FENOMENA BARU TULISAN PENGARANG WANITA SASTRA JAWA MODERN MENJELANG TAHUN 2000

Post On : 26 Maret 2012 , Oleh Darni - Universitas Negeri Surabaya
ABSTRAK
Ada suatu fenomena baru mengenai arah perjuangan wanita dalam tulisan wanita sastra Jawa modern pasca tahun 1990. Fenomena baru tersebut disuarakan oleh cerpenis Astuti Wulandari. Cerpenis tersebut menawarkan suatu nilai-nilai baru. Ia menyajikan karakter-karakter wanita yang tidak pernah diungkapkan oleh penulis wanita lain, seperti wanita yang hidup dalam dunia lesbian, wanita penipu, wanita selingkuh dan wanita yang sangat mementingkan karir. Karakter yang digambarkan cenderung menyimpang dari nilai-nilai sosial masyarakat Jawa, karena nilai-nilai sosial tersebut merupakan "ciptaan kaum pria". 
Tampaknya Astuti Wulandari ingin memberikan warna khusus pada tulisan wanita, yang tidak meniru standart nilai laki-laki.

1. Pendahuluan
Tulisan ini merupakan bagian dari penelitian yang berjudul Pengarang Wanita Sastra Jawa Modern Pasca Tahun 1990. Secara keseluruhan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar tokoh-tokoh wanita karya penulis wanita sastra Jawa modern pasca tahun 1990, terdiri dari wanita mandiri. Wanita mandiri yang diinginkan adalah wanita mandiri yang memiliki sifat-sifat khas wanita Jawa seperti berbudi luhur dan setia kepada suami dan anak-anak mereka. 
Namun, tidak semua penulis wanita sastra Jawa modern pasca tahun 1990 yang diteliti ini memiliki sikap yang sama dalam memandang kemandirian wanita. Ada seorang cerpenis, yaitu Astuti Wulandari, yang berusaha menyajikan suatu nilai-nilai baru yang belum pernah dikatakan oleh penulis-penulis lain. 
Dalam tulisan ini fenomena tersebut akan dikupas dengan pendekatan kritik sastra feminis, tepatnya woman as writer. Suatu pendekatan khas wanita yang berusaha mencari kekhususan mengenai tulisan wanita atau gynocritic (Showalter, 1989).

2. Pembahasan
Sebelum menuju kepada pembahasan lebih dahulu akan kami sajikan gambaran mengenai peran wanita tradisional dan mandiri sebagai acuan dan pembanding dalam pembahasan ini.

