HERBERT SPENCER DAN EVOLUSI BUDAYA

Post On : 08 Maret 2012 , Oleh BAMBANG SULANJARI - IKIP PGRI SEMARANG

1. Pengantar: Teori Evolusi
Evolusi dapat didefinisikan sebagai perubahan atau perkembangan, misalnya perubahan dari yang sederhana ke yang kompleks. Perubahan yang terjadi bersifat perlahan-lahan, sedikit demi sedikit. Evolusi merupakan lawan dari kata revolusi, yang berarti perubahan secara cepat. Bidang-bidang telaah sosial selama abad ke-19 didominasi oleh teori-teori evolusi dan perkembangan. 
Bicara evolusionisme tidak akan lepas dari seorang tokoh bernama Charles Darwin. Melalui bukunya “The Origin of Species” (1859) ia berpendapat bahwa spesies tidak dapat bermutasi. Spesies-spesies yang terdapat dalam generasi yang sama adalah keturunan linear dari spesies tertentu lain yang pada umumnya sudah punah. Spesies-spesies itu juga diakui sebagai variasi dari spesies masa lalu yang telah punah itu. Gagasan Darwin ini dianggap sebagai ancaman bagi kaum Kristen ortodoks. Meskipun sesungguhnya Darwin bukanlah orang pertama yang mengeluarkan pernyataan tentang penciptaan spesies baru secara evolusioner, namun pernyataan itu mengundang pro dan kontra. Kaum fundamentalis yang meyakini kitab suci secara harafiah tidak mau berkompromi dengan pernyataan Darwin ini. Namun di sisi lain bukti-bukti evolusi cukup mendorong orang untuk melakukan penafsiran kembali kitab suci secara metaforis dan figuratif. 
Konsep evolusi yang diungkapkan oleh Darwin tentang evolusi manusia menjadi ide kunci dari konsep evolusi. Pengertian teori evolusi mengalami perkembangan dari abad ke abad. Pada abad ke-18, evolusi dianggap sama dengan teori human progress, yaitu teori yang mengatakan bahwa sejarah manusia merupakan kemajuan yang bertahap dari ke-takberadaban dan kesengsaraan menuju sesuatu yang lebih tinggi, cara hidup yang lebih baik. Teori evolusi, sebagaimana teori progress, menekankan paham optimisme bahwa dalam perkembangan ini, sesuatu menjadi lebih baik. Lambat laun kedua teori ini berpisah, karena permasalahan yang timbul semakin kompleks. Kebudayaan tidak selalu berkembang ke arah yang lebih baik, sebagaimana menjadi ciri utama teori progress. Berdasar kenyataan inI maka teori evolusi mendapat tempat tersendiri.
Teori evolusi pada dasarnya adalah sebuah usaha untuk mendeskripsikan kecenderungan-kecenderungan tertentu dalam peristiwa, bukan menjelaskannya dalam berbagai cara yang komplit dan pokok. Teori evolusi dapat menjadi bagian dalam menjelaskan peristiwa atau fenomena yang terjadi di dalamnya dengan pengertian yang populer dan sederhana. Hal ini dapat membantu untuk memahami bagaimana suatu benda terbentuk, melalui proses sebab yang bagaimana. Konsep evolusi memiliki kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas sebagai sarana dan prinsip untuk menjelaskan rekonstruksi teoritis dalam setiap subyek. 
Sebelum perang dunia pertama sikap kritis dan negatif mengancam kelangsungan konsep evolusi kebudayaan. Sekitar peralihan abad XX, mulailah muncul bebagai reaksi penolakan terhadap cara-cara berpikir secara evolusioner. Penolakan ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena adanya penolakan humanistis terhadap Darwinisme sosial. Kedua, khusus untuk Antropologi, disebabkan semakin berkurangnya penghargaan terhadap “spekulasi dari belakang meja” dan makin dipentingkannya studi empirik di lapangan. Darwinisme sosial menekankan perjuangan untuk bertahan hidup di antara kelompok-kelompok sosial. 
Dalam antropologi sekarang, penjelasan alami dengan penjelasan supranatural tidak menjadi masalah lagi. Dulu setiap upaya untuk menegakkan disiplin ilmiah antropologi selalu mendapat rintangan dari iklim penjelasan supranatural. Selain itu para evolusionis abad XIX juga berhadapan dengan kelangkaan materi empirik yang andal, sehingga mereka sering mencoba mengadakan rekonstruksi logis maupaun rekonstruksi imaginatif. Rekonstruksi inilah yang dimaksud dengan “spekulasi dari belakang meja”. Meskipun langkah ini secara ilmiah merupakan prosedur yang sangat dapat diterima, namun para spekulan itu sering membuat kekhilafan dengan mengasumsikan bahwa dunia empirik seolah-olah mempunyai kewajiban untuk memenuhi rekonstruksi logis mereka. 

