BAHASA JAWA: SEBUAH TELAAH BAHASA DAN “KOMPLIKASINYA”

Oleh : Prembayun Miji Lestari, SS., M.Hum.
(Dosen Bahasa dan Sastra Jawa FBS UNNES)

Pengantar
Koentjaraningrat dalam tulisannya pernah menjelaskan bahwasanya manusia itu sebenarnya sebagai makhluk sosial dan komunal. Artinya manusia itu tidak bisa terlepas dari hidup bermasyarakat. Manusia itu selain dibutuhkan juga membutuhkan orang lain. Antara manusia satu dan yang lainnya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang perlu diperhatikan agar tidak terjadi miskomunikasi. Salah satu sarana yang bisa menjembatani agar komunikasi berjalan dengan baik adalah adanya bahasa. Bahasa memiliki peranan yang cukup penting dalam berinteraksi dengan orang lain. 
Bahasa merupakan simbol atau penanda utama dan pertama untuk mengenali identitas masyarakat yang ada, sehingga bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan suatu masyarakat. Berdasarkan definisi dari para pakar bahasa dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan ujaran yang diucapkan secara lisan, verbal secara arbitrer. Lambang, simbol, dan tanda-tanda yang digunakan dalam bahasa mengandung makna yang berkaitan dengan situasi hidup dan pengalaman nyata manusia.
Manusia tidak bisa dilepaskan dari adanya bahasa dalam kehidupannya. Melalui penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi antar manusia dalam suatu masyarakat, kita dapat mengetahui masyarakat tersebut berdasarkan bahasa yang digunakannya. Misalnya: masyarakat pengguna bahasa Batak maka langsung dapat diketahui bahwa mereka adalah masyarakat Medan, pengguna bahasa Minang maka dapat diketahui bahwa itu adalah masyarakat Sumatra, dsb. Demikian halnya dengan masyarakat penutur Jawa, maka dapat dipastikan bahwa mereka adalah masyarakat Jawa. Masyarakat penutur Jawa yang merupakan pengguna bahasa Jawa mau tidak mau, suka tidak suka pasti akan “ketemu” dengan bahasa Jawa. Meski sekarang banyak keluarga dari masyarakat Jawa yang mengaku modern dan intelek mulai meninggalkan bahasa ibunya 

Bahasa Jawa Mengalami “Komplikasi”?
Istilah basa dalam bahasa Jawa, sama dengan bahasa dalam bahasa Indonesia, language dalam bahasa Inggris, taal dalam bahasa Belanda, sprache dalam bahasa Jerman, lughatun dalam bahasa Arab dan bhasa dalam bahasa Sansekerta. Istilah-istilah tersebut memiliki aspek masing-masing yang tidak bisa disamakan bergantung siapa yang menggunakan, bagaimana penggunaan bahasanya, bagaimana konteksnya dan bagaimana kultur kebudayaannya. Semisal, bahasa Jawa tentu berbeda dengan bahasa lain, baik dalam segi pengucapan, penulisan maupun maknanya. Namun pada intinya fungsi bahasa –bahasa apapun- pada dasarnya adalah sama, yakni sebagai media komunikasi antara pihak satu dengan lainnya. 