2.1 Peran Wanita Tradisional dan Wanita Mandiri 
Wanita dan laki-laki memang berbeda secara fisik dan kodrat. Tetapi perbedaan itu tidak hanya berhenti sampai kedua hal tersebut, pada umumnya wanita dianggap lebih rendah dari pada laki-laki. Menurut seorang ahli psikologi, Jean Baker Miller, dengan keunggulan tenaga dan bentuk tubuh pria dipandang lebih dominan dari pada wanita, sehingga pihak dominan menguasai dan memandang wanita sebagai inferior. Berkaitan dengan kekurangan tersebut, pria memberikan kepada wanita sejumlah sifat yang menyenangkan pria, misalnya sikap menyerah, pasif, penurut, ketergantungan, kurang inisiatif, dan ketidakmampuan bertindak. Kodrat melahirkan yang tidak dimiliki pria, menyebabkan pria memandang bahwa wanita harus mengurus keluarga dan rumah (Djajanegara, 1987:65-7). Posisi wanita sebagai pihak yang inferior menurut Simmel (Djajanegara, 1987:64) juga disebabkan negara, hukum, moralitas, agama, dan ilmu pengetahuan merupakan ciptaan pria. Pada umumnya gagasan tersebut disetujui, termasuk wanita. 
Diam di rumah mengurus keluarga dan rumah serta sifat ketergantungan merupakan beberapa ciri wanita tradisional. Ciri-ciri yang lengkap mengenai citra wanita tradisional Jawa sebagian sudah disinggung pada bagian latar belakang. Selain ungkapan-ungkapan tersebut masih banyak pengamatan-pengamatan para alhi yang menunjukkan pandangan masyarakat Jawa yang rendah terhadap wanita Jawa dalam berbagai bidang kehidupan, seperti dalam perkawinan, pekerjaan, dan pergaulan (lihat Geertz, 1983:59; Kartodirdjo, 1993:197; Mulder, 1985:44; Ardani, 1995:207).
Di samping ketiga hal di atas, majalah-majalah wanita dan perkumpulan wanita banyak yang mendukung adanya peran tradisional bagi masyarakat Jawa. Mereka juga berbicara tentang kepentinganwanita, namun mereka cenderung mendorong dan mendukung suami. Di samping itu para ibu dan gadis muda cenderung mengkonsumsi majalah- majalah wanita yang hanya menyajikan menu-menu masakan, model-model pakaian, dan keperluan-keperluan dapur dan rumah tangga. Oleh karena itu Soenarjati Djajanegara (1987:333-336) juga mengungkapkan bahwa feminisme di Indonesia sedang lesu. Di bidang organisasi, meski banyak organisasi wanita saat ini, namun kegiatan mereka tidak ada hubungannya dengan kepentingan perjuangan kaum wanita. 
Ciri-ciri wanita tradisional Jawa tersebut juga tidak berbeda dengan ciri-ciri wanita tradisional yang dikemukakan oleh Ferguson (1981: 6-11). Wanita tradisional adalah wanita yang selalu bergantung kepada pria, lemah, dan bersikap mendorong kemajuan pria sebaliknya merendahkan diri sendiri. Ciri tersebut dapat dilihat dari peran wanita sebagai ibu, isteri, obyek seks, wanita muda yang centil dan mengundang sensasi pria, gadis dan janda yang takut sendiri dan kesepian, dan putri yang selalu dilayani. 
Bertolak belakang dengan wanita tradisional, wanita mandiri adalah wanita yang tidak bergantung kepada siapapun, dapat mencukupi kebutuhannya sendiri. Bertolak belakang dengan wanita tradisional, menurut Ferguson (1981:407) wanita tersebut disebut wanita yang pantas. Namun, dengan masih kuatnya nilai-nilai tradisional seperti dijelaskan di atas, maka wanita memiliki peran ganda, yaitu wanita sebagai ibu rumah tangga dan sebagai karyawati. Kondisi tersebut juga dikemukakan oleh seorang pengamat dari UGM, bahwa feminisme indonesia kembali menjadi Ibu (Priyohadi, 1996:45). Arah perjuangan wanita Indonesia tidak seperti prinsip yang ditekankan para feminis radikal. Prinsip feminisme radikal dirasa tidak cocok dengan kondisi budaya Indonesia, khususnya budaya Jawa. Prinsip feminisme moderat lah yang relatif cocok diterapkan di Indonesia. Wanita bukan saingan pria, baik dalam masyarakat maupun dalam keluarga, namun berusaha menciptakan situasi saling menghargai sehingga tercapai keharmonisan dalam keluarga. Yang lebih penting lagi, bahwa wanita mandiri harus tetap memiliki sifat- sifat wanita Jawa, yakni wanita yang memiliki budi luhur. Kondisi tersebut juga ditekankan oleh KGR Hemas (1997:34) bahwa wanita Indonesia jangan hanya berpangku tangan, diam di rumah, namun harus memiliki ketrampilan agar dapat bekerja untuk mendapatkan uang. 

2.2 Fenomena Baru mengenai Tulisan Wanita Sastra Jawa 
Modern Pasca Tahun 1990 
Di antara para cerpenis yang menulis pada dekade tahun sembilan puluhan, ada satu cerpenis, yaitu Astuti Wulandari, yang menampilan sifat-sifat khusus wanita. Sifat-sifat yang ditampilkan tidak ada dalam karya-karya penulis wanita lainnya. Bahkan kadang-kadang, sifat yang ditampilkan bertentangan dengan sifat wanita utama yang diinginkan oleh beberapa penulis wanita. Dari lima cerpen yang diambil sebagai data dalam penelitian ini, semuanya menawarkan adanya nilai-nilai baru tentang wanita mandiri.
Dalam Yen Ing Tawang Ana Lintang, Astuti Wulandari menampilkan wanita yang menyukai sesama jenisnya. Kita perhatikan kelakuan tokoh wanita yang dimaksud dalam kutiban berikut ini.

...aku ora nate bisa nresnani priya. Tresnaku mung kanggo Evi, Lala, Kay, Maharani, Ance, Sherly lan sing pungakasan iki marang sliramu, Kintan. Aku ya ora ngerti kena apa aku ora bisa nresnani Boy, Kamandaka, Hang utawa wong bagus kaya Bram ngono kuwi. Tresnaku mbok manawa kleru marga, nanging aku ora bisa suwala. (Astuti Wulandari, 1995)

Cintaku hanya untuk Evi, Lala, Kay, Maharani, Ance, Sherly dan yang terakhir ini untukmu, Kintan. Aku juga tidak dapat mengerti mengapa aku tidak bisa mencintai Boy, Kamandaka, Hang, atau pria tampan seperti Bram itu. Cintaku barang kali salah sasaran, tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa.

