CITRA PEMIMPIN BANGSA DALAM PUSTAKA JAWA Suwarni * FBS UNESA SURABAYA

Bangsa Indonesia mencari pemimpin yang bijak, mengabdi kepada rakyat dan merakyat. Konsep kepemimpinan bangsa yang didambakan rakyat terdapat dalam berbagai pustaka lama khususnya pustaka Jawa. Konsep tersebut dituangkan dalam bentuk cerita, seperti Ramayana, Babad Baratayuda, Babad Majapahit, Pararaton, dan berbagai serat piwulang (Wulang Reh, Wulangpraja, Ajipamasa, Panitisastra, Slokantara) dsb. menyajikan berbagai konsep citra pemimpin bangsa. Ramayana, menggelar ajaran Astabrata, Babad Bharata menunjukkan sikap pimpinan yang agung, Parikesit putra Abimanyu, asuhan ki lurah Semar, dewa yang mangejawantah dan merakyat. Babad Majapahit dan Pararaton mengungkap kepemimpinan raja-raja Singasari dan Majapahit, di bawah asuhan Nayagenggong dan Sabdapalon, serta peran Patih Gajah Mada dalam mempersatukan Nusantara, dengan Sumpah Palapa. 
Ramayana menggelar peperangan antara Rama dengan Rahwana. Pada akhir cerita dijabarkan konsep kepemimpinan, dalam nasihat Rama kepada Gunawan Wibisana, calon raja Langka, setelah kematian Rahwana. Wibisana putus asa menyaksikan keluarga besarnya gugur di medan laga. Ia sebatang kara. Melihat kondisi itu Rama memberikan astabrata, wejangan tentang darmaning ratu gung binathara, untuk membangkitkan semangatnya. Asta berarti ’delapan’ brata berarti ’tapa, ’kewajiban’. Astabrata dimaknai sebagai kewajiban seorang pemimpin yang bijak dalam menghadapi rakyat yang multikultural. Di bagian lain Rama memberikan wejangan kepada Bharata, disebut sastracetha. Dalam Babad Bharatayudha Kresna memberikan wejangan berupa bhagawatgita kepada Arjuna, untuk membangkitkan semangatnya ketika ia putus asa untuk melakukan kewajiban sebagai ksatria, yang harus membela kebenaran. Panitisastra dan Slokantara melambangkan hubungan antara pemimpin dan rakyat bagaikan singa dan hutan atau ikan dan air serta keduanya tak dapat dipisahkan, tak pantas berseteru dan saling membutuhkan. 
Astabrata cocok dipakai sebagai dasar pengabdian pemimpin bangsa. Masyarakat Jawa beranggapan bahwa ratu (pemimpin) adalah titisan Wisnu. Ia mengayomi semua pihak tanpa pandang bulu, semua diperlakukan sama. Dalam diri seorang pemimpin bersemayam 8 dewa, Betara Indra, Yama, Surya, Candra, Anila, Kuwera, Bharuna, dan Agni, ia menjelma sebagai ratu gung binathara trah andana warih, trahing kusuma rembesing madu, ia berwibawa. Maksudnya setiap pemimpin harus, mengikuti: (1) ambeging lintang, bahwa seorang pemimpin harus takwa kepada Tuhan YME, dan menjadi teladan bagi masyarakat, bercita-cita tinggi, dengan semboyan mamayu hayuning bawana, demi kesejahteraan dunia. (2) ambeging surya, bahwa seorang pemimpin harus mengikuti watak dewa matahari. Ia sabar dan setia, panas yang membara di musim kemarau, mampu memberikan kekuatan pada semua makhluk. Ia bertindak adil, berwibawa, merakyat, tanpa pamrih, setia kepada negara dan bangsa sepanjang masa. (3) ambeging rembulan, bahwa seorang pemimpin harus memiliki watak seperti dewa bulan. Dia memberikan penerangan dalam kegelapan. Pemimpin harus dapat menciptakan suasana gembira, damai, memberikan solusi saat rakyat bermasalah. Sinarnya yang lembut mampu memberikan kedamaian dan kesejukan bagi rakyat yang sedang menderita. (4) ambeging angin, pemimpin harus memberikan kesejukan bagi rakyat. Angin bertiup menyejukkan. Pemimpin harus mampu memberikan solusi terhadap berbagai masalah yang dihadapi rakyat. (5) Ambeging mendung. Awan yang menggantung memang menakutkan. Tetapi ia juga memberikan kegembiraan bagi makhluk hidup. Mendung selalu menaburkan hujan. Pemimpin harus berwibawa tetapi tidak menakutkan, sehingga timbul sikap ajrih asih, dan membagikan rezeki kepada rakyat secara merata. (6) Ambeging geni, api memiliki watak panas. Pemimpin harus