Crystall, 1997; Wedhawati dan Laginem, 1981; Sudaryanto (ed.), 1991 menyatakan bawa bahasa Jawa merupakan rumpun bahasa Austonesia. Dalam makalah Djatmika yang berjudul Upaya Bahasa Jawa Mengakomodasi Tulisan Ilmiah: Tanda-Tanda Impotensi atau Komplikasi? diuraikan bahwa Crystall lebih lanjut menjelaskan jumlah penutur bahasa Jawa diperkirakan sekitar 75 juta orang yang menyebar di pulau Jawa dan daerah lain di Indonesia, serta beberapa daerah di luar Indonesia seperti Malaysia, Suriname dan Kaledonia Baru. Daerah sebaran penutur yang sangat luas ini menyebabkan konsekuensi dari munculnya berbagai dialek geografis. Sementara itu, dilihat dari beranekanya lapisan masyarakat yang memakainya, sangat menonjol pula adanya perbedaan pemakaian yang dipengaruhi oleh usia pemakai. Perbedaan yang menonjol ini tampak jelas manakala mereka menerapkan unggah-ungguh di dalam berbahasa Jawa. Salah satu bentuk unggah-ungguh yang sangat penting adalah pemilihan ragam tingkat Bahasa Jawa (ngoko, krama madya, krama inggil) di dalam berkomunikasi yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya kelas sosial, usia, jenis kelamin, topik pembicaraan, dan lain sebagainya. Lebih jauh, perbedaan yang menonjol itu sesekali diperlemah; akan tetapi, sesekali justru diperkuat manakala Bahasa Jawa dipergunakan oleh dua generasi usia, tua dan muda, di dalam konteks profesi, lingkungan sosial, pokok pembicaraan, dan tujuan tertentu. Di dalam konteks yang tidak memprasyaratkan perbedaan tua-muda di dalam berbahasa, maka perbedaan ini diperlemah, misalnya di dalam karya sastra, berceramah di muka umum, mengurai gagasan di majalah atau surat kabar, dan sejenisnya. Adapun di dalam konteks yang memprasyaratkan perbedaan tua-muda dalam berbahasa maka perbedaan tersebut akan diperkuat, misalnya dalam lembaga pendidikan tertentu, di lembaga kenegaraan tertentu, dan di dalam keluarga tertentu (Sudaryanto, 1991)
Kaitannya dengan perkembangan bahasa Jawa, kita tidak bisa menutup mata. Banyak wacana tulisan atau lisan yang bisa ditemukan, pada intinya ”memojokkan”. Meski apa yang diungkapkan itu boleh jadi benar adanya. Tidak mungkin bisa muncul wacana ”miring” tentang bahasa Jawa jika tidak ada gejala awalnya. Kita tidak perlu mencari siapa yang harus disalahkan, akan tetapi berusaha bagaimana mencari solusi ditengah ”komplikasinya: bahasa ini. Banyak yang mengatakan bahwasanya bahasa Jawa itu “jalan’ akan tetapi jalan di tempat, tidak berkembang, stagnan, tidak produktif, tidak mampu mengakomodasi tulisan ilmiah karena ”miskinnya” kosakata –banyak mengadopsi istilah-istilah asing dan tidak mampu memunculkan istilah-istilah baru dalam mengakomodir perkembangan jaman dan iptek-, terancam punah, dan “mati suri”. Ada dan “hidupnya” hanya sekadar sebagai pelengkap. Pelengkap kebudayaan lokal yang mau tidak mau harus “dihidupkan” karena “tuntutan” untuk nguri-nguri atau melestarikannya. Sayangnya di balik geliat yang meresponsi ”culture will” melanggengkan bahasa Jawa sebagai wacana publik, ada realitas menyedihkan dalam pengembangannya.
Ada yang menganalogikan bahasa Jawa itu seperti hutan lebat akan tetapi pohon-pohonnya dirusak dan ditebangi. Isi hutan ”dicabik-cabik” dan ”dikoyak-koyak”. Akibatnya menjadi hutan gundul. Tanahnya kering dan sedikit air yang bisa mengalir karena akar pohon yang mampu menahan mata air terus berkurang jumlahnya. Bahasa Jawa besar akan tetapi mengerdil. Artinya apa? Bahasa Jawa merupakan bagian dari kebudayaan Jawa yang memiliki jumlah penutur paling banyak dari penutur bahasa daerah lain, akan tetapi banyak yang mulai meninggalkan identitas “kejawaannya”. Sedikit demi sedikit, dengan sadar atau tidak, dengan sengaja atau tidak disengaja bahasa Jawa mulai di-delete dari kehidupan masyarakatnya. Masyarakat penuturnya lebih tertarik dengan ”gerbong” bahasa lain. Masyarakat merasa lebih bangga, bergengsi, dan berkelas jika menggunakan bahasa asing dalam kesehariannya. Alasanya klise, mengikuti perkembangan jaman, guna menaikkan prestise, agar dikatakan gaul, funky, dan alasan lainnya. Sehingga tidak heran bahkan malah menjadi wajar jika anak-anak jaman sekarang tingkah lakunya dengan orang tua tidak / kurang menghormati, tidak / kurang memiliki sopan-santun, dan tidak / kurang memiliki unggah-ungguh basa. Contohnya ketika dipanggil menjawab “hem!” dengan nada tinggi/ketus, ketika dinasehati baik-baik justru misuh-misuh. Hal ini bisa terjadi karena mereka tidak menerapkan undha-usuk (speech levels) dalam berkata. Mereka tidak memperhatikan siapa yang diajak/mengajak berbicara. 