2. Teori Evolusi Herbert Spencer
Meskipun Darwin dianggap sebagai pencetus teori evolusi, namun pada perkembangan selanjutnya banyak pendapat evolusionis dari antropolgi justru menyerang Darwin. Oleh karena itu tidak aneh jika kemudian evolusionisme dalam ilmu-ilmu budaya terbagi dalam dua kelompok besar berdasarkan perbedaan basis metafisika. Kelompok pertama yang diturunkan dari Hegel ke Bergson, Croce, dan Collingwood, menganut konsep idealistik atau vitalistik. Konsep ini mengaitkan evolusi dengan kerja pikiran kosmik dan supernatural serta life force. Kelompok kedua dimotori oleh Comte, Spencer, Darwin, Marx, Morgan dan Taylor. Kelompok ini menganut konsep positivistis atau naturalistis. Konsep ini lebih mengandalkan data empiris dan physical causation. Kelompok kedua ini mencoba menjelaskan evolusi dalam kerangka kerja hukum alam yang rapi dan bersifat impersonal. Pandangan ini dikenal juga sebagai mechanism, khususnya dalam bidang biologi sebagai kebalikan dari vitalisme atau kepercayaan pada daya kreatif, nyata dan non material dalam hidup dan evolusi. Selain itu konsep ini disebut juga realisme sebagai lawan dari idealisme. 
Herbert Spencer adalah salah seorang dari evolusionis antropologi yang berasal dari kalangan ilmu-ilmu alamiah. Ia adalah seorang Inggris yang menganut tradisi Prancis dan termasuk salah satu tokoh yang tidak sependapat dengan teori evolusi Darwin. Jika Darwin berpendapat bahwa seleksi alam sebagai modus dan mekanisme utama timbulnya spesies-spesies baru, maka Spencer menitikberatkan adanya dinamika internal yang mendorong populasi menjadi semakin kompleks. Menurut Spencer evolusi dalam prinsip yang pertama merupakan perubahan dari ketidakselarasan yang sama menuju ke sebuah keanekaragaman yang masuk akal, diikuti dengan menghilangnya sebuah pergerakan dan penggabungan masalah. Singkatnya, sebuah perubahan berasal dari segala sesuatu yang serba sama menjadi beraneka ragam atau disederhanakan ke dalam sesuatu yang lebih kompleks yang berturut-turut mengalami perbedaan, 
Spencer memandang transformasi masyarakat sebagai titik fokus bagi penelitian. Menurutnya ilmu pengetahuan mengenai masyarakat berlandaskan pada ilmu mengenai kehidupan (biologi). Ia juga mengemukakan bahwa pemikiran evolusionis dan pemikiran Darwin sebagai sebuah pemikiran yang tepat. Masyarakat adalah komponen-komponen yang terjalin satu sama lain, yang masing-masing komponen menjalankan fungsinya. Selama abad XIX Spencer mengembangkan analogi organik yang memandang bahwa individu adalah konstruksi sosial. Kemajuan sosial sebagai konsekuensi dari evolusi sistem sosial. Masyarakat berkembang seperti hewan atau organisme tumbuh-tumbuhan. 
Teori Spencer disebut teori evolusi sosial universal. Spencer melihat perkembangan masyarakat dan kebudayaan dari tiap bangsa di dunia itu telah atau akan melalui tingkat-tingkat evolusi yang sama. Namun ia tak mengabaikan fakta, bahwa secara khusus tiap bagian masyarakat atau sub-sub kebudayaan bisa mengalami proses evolusi yang melalui tingkat-tingkat yang berbeda-beda. 
Spencer membedakan antara pertumbuhan budaya dan perkembangan budaya. Pertumbuhan adalah proses pertambahan, sedangkan perkembangan mengandung pengertian transformasi struktur. Tentang perubahan dan perkembangan yang dirumuskan Spencer dapat diringkas:
a. Perkembangan akan mengalami kemajuan yang signifikan dan menyolok. Spencer tidak mengidentifikasi kemajuan tersebut secara lengkap, hanya disebutkan bahwa beberapa kesulitan mengakibatkan kemunduran dan beberapa penyederhanaan menyebabkan kemajuan.
b. Kemajuan dalam teori Spencer adalah pada pokok persoalannya. Spencer optimis bahwa perubahan yang pasti akan terjadi, dan kemajuan akan terjadi secara otomatis dari perubahan tersebut. Kemajuan yang diungkapkan oleh Spencer adalah berdasar pada sebuah kemajuan akan kemampuan sebuah perubahan.
c. Bertambahnya faktor kesulitan adalah faktor yang tidak penting, dan ini bukanlah sebuah asas dalam hukum alam semesta dan kehidupan. Organisme menyesuaikan dengan baik untuk bertahan dari sebuah perubahan atau perbedaan kondisi. Kesulitan dalam penyesuaian diri dari sebuah spesies atau organisme tertentu yang terputus akan mengakibatkan perubahan tetapi bukanlah perkembangan. 

