Calon Guru/pendidik Harus (berlatih) Menjadi Guru

Post On : 05/05/2010 , Oleh Ucik Fuadhiyah, S.Pd - Universitas Negeri Semarang

Perguruan Tinggi merupakan lingkungan akademis yang memiliki tugas mencetak generasi intelektual berwawasan keilmuan, beretika, dan berjati diri. Di tangan perguruan tinggi inilah kader-kader bangsa digembleng secara ilmiah. Mungkin hanya mereka yang terpilih dan betul-betul terseleksi saja yang mampu meraih pendidikan di Perguruan Tinggi. Seluruh civitas akademika baik dosen/pengajar, mahasiswa, maupun staf karyawan yang ada di Perguruan Tinggi adalah mereka yang akan menentukan nasib dan keberlangsungan bangsa Indonesia ke depan, ironis kiranya jika Perguruan Tinggi akhir-akhir justru menjadi tempat bahkan sorotoan munculnya berbagai kericuhan, konflik, bahkan persoalan social bangsa kita yang tengah dilanda krisis multidimensi. Apa yang salah? Apakah sistem pendidikan di Perguruan Tinggi telah berhasil mencetak intelektual muda yang berwawasan keilmuan, beretika, dan berjati diri? Lalu, sejauh mana kepekaan mahasiswa khususnya mahasiswa jurusan kependidikan yang notabene dicetak sebagai calon pendidik? 
Mahasiswa oleh masyarakat kita dianggap sebagai kaum intelektual dan tentu saja memiliki satatus sosial lebih/ gensi lebih tinggi dibanding remaja seusianya yang tak mampu menikmati kehidupan kampus. Dilihat dari istilahnya saja sudah menunjukkan sesuatu yang lebih, mahasiswa ‘maha’, sebuah predikat luar biasa dibanding sekedar kata ‘siswa’. Dari sisni kita akan melihat bahwa idealnya mahasiswa secara psikologis, pemikiran, ucapan, dan tindakannya tidak mungkin sembarangan alias semau gue. Mahasiswa sebagai penerus tongkat estafet bangsa di berbagai bidang hendaknya tak sekedar menjadikan kampus dan statusnya untuk kebanggaan semata. 
Bukan rahasia lagi kiranya, berbagai demonstrasi dan kericuhan di tengah kondisi krisis multidimensi bangsa Indonesia sejak beberapa waktu terakhir, mahasiswa seringkali terlibat, bahkan menjadi motor. Terlepas dari masuknya provokator pihak luar (bukan mahasiswa), yang pasti kondisi itulah yang tengah melanda bangsa kita. Memang benar, ditengah kondisi bangsa kita yang tengah karut marut dilanda berbagai konflik, baik politik, ekonomi, sosial budaya, disanalah mahasiswa sebagai generasi muda yang dipandang memiliki kecerdasan ilmu dan emosi berada dibarisan. Namun, sekiranya diperlukan sikap kritis, profesional, dan tetap santun. 
Lebih memprihatinkan lagi, persoalan social bangsa kita seperti: pergaulan bebas dan narkoba justru dilakukan oleh tak sedikit mahasiswa kita. Kaum muda hendaknya menyadari, bukan saatnya lagi bersaing kendaraan bermerk untuk pergi kekampus, ngdrugs, clubbing, pamer model fashion terbaru di kampus dsb. Tak perlu dihantui rasa malu atau takut dikatakan nggak gaul jika tidak ikut dalam sebuah tren tertentu yang justru meyesatkan. Lebih terhormat kiranya jika para generasi muda memposisikan diri sebagai masyarakat akademis namun tetap merakyat. Bergabung di sanggar-sanggar kesenian, aktif di forum-forum ilmiah, atau berbagai kegiatan kemahasiswaan yang ada dikampus tentu lebih bermanfaat dan tentu saja positif. 
Pembuktian mahasiswa sebagai kaum akademis memang tak harus muluk dan perlu proses. Seperti apa yang populer disampaikan AA. Gym misalnya, semua dimulai dari diri sendiri mulai dari hal-hal kecil, dan mulai dari sekarang. Mari melihat diri sendiri, pakaian, penampilan, tindak-tanduk, dan pemikiran apakah sudah menunjukkan jati diri sebagai mahasiswa atau kaum akademis?
Mahasiswa Keguruan/kependidikan misalnya, sebagai manusia yang akan dicetak menjadi calon pendidik (guru) sejatinya memiliki tugas dan syarat lebih berat dibanding mahasiswa non-kependidikan (ilmu murni). Sebab, salah satu factor kemajuan bangsa ini sangat ditentukan oleh aspek pendidikan. Pendidikan yang baik membutuhkan system yang baik dan pendidik yang baik, termasuk calon pendidiknya. Bukankah sudah sewajarnya calon pendidik mengikuti aturan bagaimana menjadi guru yang sungguh-sungguh manjadi teladan peserta didiknya. Hal ini juga sebagai proses berlatih, sebelum nanti terjun di lapangan (sekolah). Guru dalam gagasan