. Pada tahap ini dalang berusaha mengkonkretkan gagasan melalui bentuk artistic dengan cara pencarian spirit dalam identitas tradisi. Tahap ketiga adalah dramaturgical concretization, yaitu usaha seniman untuk menyesuaikan eksplorasinya dengan perspektifnya. Dalam tahap ini konteks mulai diperhitungkan, selera penonton (baca: kekinian) mulai diamati dengan cermat, kecenderungan artistic penonton menjadi perhatian utama. Tahap keempat adalah stage concretization, pengejawantahan gagasan melalui pemanggungan. Dalam tahap ini dalang berusaha mendekatkan perspektifnya dengan perspektif penonton melalui elemen-elemen pemanggungan. Tahap kelima adalah receptive concretization. Pada tahap ini dilakukan uji coba pemanggungan untuk mendapatkan balikan dari penonton. Dalang benar-benar harus lebur dengan selera penonton. Di sinilah selera modern bertemu dengan artistic seni tradisi. Tentu saja pada tahap ini akan terjadi tarik ulur artistic antara dalang dengan penonton.
Proses ini seharusnya tidak hanya dipahami oleh dalang, tetapi juga dipahami oleh yuri sehingga tidak terjadi kesenjangan yang justru akan berakibat semakin terperosoknya seni tradisi.

Lampiran

Para peserta festival:

1. Seleksi Dalang Profesional, 25 November 2008.
1) Ki Agus Sunarto (Wirathaparwa)
2) Ki Cerma Suteja (Pedhut Pringgadani)
3) Ki Hadi Sutikno (Salya Gugur)
4) Ki Suranto (Dewa Ruci)

2. Festival Dalang Anak-Remaja 2011, 14 Mei 2011. 

a. Kelompok SD
1) Wahyu Carita Pamungkas
2) Pradita Atmaja
3) Prastowo
4) Ragil Jalu Pangestu
5) Erlangga Betran P
6) Sayang Ayu Setiani
7) Gansar Yogi Armansyah
8) Hanan Wisma Dwi Atmaja
9) Ratnanto Adi Putro Wicaksono

b. Kelompok SMP
1) Aldi Priambodo
2) Rahmat Basuki
3) Putra Laksana Tanjung
4) Galih Ari Prabowo
5) Waluyo
6) Hendra Galih Pramono 
7) Dicki Yoga Mahendra.

3. Festival Dalang Anak 2011, 24-25 Mei 2011. 
1) 1. Aldi Priambodo (Kota Yogyakarta, lakon ”Jabang Tetuka”)
2) Wahyu Catur Pamungkas (Kabupaten Bantul, lakon ”Kangsa Lena/Adu Jago”)
3) Bayu Probo Prasopo Aji (Kabupaten Sleman, lakon ”Kangsa Lena”)
4) Putra Laksana Tanjung (Kabupaten Gunung Kidul, lakon ”Sena Bumbu”)
5) Prasetya Banar Wicaksono (Kabupaten Sleman, lakon ”Aji Narantaka”)
6) Rosiansah Dharma Pratama (Kabupaten Gunung Kidul, lakon ”Babad Alas Mertani”)
7) L. Hanan Wisma Dwi Atmaja (Kota Yogyakarta, lakon ”Senggana Duta”) 
8) Rahmat Basuki (Kabupaten Bantul, lakon ”Jabang Tetuka”)

4. Seleksi Dalang Remaja 2011, 30 September 2011.
1. Ki Widiyatmoko (Kab. Gunung Kidul; Brojodhenta Gugur)
2. Ki Restu Hermawan (Kab. Kulon Progo; Sang Sucitra)
3. Ki Sumantri Adhi Saputro (Kab. Bantul; Dewa Ruci)
4. Ki Nugroho Hardi Seputro (Kota Yogyakarta; Begawan Sukma Anggana)
5. Ki Sri Hartanto (Kab. Sleman; Wiratha Parwa)


PUSTAKA

Kayam, Umar. 2001. Kelir Tanpa Batas. Yogyakarta: Gama Media.

Langer, Suzanne K. 2006. Problematika Seni. Bandung: Sunan Ambu Press.

Poerwanto, Hari. “Ekspresi Kesukubangsaan dan Integritas Nasional” dalam Heddy Shri Ahimsa-Putra (ed.). 2006. Esei-esei Antropologi. Yogyakarta: Kepel Press.

Simatupang, Lono Lastoro. “Dari Perbedaan dan Kesamaan Menuju Pembedaan dan Penyamaan” dalam Heddy Shri Ahimsa-Putra (ed.). 2006. Esei-esei Antropologi. Yogyakarta: Kepel Press.

Sunardi, ST. 2002. Semiotika Negativa. Yogyakarta: Kanal.

Tim Peneliti Jurusan Sastra Nusantara FIB-UGM. 2006. “Identitas Pedalangan Yogyakarta: Transkripsi Teks dan Studi Lakon”. Laporan Penelitian.

Wiryamartana, I. Kuntara. 1985. “Transformasi Wiracarita Mahābhārata dalam Pewayangan Jawa: Tinjauan Khusus: Baratayuda Tradisi Yogyakarta” dalam Soedarsono, dkk. Citra Pahlawan dalam Kebudayaan Jawa. Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi), Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen P dan K.

Yudiaryani, 2006, “Pemanfaatan Tradisi Lisan di Dalam Pertunjukan Teater Indonesia”, Makalah dalam Workshop dan Festival Tradisi Lisan yang diselenggarakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, 6-7 September 2006.