Pengaruh Spencer dan Darwin tersebar melalui masyarakat umum di Inggris dan Amerika Serikat. Di kalangan cendekiawan akademik di Inggris, pengaruh Spencer hampir dapat “ditiadakan”, meskipun ia berpengaruh kuat pada hal yang sama di tempat lain. Tidak terpakainya Spencer di kalangan akademik disebabkan oleh kenyataan bahwa dirinya bukanlah anggota masyarakat kelas atas atau golongan yang mengenyam pendidikan di universitas aristokrat, di samping itu konsep naturalismenya menyinggung para cendekiawan konservatif Inggris. 
Tetap harus diakui bahwa Spencer adalah evolusionis besar. Ia dapat menyatukan dua pemikiran: biologis dan sosiologi menjadi sebuah sintesa yang besar. Spencer menjadi pembangun sistem yang sangat penting dalam bidang filosofi.

3. Karya-karya Herbert Spencer
Pakar antropologi ini melahirkan sebuah buku raksasa yang berjudul Descriptive Sociology. Buku ini berisi gambaran proses evolusi universal bangsa-bangsa di dunia. Proses penulisan buku ini dimulai pada tahun 1870 dengan mengadakan pengumpulan data dari sumber-sumber sekunder tentang etnografi di berbagai perpustakaan. Keseluruhan buku ini terdiri dari 15 jilid. Jilid pertama berisi mengenai peradaban bangsa Inggeris, terbit pada tahun 1873. Jilid II berisi tentang peradaban Maya di Meksiko dan Amerika Tengah dan peradaban Inca di Peru, terbit pada tahun 1874. Jilid III terbit pada tahun 1875, berisi tentang peradaban bangsa-bangsa Negrito, Indonesia, Melanesia, dan Polinesia. Pada tahun yang sama, terbit jilid IV yang menggambarkan peradaban bangsa-bangsa Afrika. Setahun kemudian, yaitu pada tahun 1876, terbit jilid V yang berisi mengenai peradaban bangsa-bangsa Asia. Jilid VI terbit pada tahun 1880, menggambarkan peradaban bangsa-bangsa Ibrani dan Funisia. Jilid VIII mengenai bangsa Perancis, terbit pada tahun 1881. Jilid IX sampai XV terbit setelah Spencer meninggal. Jilid IX berisi peradaban China, terbit pada tahun 1910. Pada tahun ini pula terbit jilid X yang berisi peradaban Yunani klasik. Pada tahun 1925, terbit jilid XI yang berisi peradaban Mesir Kuno. Jilid XII yang juga berbicara tentang paradaban Yunani klasik, terbit pada tahun 1928. Jilid XIII berisi peradaban Mesopotamia, terbit pada tahun 1929. Jilid XIV terbit tahun 1930, berisi kebudayaan Afrika lagi. Jilid XV yang merupakan jilid terakhir, berisi tentang peradaban bangsa Rum, terbit pada tahun 1934. 
Apa yang ditulis Spencer dalam buku Descriptive Sosiology disebutnya sendiri sebagai bahan mentah untuk kajian lebih lanjut tentang evolusi kebudayaan yang terjadi di dunia. Buku berikutnya banyak memanfaatkan data-data dari buku yang pertama. Buku itu adalah Principles of Sociology yang ditulis antara tahun 1876 sampai dengan 1896. Buku inilah yang memuat teori evolusi universal Spencer. Buku ini berisi konsep dan teori tentang azas-azas dan evolusi masyarakat dan kebudayaan seluruh umat manusia. 