mampu menegakkan keadilan, dikaitkan dengan pemberantasan kejahatan. Siapa pun yang melanggar undang-undang harus dipidana setimpal dengan kesalahannya. (7) Ambeging banyu, banyu identik dengan laut. Seorang pemimpin harus berwatak samudera dalam arti sabar, berwawasan luas, bisa meredam berbagai masalah bangsa, tanggap, pemaaf, dan menentramkan jiwa rakyat. (8) ambeging bumi. Bumi pertiwi itu sabar, adil, pemurah dan pengasih. Ia memberikan berbagai anugerah kepada umat, berupa tetumbuhan dan binatang demi kesejahteraan umat manusia. Dengan anugerahnya umat bisa merasakan kemakmuran dan terciptalah kedamaian. 
Astabrata bersifat universal, bisa diterapkan di mana saja sepanjang masa. Bila dijalankan secara integratif dunia aman dan damai. Mampukah para pemimpin berlaku demikian, demi menciptakan tata titi tentrem kerta raharja, dan mamayu hayuning bawana (menjaga ketertiban dunia) bukan sekedar slogan. 

Dharma Seorang Pemimpin 
Serat Pamarayoga, karya R. Ng, Ranggawarsita mejelaskan bahwa ratu, memegang pemerintahan atas utusan Hyang Agung. Ia dilindungi tri loka buwana, pinandhita, bathara lan satriya. Pemimpin harus berwawasan luas, memiliki ilmu kanuragan, kadigdayan dan kawicaksanan. Jati diri para pemimpin merupakan dharma (kewajiban) yang sangat berat, terbagi menjadi 8 hal, meliputi: (1) Hanguripi, seorang pemimpin harus melindungi rakyat, menghormati dan menjaga perdamaian, sesuai undang-undang, sehingga timbul rasa percaya diri, untuk mencapai kehidupan yang layak. (2) Hangrungkebi, bahwa seorang pemimpin harus berani berkorban jiwa, raga dan harta demi kesejahteraan bangsa. Mukti wibawa sebagai abdi masyarakat menjadi tanggung jawab yang harus diemban. Menghimpun kekuatan untuk membela rakyat dengan sasanti bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. (3) Hangruwat, berarti memberantas berbagai masalah yang mengganggu jalannya pemerintahan demi ketenteraman negara, misalnya mengurangi kemiskinan, membantu para penyandang cacat, memberikan pendidikan keterampilan para pemuda, meningkatkan ketakwaan, dengan harapan mendapatkan ampunan, membersihkan diri, agar Tuhan memberikan kemudahan dan solusi. (4) Hanata, berarti ’menata’ bahwa para pemimpin harus menghayati falsafah njunjung drajating praja, berdasarkan konsep ’nata lan mbangun praja’, menegakkan kedisiplian, kejujuran, dan setia (loyal), demi kesejahteraan rakyat, dengan sasanti ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani, memberikan contoh, membangkitkan semangat karja dan berwibawa di depan rakyat, berpengaruh seperti dilansir dalam kepemimpinan Pancasila. Rakyat diberikan kesempatan untuk memanfaatkan potensi alam milik negara, sesuai dengan amanat UUD 45. (5) Hamengkoni, ’memberi bingkai’, agar persatuan dan kesatuan bangsa tetap terjaga. Pemerintah memberikan kemerdekaan (kebebasan terbatas), kepada rakyat untuk berusaha memanfaatkan potensi dalam negeri, dan menjalin bekerja sama dengan negara lain tanpa intervensi. (6) Hangayomi, ayom berarti ’lindung’, ’teduh’. Hangayomi berarti memberikan perlindungan kepada rakyat, agar merasa aman, bebas mencari nafkah di bawah naungan wahyu Ilahi. Untuk menjaga kewibawaan bangsa pemimpin berkewajiban melindungi rakyat. (7) Hangurubi, membangkitkan semangat kerja kepada rakyat, untuk mencapai kesejahteraan hidup. Rakyat berharap kesejahteraan terpenuhi, berpegang pada perilaku adil, jujur dan setia membela kebenaran. Rasa asih dan asuh menyertai dalam membina hubungan dengan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan, tatap berpegang pada sabda pandhita ratu. Bahwa seorang pemimpin harus setia pada ucapannya. (8) Hamemayu, menjaga ketenteraman negara, dengan keselarasan dan keharmonisan berlandaskan saling percaya menjauhkan diri dari sifat curiga, demi memperbaiki tatanan pemerintahan. 