Cerpen ini adalah satu-satunya karya penulis wanita yang mengungkap masalah dunia cinta wanita lesbian. Dengan jelas dipaparkan bahwa tokoh wanita di atas, yang tidak disebutkan namanya, tidak bisa mencintai lawan jenisnya, dan ia juga menyadari bahwa dirinya mempunyai kelainan, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hal tersebut menyiratkan bahwa ketidaknormalan yang dialami tokoh aku merupakan kelainan bawaan, anugerah Tuhan yang tidak dapat dihindarkan oleh manusia. Namun tampaknya, kondisi jiwa wanita tersebut tidak dapat dipahami oleh teman- temannya, sesama wanita. Bahkan, wanita yang dicintainya, Kintan, justru menyakitinya, bercinta di depan matanya dengan seorang pria. Keadaan seperti itu seakan- akan menyiratkan bahwa dunia lesbianisme belum bisa diterima dalam pergaulan wanita Jawa.
Guci Naga Kembar menampilkan wanita yang sudah berkeluarga yang terampil berdagang. Kali ini Astuti Wulandari juga menampilkan sisi lain dari liku-liku berdagang yang tidak pernah ditulis oleh penulis lain. Kita perhatikan kelihaian tokoh wanita berikut ini.

"Lehmu ngedol biyen tawane piye?" pitakone sisihane."Aku mung kandha iki guci setengah antik, digawe saka leburane keramik dinasti Ming, ana anting-antinge saka mas murni asli Cina..."
"Wah tibane kowe pinter tawa guci, lho, buktine regane terus tikel rongpuluh..." (Astuti Wulandari, 1995)

"Waktu menjual dulu, kamu tawarkan bagaimana?" tanya suaminya.
"Aku hanya bilang bahwa ini guci setengah antik, dibuat dari leburannya keramik dinasti Ming, ada anting-antingnya yang terbuat dari mas asli Cina..."
Wah, ternyata kamu pandai menawarkan guci, lho, buktinya harganya bisa berlipat duapuluh kali...."
Sebagai pedagang, Yanie pandai bersilat lidah dalam berdagang. Guci yang murah harganya, setelah diberi hiasan anting-anting dari mas biasa ternyata bisa laku berlipat ganda. Setelah guci tersebut pindah tangan kepada wanita lain, ternyata cerita mengenai guci tersebut berkembang semakin bertuah. Di sini Astuti Wulandari menunjukkan betapa wanita memiliki keahlian di bidang berdagang yang menonjol. Hal menonjol yang ditampilkan Astuti Wulandari barbau negatif menurut ukuran berdagang yang bersih. Penggambaran watak wanita seperti ini tidak ditemui pada semua tulisan wanita pada penelitian ini. Hal tersebut memang tampak disengaja oleh Astuti Wulandari. Hal tersebut dapat dilihat dari penyelesaian dari cerpen ini. Di akhir cerita, Yanie tidak mengalami kerugian akibat tipuan yang dilakukan, bahkan ia akan mendatangkan guci lebih banyak agar mendapat untung lebih banyak. 
Masalah yang diangkat dalam cerpen ini tidak jauh dengan cerpen di atas, yaitu sekitar penipuan yang dilakukan oleh wanita. Tokoh Trinil dalam Jroning Rong Minggu berhasil mengelabuhi seorang pemuda dengan rapi. Kita ikuti aksi tokoh Trinil dalam cuplikan berikut ini.

Ssssttt, ra sah Tran-Trin Tran-Trin. Trinilmu wis minggat!"
"Lho, kok ora pamit aku? Mbak Berni, Trinil kuwi mesakake lho..."
"Ah, wong gelandhangan ngono. Bajingan!...Delengen kamare Ibu, dicongkel lemarine. Kabeh mas-masan lan berliane ibu dicolong..." (Astuti Wulandari, 1995)