”Komplikasi” lain barangkali kita pernah bahkan sering mendengar masyarakat menuturkan bahasa Jawa dengan salah kaprah. ”Kesalahkaprahan” itu tidak disadari sebagai kekeliruan akan tetapi dianggap wajar karena biasa dipergunakan dalam tuturan sehari-hari. Semisal kata sedanten, yang seharusnya diucapkan sedaya ”semua”, kata ajros / wedos yang seharusnya diucapkan ajrih ”takut”. Kemudian, kata lalos untuk menggantikan kata lali yang betul pemilihan katanya adalah kata kesupen ”lupa”, serta contoh penggunaan kata-kata lain yang mengalami salah kaprah. 
Selain itu bahasa Jawa juga dianggap mengalami ”kemiskinan” kosakata sehingga pengguna (user) mengalami kesulitan dalam mengakomodir ide ke dalam bentuk wacana tulisan maupun lisan. Ini tidak terlepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyaknya istilah asing muncul menyebabkan bahasa Jawa harus ”beradaptasi”. Hal ini bisa dikatakan bahwasanya bahasa Jawa bersifatnya fleksibel/lentur, artinya tidak menutup diri dengan perkembangan jaman kaitannya dengan istilah-istilah modern. Namun di sisi lain ada yang mengatakan bahwa proses menerima istilah-istilah asing itu sebagai ”ketidakperkasaan” bahasa Jawa. Jelas tidak mungkin, malah terlihat lucu jika kita mengganti istilah magic jar dengan kata kendhil murub, lantaran ingin menunjukkan aspek kejawaan. Atau, berusaha menciptakan kosakata ”khas” Jawa dari kata serapan asing semisal kata handphone, komputer, laptop, kentucky, tape recorder, printer, dan kata lainnya. Tapi , bagaimana bisa? 
Bahasa Jawa yang dinilai kurang dinamis dalam hal perkembangan kosa kata -terutama kosakata yang bersifat ilmiah dan menyangkut teknologi- tidak terlepas dari keberadaan masyarakatnya. Sebagai masyarakat yang kurang produktif, penutur bahasa Jawa cenderung mengimpor sebagian besar peristilahan yang ada di dalam bidang-bidang tersebut. Akibatnya, wajar jika para penutur bahasa Jawa banyak yang mencampur-adukkan dengan istilah-istilah dari bahasa asing.

Penutup
Solusi yang bisa diambil untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi ”komplikasi” tersebut diperlukan upaya keras dan proses waktu yang tidak singkat. Bahasa Jawa yang mulai ”ditinggalkan” perlu dikembangkan lagi. Khususnya bagi generasi muda yang mulai ”emoh” dan ”eneg” dengan bahasa Jawa. Perlu upaya untuk menumbuhkan kesadaran dan membangun mitos bahwa mempelajari dan menggunakan bahasa Jawa itu tidak kalah kerennya dengan mempelajari bahasa asing. Jadi, mempelajari dan mempergunakannya bukanlah hal yang ngisin-isini, katrok, ataupun primitif. Tidak ada rugi dan jeleknya jika mempergunakan bahasa itu, karena sejatinya mengandung pelajaran tatakrama, unggah-ungguh, dan tepa selira yang bisa menimbulkan budi pekerti luhur. 
Mari bersama kita ”obati”, ”komplikasi” bahasa ibu kita. Dengan harapan bahasa Jawa bisa berkembang eksis dan tumbuh subur lestari di kemudian hari. Nuwun.