Sementara itu Sri Ajipamasa, ketika akan lereh kaprabon, berpesan kepada putranya bahwa seorang raja harus berpegang pada Pancapratama, meliputi: (1) mulad, bahwa sebagai pemimpin harus waspada dan hati-hati terhadap para punggawa (2) amilala, melindungi dan melayani, memberikan hadiah kepada punggawa yang setia, loyal dan berjasa. (3) amiluta, mengambil hati punggawa dan rakyat, dengan harapan dapat memberikan ketenangan jiwa. (4) miladarma, bahwa pemimpin harus bijak, sehingga tidak ada yang dirugikan, demi kesejahteraan dunia, atau mamayu hayuning bawana, dan (5), parimarma, dalam arti welas asih, sabar dan pemaaf. 
Kriteria tersebut bila diamalkan insya Allah negara akan tenteram dan damai. Selain itu dikatakan bahwa seorang pemimpin juga harus mengamalkan pancaguna, untuk menjaga kesejahteraan negara beserta isinya, dengan ilat, ulat, ulah, asih lan asuh. Ilat berarti menjaga ucapan, ulat meunjukkan keramahan dan memperhatikan sikap kepada para punggawa. Ulah merupakan tingkah laku yang pantas tinulat (diteladiani).. Sebab pemimpin selalu menjadi kaca benggala bagi rakyat yang mendambakan ratu adil, yang tersembunyi dalam pudhak sinumpet (kuncup bunga pandan). Asih mengandung arti ’menyayangi’. Pemimpin harus menyayangi santana, punggawa dan kawula. Sedangkan asuh, bahwa seorang pemimpin harus ’ngemong’, masyrakat harus diperlakukan sama tanpa mban cindhe mban siladan. 
Amanah dan tanggung jawab

Dalam ajaran Islam dijelaskan bahwa memimpin adalah amanah, tugas mulia harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Serat Wulang Reh Pupuh III. 4-8. karya Sri Pakubuwana IV, disarankan bahwa pemimpin jangan bersikap adigang, adigung, adiguna, sapa sira sapa ingsun. Adigang adalah ’kijang’ adigung ’gajah’ dan adiguna ’ular’ ketiganya mati bersama dalam pertikaian karena kesombongan masing-masing. Pemimpin yang baik menghindari sikap aji mumpung, mumpung kuwasa, tumindak nistha, seperti ungkapan Ranggawarsita dalam Serat Sabdatama, bait 12 ...., begjane ula dahuru, cangkem silite nyaplok, (13) ndhungkari gunung-gunung, kang geneng- geneng padha jugrug, parandene tan ana kang naggulangi, wedi kelamun sinembur, upase lir wedang umob. 
Pimpinan jangan diserahkan kepada yang tidak mau, maupun mereka yang ambisi, karena yang berambisi umumnya memiliki motivasi lain, seperti aji mumpung. Sifat aji mumpung bertentangan dengan dharma seorang pemimpin. Ia harus rendah hati, bijak, adil dan ber budi bawa leksana. Hal itu diungkapkan oleh Ranggawarsita dalam Serat Witaradya, bahwa seorang raja yang besar, watak narendra gung binathara, mbaudhendha hanyakrawati, kutipan berikut: 
Dene utamaning nata, berbudi bawa laksana, lire ber budi mangkana, lila legawa ing driya, hanggung hanggeganjar saben dina, lire kang bawa laksana, hanetepi ing pangandika. 