"Sssttt, tidak usah Tran-Trin Tran-Trin. Trinilmu sudah minggat!"
"Lho, kok tidak pamit saya? Mbak berni, kasihan lho Trinil itu..."
"Ah, gelandangan gitu kok. Bajingan!... Lihat kamar Ibu, almarinya dicongkel. Semua perhiasan mas dan berlian dicuri..." Tokoh wanita yang bernama Trinil dalam cerpen ini ternyata seorang gadis pencuri yang ulung. Ia berhasil mengelabuhi Ndaru, anak majikannya. Bahkan Ndaru sempat dibuat percaya bahwa ia anak seorang pengusaha sukses dan Ndaru pun jatuh cinta. Perwatakan yang ditampilkan dalam cerpen ini lebih jelas. Tokoh wanita yang ditampilkan di sini benar-benar seorang penipu yang berbakat. Trinil menggunakan kelemahan-kelemahan wanita di mata pria untuk membuat pria percaya padanya dan menimbulkan belas kasihan pada hati pria. Melalui cerpen ini ditunjukkan bahwa di balik kelembutannya wanita memiliki potensi yang tak terduga, bahkan kelembutan dan kelemahan yang dimiliki oleh wanita bisa dimanfaatkan wanita untuk membuat pria tidak berdaya. Wanita pun bisa berbuat kejahatan yang tidak terbayangkan oleh pria.
Dua cerpen Astuti Wulandari berikut ini membicarakan masalah liku-liku cinta seorang wanita. Liku-liku cinta yang ditawarkan astuti Wulandari juga memiliki nafas yang berbeda sama sekali dengan yang disajikan oleh para penulis wanita lainnya. 
Dalam Mega-mega Biru Astuti Wulandari menyajikan masalah kehidupan seksual sebuah rumah tangga. Kita perhatikan keadaan tokoh Todi berikut ini. 

Oh Gusti, matur nuwun sanget dene panjenengan paringi wanita ingkang setya. Mboten klentu anggen kula milih. Ayu, setya tuhu.

Oh Gusti, terima kasih telah Kau anugerahkan wanita yang setia. Tidak keliru saya memilih. Cantik, setia.

Kita perhatikan apa yang dilakukan Dimi, wanita yang dipuja Todi.

"Telat sejam lho Dim," cluluke priya nganggo jaket sing ngadeg ngejejer wiwit mau iku.
"Sorry ya, lagi nurokake mbah Todi dhisik. Eh malah aku keturon..." (Astuti Wulandari, 1996)

"Terlambat satu jam lho Dim," kata pria berjaket yang berdiri sejak tadi itu. 
"Maaf ya, sedang menidurkan Kakek Todi dulu. Eh, justru aku ketiduran...."
Todi merasa beruntung memiliki istri Dimitri yang dianggapnya setia. Sedangkan ia lumpuh, sudah tua, dan impoten. Sementara itu, di belakang Todi, Dimitri berselingkuh dengan pria muda. Penggambaran watak wanita ini bertentangan dengan penggambaran yang dilakukan oleh para penulis lain. Para penulis lain menginginkan wanita mandiri yang sekaligus memiliki sifat wanita utama. Astuti Wulandari tampaknya memang ingin menyajikan suatu sisi lain, yaitu sisi yang dianggap negatif oleh masyarakat yang nota bene identik dengan ciptaan kaum pria. Astuti Wulandari kembali menyajikan betapa wanita bisa berbuat sesuatu yang bertentangan dengan keinginan kaum pria. Disebutkan pula bahwa kaum pria, yang dalam hal ini diwakili oleh Todi, menginginkan wanita menjadi istri yang setia. Sebaliknya, wanita seperti Dimitri yang masih muda membutuhkan kehangatan pria. 
Cerpen Tembang Saka Tanah Kelairan juga masih berkisar pada masalah cinta dan karir. Tokoh wanita dalam cerpen ini melupakan teman prianya begitu saja setelah ia menjadi penyanyi terkenal. Kita perhatikan kutiban berikut ini.

Mas Bibit,
Iki dhuwit sithik kanggo tuku sawah h melon. Panjalukku, mas Bibit aja nggoleki aku maneh. Awake dhewe mbok manawa pancen ora jodho. (Astuti Wulandari, 1996)

Mas Bibit,
Ini ada uang sedikit untuk membeli sawah melon. Pintaku, Mas Bibit tidak usah mencari aku lagi. Mungkin kita memang tidak berjodoh.
Tokoh wanita ini memilih karirnya sebagai penyayi dari pada kembali ke desa untuk membeli sawah melon seperti yang dicita-citakan sebelum berangkat ke Jakarta dan sebelum berhasil menjadi penyayi terkenal. Oleh karena itu ia memutuskan hubungannya dengan Bibit, teman prianya. Sebagai penyanyi ia tidak bisa kembali ke desa. Untuk mengembangkan karirnya ia harus menetap di Jakarta. Yang perlu mendapat perhatian adalah sikap tokoh wanita yang bernama Venti ini. Sikapnya melupakan dan meninggalkan Bibit melanggar nilai-nilai persahabatan dan merupakan suatu peremehan terhadap kaum pria. Interpretasi tersebut terbukti dengan munculnya suatu tulisan dari penulis pria yang berupa ironi, menanggapi cerpen Astuti Wulandari tersebut. Cerpen dimaksud berjudul sama yaitu Tembang Saka Tanah Kelairan karya Yes Ismie Suryaatmaja. Di situ juga dituliskan bahwa cerpen tersebut diilhami oleh cerpen Astuti Wulandari. Tokoh-tokoh pria maupun wanitanya sama, yaitu Bibit dan Venti. Yes Ismie menggambarkan bahwa Bibit akhirnya juga mencapai sukses, ia juga pura-pura tidak kenal dengan Venti. 