ini tidak mutlak harus bergaya jadul (zaman dulu) atau guru dalam salah satu lagu Iwal Fals berjudul Umar Bakrie. Guru maupun calon guru sah-sah saja berpenampilan trendy, mengikuti mode, berkendaraan mewah, dan gaul. Yang terpenting, guru harus mampu memposisikan diri untuk tetap menjadi teladan, sehingga ungkapan Bahasa Jawa bahwa guru ‘digugu lan ditiru’ tak akan berubah menjadi guru ‘wagu tur saru’. Hal-hal kecil seperti norma pergaulan, etika berbusana, dan tindak-tanduk misalnya perlu diperhatikan. Dan itu harus dilatih sejak menjadi ‘calon’ guru. Bukan berarti pula mahasiswa non-kependidikan (guru) bias bebas begitu saja dalam bergaul, berbusana, atau bertindak. Sebab, bagaimanapun juga mereka merupakan masyarakat akademis. 
Di Jawa Tengah, terdapat beberapa Perguruan Tinggi (PT) yang memiliki program keguruan/kependidikan. Bahkan beberapa diantaranya adalah PT yang fokus mencetak calon guru/pendidik. Namun demikian, di beberapa PT tersebut dapat kita lihat hampir tak ada bedanya antara mahasiswa kependidikan dan non-kependidikan. Berbeda yang saya maksud bukan pada fisik, kecerdasan, atau kekayaan. Saya menyoroti dari hal-hal sepele namun sungguh merupakan wacana atau potret calon pendidik yang memprihatinkan. Berbusana yang tidak sepantasnya dikenakan oleh mahasiswa calon pendidik di lingkungan kampus. Bahkan di dalam kelas pada saat mengikuti mata kuliah dengan mudah dapat di lihat busana mahasiswa putrid yang minim/ketat dan memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya. Tak jarang pula, mahasiswi masih saja begitu nyamannya ketika bagian tubuhnya terlihat, misalanya (maaf) pantat, celana dalam, atau belahan dada terlihat.
Terlepas dari hak asasi dan kebebasan berekspresi yang dijadikan dalih atau alasan, sesungguhnya mahasiswa telah mengetahui aturan yang diberlakukan sebagai kampus pendidikan. Aturan etika itu misalnya: mahasiswa putra/putri diharuskan berpakaian rapi (hem, berkerah), bersepatu. Bagi mahasiswa putra tidak berambut gondrong dan tidak disemir. Namun, nampaknya aturan ini masih dapat dicarikan jalan keluar dari rel bagi mereka yang ‘nakal’ alias melanggar. Berkerah dan bersepatu, tapi perut, pusar tetap terlihat. Kadangkala (maaf) mahasiswa berkerudung tetapi begitu nyamannya dengan kaos ketat dan jeans ketat. Ya, trend, gaul, dan gak ndeso selalu ampuh menjadi alasan. Jika sudah demikian, lalu pertanyaannya apakah pikiran dan prestasi mereka sudah sebanding dan up to date agar sumbud dengan penampilannya? Pada kenyataannya, calon-calon pendidika justru tengah tak sadar diri bahwa mereka sedang menjadi korban mode (kormod) dan tontonan. Belum lagi persoalan unggah-ungguh, merokok di kampus, memakai tindik, bermesraan di kampus dsb. Ketika ditegur berkaitan dengan perilaku dan penampilannya, tak sedikit diantara mahasiswa yang justru mengumpat. Padahal, sudah jelas, nantinya mereka akan terjun ke sekolah dengan berbagai macam aturan dan etika profesi kependidikan. Untuk menjadi pendidik memang tidak mudah, dan tidak bias dianggap remeh. Tantangannya lebih berat, dan semua harus dilatih sejak masa kuliah menjadi calon pendidik. Mengapa, sebab ditangan pendidiklah nantinya generasi kita belajar dan bercermin. Saya jadi ingat, ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Apakah itu yang akan kita ajarkan? Mari kita sama-sama merenungi. 
Modal untuk menjadi pendidik tak sekedar kecerdasan, I.P tinggi, ijasah, dan kekayaan. Lebih dari itu sebagai calon pendidik masa depan harus professional, memiliki jati diri dan paham norma. PT sebagai ‘pabrik’ pencetak guru/pendidik tentu telah berupaya memberlakukan kebijakan, dan aturan sedemikian rupa dan semaksimal mungkin untuk menghasilkan guru-guru sebagai produk terbaiknya. Namun, tanpa adnya dukungan dan kesadaran dari semua komponen baik civitas akademika, pemerintah, maupun masyarakat semua harapan tentu tak akan mudah terwujud. Mari wujudkan kemajuan bangsa melalui pendidikan bermutu dengan menjadi pendidik yang bermutu pula. Bermutu ilmunya, bermutu ucapannya, bermutu tindakannya. 

(Ucik Fuadhiyah
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa FBS Universitas Negeri Semarang)