Pemimpin harus memegang teguh janji yang diucapkan di depan rakyat. Janji adalah hutang, yang wajib dibayar. Sabda pandhita ratu salah satu falsafah Jawa dan konsep pengejawantahan janji adalah hutang, yang didukung frase ajining diri saka obahing lathi ajining sarira saka busana, aja waton omong nanging omonga nganggo wawaton, ilat ora ana balunge, esuk dhele sore tempe, mencla-mencle, bukan sikap seorang pemimpin, melainkan konsep sedikit bicara banyak bekerja yang sebaiknya dipegang teguh. Mereka dipercaya oleh rakyat. Mengembalikan kepercayaan yang hilang lebih sulit dari pada membangunnya.
Falsafah Jawa mengatakan bahwa drajat, pangkat lan semat bisa oncat. Hal itu menjadi bahan pertimbangan bagi para pemimpin. Di dunia tidak ada yang langgeng. Semua serba sementara, bagaikan kilat menyambar sekejap tanpa bekas. Saat mejabat ia terhormat dan dipuja, pergantian tiba, ia dihujat dan dihina, kawan dan sahabat seakan tak mengenalnya. Ia dilupakan. Ironis. Pada hal kita tahu tidak ada manusia sempurna. Ada sisi baik dan sisi buruk. Setelah jatuh kebaikan tertutup kekurangan. Pengalaman Prapanca penggubah Nagarakertagama dituangkan dalam Nirartaprakerta, masa pemerintahan Hayam Wuruk menjabat sebagai bhiksu pemuka agama Bhuda dan adyaksa (jaksa) membuktikannya. Setelah purna tugas ia menyendiri tinggal di Swecchapura, lembah Sungai Brantas. Jauh dari kawan seperjuangan dan sepengabdian. Mereka menjauh. Kesendirian itu dimanfaatkan untuk menggubah Nirartaprakerta, sebagai kompensasi. Kompensasi itu positif, karena ia tidak putus asa, tidak larut dalam kesendirian. Nir artha ’miskin tak berharta’ harga diri lenyap bersama berakhirnya jabatan yang diembannya. Tetapi ia punya iman yang kuat. Ia mendekatkan diri kepada Yang Agung. Ia sadar hanya kepada-Nya ia akan kembali. Bahwa keabadian dan kelanggengan hanya milik-Nya, pemilik alam semesta, penentu segalanya. 
Dharma seorang pemimpin yang bijak seperti dijabarkan dalam astabrata, dalam Ramayana dan citra pemimpin bangsa dalam Serat Pamarayoga, sebaiknya dijadikan pegangan, demi mencapai kesejahteraan rakyat. Konsep tersebut mampu menopang kepemimpinan bangsa yang multikultural. Sosok pemimpin bangsa yang bijak dibutuhkan guna memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa didukung UUD 45, sumber segala hukum di Indonesia, sasanti Bhinneka Tunggal Ika dalam cengkeraman burung garuda putra bhagawan Kasyapa dalam kitab Adiparwa. Garuda menjadi wahana dewa Wisnu, dewa pengayom alam semesta yang menjelma pada diri pemimpin bangsa. Dilengkapi dasar negara Pancasila, di bawah naungan pataka sang saka merah putih, lambang kehidupan jelmaan lingga dan yoni di Nusantara yang mahardika, dirangkai dalam Sutasoma. Tan Tular berpesan kepada bangsa pancasila gĕgĕn den teki haywa lupa, bahwa ’pancasila harus dipegang teguh, jangan diabaikan’. Pancasila, Bhinneka tunggal ika dan mahardika, pataka sang saka pengikat NKRI dalam untaian manikam sepanjang khatulistiwa. 