3. Simpulan
Nilai-nilai baru tentang wanita mandiri yang dikemukan Astuti Wulandari tersebut sebagian besar bertentang dengan sifat-sifat wanita tradisional, tepatnya sifat- sifat wanita Jawa yang berbudi luhur dan setia. Tampaknya Astuti Wulandari berusaha menampilkan nilai baru ciptaan wanita sendiri yang memang berlawanan dengan norma sosial yang berlaku yang nota bene memang ciptaan kaum pria. Hal tersebut merupakan suatu perkembangan yang berarti dalam tulisan wanita. Nilai-nilai tersebut baru muncul pada dekade 90-an. Pada dekade 80-an hal tersebut belum tampak (lihat Darni, 1997). 
Sebagian besar wanita mandiri yang dikehendaki juga wanita mandiri yang mengutamakan karir yang tidak begitu membutuhkan pria. Dari kelima cerpennya, hanya satu cerpen yang menampilkan wanita berkeluarga. Dalam cerpen tersebut tidak digambarkan adanya masalah yang timbul karena peran ganda wanita. Suami justru sangat mendukung usaha istri dan memuji kehebatan sang istri. Meskipun demikian, nilai-nilai baru yang ditawarkan di sini bukan seperti yang diamati oleh Budi Darma dalam sastra Indonesia bahwa beberapa penulis wanita bersikap mengumpat dan menjelek-jelekkan kaum pria secara vulgar (Darma:1997). Astuti Wulandari berusaha menunjukkan kehebatan atau kelebihan kaumnya, dengan memanfaatkan sifat-sifat yang dianggap lemah oleh kaum pria. 
Tetapi sayang, nilai-nilai yang ditawarkan astuti Wulandari ini tidak diikuti oleh para penulis wanita lainnya. Oleh karena itu hal tersebut dapat dikatakan masih merupakan suatu fenomena. Mungkin, perjalanan waktu yang akan mewujudkan nilai-nilai baru tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Darma, Budi
1997 "Genderisme dalam Era Globalisasi" dalam 
Gema No. 127 Tahun XII. Surabaya: IKIP 
Surabaya.

Darni
1997 Citra Wanita dalam Novel Jawa Tahun 1980-an.
Penelitian Studi Kajian Wanita. Jakarta: 
Ditbinlitabmas. 
2000 Pengarang Wanita Sastra Jawa Modern Pasca 
Tahun 1990. Jakarta: DUE&QUE.

Djajanegara, Soenardjati
1987 Citra Wanita dalam Limaimaima Novel Sinclair Levis. Disertasi UI. Jakarta.

2000 Kritik Sastra Feminis Sebuah Pengantar. 
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Ferguson, Mary Anne
1981 Images of Women in Literature. London: Palo 
Alto.

Geertz, Cliffort
1989 Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat 
Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya.

Geertz, Hildred
1983 Keluarga Jawa. Jakarta: Grafiti Press. 

Hemas, KGRA
1997 "Wanita Utama" dalam Panyebar Semangat. 
Surabaya: Panyebar Semangat. 

Kartodirdjo, Sartono
1993 Perkembangan Peradaban Priyayi. Yogyakar 
ta: Gajah Mada University Press.

Pradopo, Sri Widati
1986 Pengarang Wanita dalam sastra Jawa Modern. 
Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan 
Bahasa.

Showalter, Elaine 
1989 "Towards a Feminist Poetics" dalam Philip
Rice dan Patricia Waugh. Modern Literary 
Theory, A Reader. Great Britain: Chapman 
and Hall.

ABSTRACT 
There is a new phenomena about the destination of women's struggle showed by one of the short story writers, Astuti Wulandari. She offers some new values. Hence she displays the women's characters which never expressed by other female writers such as the lifestyle of lesbians, deceiver women, dishonest love affair of women or women who put career as the most important one. The described characters tend to deviate from the values of 
Javanese society, because those values are actually as the creation of men. It seems that Astuti Wulandari wants to give specific colour to the women's writing, and she does not want to follow or to immitate the values standards made by men.