4. Pandangan-pandangan Herbert Spencer Tentang Evolusi Seni
Kajian-kajian khusus yang ditulis dari sudut pandang evolusi pada akhir abad ke-19, banyak yang berkenaan dengan seni khususnya seni visual masyarakat prasejarah dan masyarakat suku modern.
Periode prehistoris dan protohistoris dikatakan sangat penting untuk menjelaskan teori evolusi. Rasanya seseorang harus mengetahui asal usul seni, menemukan mata rantai yang hilang di antara artless savagery (kebiadaban tanpa seni) dan civilized art (seni yang beradab) untuk mendapatkan gambaran yang lengkap.
Modern primitive art diasumsikan:
a. Menyerupai seni prasejarah dan oleh karena itu memberi petunjuk bagaimana memahami seni prasejarah.
b. Menggambarkan laju perkembangan kebudayaan yang berbeda: bahwa masyarakat tertentu tertinggal atau merosot dari level lebih tinggi yang telah dicapai leluhurnya.

Seperti pada abad-abad sebelumnya, telah sering dikatakan atau diimplikasikan bahwa seni berkembang dalam proses evolusi kebudayaan, sejalan dengan institusi sosial dan politik, teknologi dan agama.
Ketika evolusi budaya secara umum mengalami masa sulit pada abad ke-20, begitu pula yang terjadi pada ide evolusi dalam seni. Para sejarawan dalam bidang seni tertentu, setelah mendengar bahwa ilmu sosial telah menampik evolusionisme, menjadi ragu untuk berbicara mengenai hal itu dalam bidang mereka masing-masing. 
Menurut Spencer, esensi seni tidak hanya terdapat pada faktor eksternal: manfaat saja, tetapi lebih pada faktor internal: kemauan dalam diri manusia yang akan menggiringnya untuk merancang teknik-teknik dan gaya-gaya untuk memuaskan dorongan spiritual dalam dirinya. 
Spencer berpendapat, seni berkembang melalui proses perubahan pandangan atau cara berpikir, baik itu secara individu atau kelompok, maupun dalam masyarakat. Perkembangan seni mempunyai kecenderungan yang sama dengan perubahan atau perkembangan yang terjadi pada binatang, tumbuhan dan bentuk sosial. Seni menjadi hal yang kompleks dan menjadi satu kesatuan yang utuh. Perubahan dalam seni merupakan perubahan yang diikuti oleh beberapa aspek yang saling terkait. Dengan berkembangnya seni berarti juga berkembangnya ilmu dan teknologi. Perkembangan seni yang diungkapkan oleh Spencer tidak begitu spesifik. Ia hanya menyebutkan contoh perkembangan dalam seni secara kompleks adalah bagian dari hukum perubahan atau evolusi. Evolusi itu menghasilkan penyajian yang lebih baik dari yang pernah ada, sesuatu yang lebih unggul, lebih sempurna dari yang terdahulu; hadirnya bentuk atau tampilan yang berbeda. 

5. Penutup
Evolusi tidak bisa diuji, tetapi bisa diamati dan dipaparkan. Evolusi bisa menjadi orientasi maupun filosofi. Evolusi sosial berbeda dengan evolusi biologi, karena evolusi sosial meliputi upaya disengaja, revolusi, tuntutan kepentingan dan pilihan-pilihan. Evolusi sosial terjadi melalui proses belajar baik yang disadari maupun yang tidak disadari, yang berbasis bahasa dan kebudayaan yang diperoleh. Evolusi biologi adalah genetik dan tanpa disadari. 
Sekarang, semua pendukung teori evolusi percaya bahwa banyak struktur dan fungsi pada makhluk hidup, termasuk manusia, tidak dapat dijelaskan dalam hal nilai bertahan hidup secara langsung. Seorang pendukung teori evolusi dapat percaya bahwa seni timbul dari kegiatan-kegiatan primitive yang sebagian besar namun tak sepenuhnya berdasar asas manfaat, bahwa seorang manusia primitive memiliki selera keindahan yang berkembang sejauh apa yang dapat ditawarkan oleh kesenangan dan keamanan, dan bahwa seni memiliki nilai praktis yang tidak terlalu tinggi kini, bahkan kadang tak punya sama sekali. 

KEPUSTAKAAN

Achmad Fedyani Saifuddin, Antropologi Kontemporer, Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma. Jakarta: Kencana. 2006.

Kaplan, David dan Robert A. Manners. Teori Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2002.

Koentjaraningrat. Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: UI Press. 1990.

Koentjaraningrat. Sejarah Teori Antropologi. Jakarta: UI Press. 1987.

Munro, Thomas. Evolution In the Art and Other Theories of Culture History. Cleveland: The Cleveland Museum of Art, t.t.