Pemimpin bangsa telah dipilih, melalui pileg dan pilpres. Siapa pun mereka pilihan bangsa. Tempat menggantungkan harapan dan masa depan yang lebih baik di bumi yang gemah ripah loh jinawi, subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinumbas, tata titi tentrem kerta raharja, dalam arti murah sandang pangan seger kuwarasan, bukan hanya slogan. Mutiara kata itu harus direalisasikan oleh mereka yang mendapatkan amanah, sebagai perwujudan lukisan negeri Amarta yang didendangkan ki dalang dalam pentas wayang. Bukan sekedar impian, dengan memanfaatkan potensi alam anugerah Allah Swt. yang membentang sepanjang khatulistiwa, dalam bentuk hutan, gunung, laut dan sungai, simpanan harta karun yang tak ternilai harganya. Semua dimanfaatkan demi kesejahteraan rakyat. Mereka harus bekerjasama saiyeg saekapraya membangun bangsa. Eksekutif, legislatif dan yudikatif memiliki tugas membangun negara dan bangsa. Sebagai pemimpin mereka memiliki tanggung jawab yang cukup berat. Kesejahteraan rakyat tidak bisa diwakilkan, tetapi direalisasikan. Bila wakil rakyat hidup sejahtera bukan berarti rakyat pun meraskannya. 
Ekonomi kerakyatan bukan sekedar janji. Rakyat kecil tidak menuntut terlalu banyak. Kebutuhan mereka sederhana. Sandang pangan tercukupi, kesehatan terjaga, dan menyekolahkan anak demi masa depan calon pemimpin bangsa terlaksana. Kebutuhan itulah yang harus diperhatikan oleh pemerintah. Salah satu solusinya dengan menciptakan lapangan kerja. Agar gepeng, pengamen, pengasong di jalanan tidak mengganggu keamanan dan kenyamanan pengguna jalan. Ungkapan hujan emas di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri pun pudar. Rumput tetangga tampak lebih hijau. Rakyat berbondong-bondong ke negeri orang mengadu nasib. Yang beruntung meraup uang sementara yang kurang beruntung ada yang pulang tinggal nama, menjadi jenazah, karena siksaan sang majikan. Cukupkah mereka mendapat gelar pahlawan devisa?. 
Dalam Nagarakŗtagama dijelaskan bahwa Hayam Wuruk, setiap tahun anjangsana melihat langsung suasana pedesaan membaur kembul bujana dan berkomunikasi dengan rakyat, sambil membagikan sedekah. Sebagai raja ia sangat dekat dengan rakyat dan merakyat. Tidak ada jarak di antaranya. Rakyat pun merasa diperhatikan. Rakyat mempersembahkan berbagai hasil bumi, sebagai rasa hormat dan ungkapan rasa terima kasih dan ajrih asih. Dengan demikian rasa asih dan asuh tercipta antara pemimpin dengan yang dipimpin. Ibarat ikan dan air, singa dan hutan, atau tegal dan rumput, menyatu saling membutuhkan seperti yang diungkapkan dalam Serat Panittisastra. 
Masyarakat Jawa percaya bahwa wahyu kaprabon, dalam diri seorang pemimpin masih ada. Asal pemimpin masih sanggup memberikan pangayoman, maka rakyat akan loyal. Seorang pemimpin harus waspada. Sebab di antara punggawa ada yang mbalela, sengaja berkhianat demi jabatan yang diincarnya. Bagi masyarakat konsep ratu adil, wahyu dan pulung merupakan trilogi dalam demokrasi. Untuk mendapatkan pulung atau wahyu, memerlukan laku, dengan mesu budi atau mesu brata, minta kepada Hyang Agung dengan jalan berpuasa atau bertapa. Wahyu merupakan jelmaan suara-Nya di balik suara umat manusia yang dipercaya mampu menerimanya. Sedangkan trilogi yang dianut oleh kraton Mangkunagaran, melu handarbeni, wajib hangrukebi, mulat sarira munggengwani. Bahwa seorang pemimpin harus merasa memiliki, membela kebenaran dan mawas diri. Mau mengakui kasalahan pribadi tanpa menyalahkan orang lain.